Ada yang Hilang dari Euforia Piala Dunia 2026

Trofi Piala Dunia.
(Sumber gambar: edition.cnn.com)

Pada Kamis (12/6/2026) waktu setempat, Stadion Azteca di Mexico City menyala. Shakira melantunkan Dai Dai di hadapan 80.000 pasang mata, papel picado (seni gunting kertas tradisional Meksiko) bertebaran di seluruh penjuru lapangan, dan kembang api membelah langit di atas panggung sejarah yang pernah menyaksikan final 1970 dan 1986. Dunia menyambut Piala Dunia 2026 sebagai edisi paling ambisius sepanjang sejarah, dengan 48 negara peserta dan 104 pertandingan yang tersebar di tiga negara tuan rumah. Secara kasat mata, ini adalah perayaan terbesar yang pernah ada.

Namun di Indonesia, gegap gempita itu terasa seperti menyaksikan pesta orang lain dari balik pagar.

Bukan berarti tidak ada yang menonton. Bukan berarti tidak ada warung kopi yang menampilkannya di televisi, atau grup WhatsApp yang berbagi jadwal pertandingan. Sebab, ada sesuatu yang berbeda kali ini; sebuah jarak emosional yang sulit diukur secara statistik dan terasa nyata dalam percakapan sehari-hari. Antusiasme itu ada, tapi seperti bara yang setengah menyala. Dan ada alasan-alasan yang sangat konkret mengapa demikian.

Ketika Perut Kosong, Bola Terasa Jauh

Hal pertama yang perlu diakui adalah kondisi ekonomi. Kebijakan efisiensi anggaran besar-besaran yang digulirkan pemerintah sejak tahun anggaran 2026 menorehkan dampak signifikan di akar rumput, ketika "efisiensi" bagi negara diterjemahkan menjadi "kehilangan mata pencaharian" bagi rakyat kecil. Seniman, pekerja informal, hingga ojek online; semua merasakan tekanan yang sama [1].

Angkanya berbicara sendiri. Data BPS Februari 2026 mencatat pengangguran Indonesia mencapai 7,24 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,68 persen, sementara pertumbuhan pencari kerja masih melampaui kemampuan industri membuka lapangan kerja baru [2]. Di tengah kondisi seperti ini, menonton bola pun menjadi kurang menghibur.

Pengamat ekonomi LPEM UI, Teuku Riefky, memperingatkan bahwa daya beli pada 2026 kemungkinan stagnan atau makin melemah. Penyebab utamanya adalah kemandekan upah riil yang sudah terjadi sejak 2017: ekonomi tumbuh 4-5 persen, tapi upah riil tidak pernah menyentuh 1 persen [3]. Ketika kelas menengah terjepit dan daya beli melemah, euforia kolektif atas sebuah turnamen sepak bola menjadi barang mewah yang tidak semua orang mampu beli; bukan harga untuk membeli tiket pertandingannya, melainkan energi emosionalnya.

Masyarakat yang lelah secara ekonomi cenderung menarik diri dari kegembiraan publik. Piala Dunia butuh penonton yang punya ruang batin untuk bersemangat.

TVRI dan Masalah yang Tidak Seharusnya Ada

Piala Dunia sebelumnya di Indonesia selalu identik dengan satu hal: layar kaca yang ramai. RCTI, SCTV, Indosiar; nama-nama itu melekat pada memori kolektif penonton Indonesia yang duduk begadang bersama sambil ditemani semangkuk mi instan atau cemilan lainnya. Kali ini berbeda. Tidak ada stasiun TV swasta yang menyiarkan Piala Dunia 2026 secara resmi. Hak siar eksklusif jatuh ke tangan TVRI, televisi pemerintah yang selama bertahun-tahun identik dengan berita resmi dan acara kebudayaan [4].

Secara prinsip, keputusan ini terdengar demokratis. Penunjukan TVRI sebagai pemegang hak siar eksklusif bertujuan mendemokratisasi akses; berbeda dengan edisi sebelumnya yang sering melibatkan stasiun swasta berbayar, kali ini seluruh laga gratis. Nilai hak siar mencapai Rp1,3 triliun, ditanggung pemerintah. Semua pertandingan, tanpa biaya langganan [5].

Namun niat baik dan eksekusi yang baik adalah dua hal yang berbeda. Masalahnya bukan apakah TVRI berhak memegang hak siar, tentu boleh. Masalahnya adalah aksesibilitas teknis yang menjadi hambatan bagi jutaan penonton. Bagi pengguna televisi digital, akses siaran bisa dilakukan dengan memindai ulang kanal televisi; langkah penting karena masih banyak perangkat televisi yang belum menampilkan saluran TVRI akibat sebagian masyarakat belum melakukan proses pencarian ulang kanal digital. Proses teknis ini terdengar sederhana, tetapi bagi banyak keluarga di daerah-daerah luar Jakarta, ini adalah hambatan nyata yang tidak pernah mereka hadapi ketika menonton Piala Dunia di stasiun TV swasta [6].

Kontroversi Global

Ada lapisan lain yang membuat Piala Dunia 2026 terasa berbeda, yaitu dari dinamika global yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kedekatan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu sorotan tajam menjelang turnamen ini. Infantino bahkan menyerahkan penghargaan bernama "FIFA Peace Prize" kepada sang presiden ketika acara undian Piala Dunia berlangsung; padahal berdasarkan statutanya sendiri, FIFA seharusnya bersikap netral secara politik [7].

Di Indonesia, isu ini tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan sentimen yang sudah lama tumbuh terhadap Amerika Serikat; dari kebijakan luar negerinya, sampai kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih menjadi kepedulian besar masyarakat Indonesia. Ketika turnamen ini dianggap terlalu bermuatan politik, ketika tuan rumah utamanya adalah negara yang kebijakannya sering kontroversial, maka antusiasme pun ikut tereduksi oleh beban moral yang tidak mudah dikesampingkan.

Sepak bola boleh saja mengklaim dirinya "beyond politics," tetapi penonton Indonesia sudah cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak ada olahraga yang benar-benar steril dari konteks dunia yang lebih luas.

Pesta Sepak Bola Tetap Berjalan, tapi dengan Volume Lebih Rendah

Semua ini tidak berarti Piala Dunia 2026 akan berlalu tanpa jejak di Indonesia. Erick Thohir bahkan menyerukan nonton bareng (nobar) dan meminta kepala daerah turun tangan, meyakini bahwa ribuan warga yang berkumpul dalam kegiatan nobar bisa mendatangkan keuntungan bagi pelaku usaha kecil. Warung kopi akan tetap ramai, setidaknya untuk pertandingan-pertandingan besar. Final pun tetap akan ditonton jutaan orang [8].

Meskipun begitu, ada perbedaan antara menonton karena tidak ada pilihan lain dan menonton dengan antusiasme yang meluap. Indonesia pada Piala Dunia 2026 mungkin ada di posisi pertama; hadir, tapi tidak sepenuhnya di sana.

Itulah yang sesungguhnya hilang: kegembiraan kolektif. Kegembiraan yang tidak perlu diusahakan, tidak perlu dipromosikan oleh menteri, tidak perlu diingatkan melalui nobar massal yang dikoordinasi dari atas. Kegembiraan yang datang sendiri, seperti yang pernah terjadi dulu; ketika perekonomian masih baik-baik saja, ketika Piala Dunia di televisi bisa langsung disaksikan tanpa perlu memindai ulang kanal, dan ketika kondisi politik tidak sekompleks sekarang.


_________________
Sumber:







Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.