Miles Morales: Spider-Man

  • January 06, 2020
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Pada awal Desember 2018 lalu, film animasi Spider-Man into the Spider-verse dirilis. Itu adalah film tentang Spider-Man, tapi dengan karakter utama yang berbeda. Jika sebelumnya Peter Parker yang berada di balik topeng, kini karakter tersebut diisi oleh Miles Morales, seorang remaja Afro-Amerika keturunan Meksiko.

Saya tidak akan lebih jauh membahas film tersebut. Tapi karena adanya film itu, saya jadi ingin lebih jauh mengetahuinya dari medium lain. Jadi, setelah membaca novel Spider-Man: Forever Young, hasrat ingin membaca serial yang lain pun muncul. Setelah mencari referensi judul serial Spider-Man dalam bentuk novel di internet, saya menemukan judul pas yang menceritakan kehidupan Miles Morales, yaitu Miles Morales: Spider-Man karya Jason Reynolds.

***

Seperti pada karakter Spider-Man yang saya baca dan tonton, karakter Miles Morales sebagai seorang remaja enam belas tahun harus menghadapi kehidupan yang berat, sehingga ia harus bisa bertahan hidup dan belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah ia rasakan. Tema yang ingin dimunculkan pun juga sama, yaitu tentang kekuatan dan tanggung jawab. Selain itu, Miles juga mencoba untuk mencari jati dirinya dan melawan semua anggapan-anggapan negatif dari orang lain tentang identitasnya.

Saya berpendapat bahwa Reynolds menulis novel debut tentang Miles Morales dengan bagus sehingga dapat diterima oleh pembaca-pembaca baru. Ia dengan rapi menceritakan latar belakang dan kekuatan unik yang dimiliki Miles mengikuti cerita original Spider-Man, tapi tak sepenuhnya seperti Peter Parker, karena Miles memang berada dimensi yang lain.

Di novel ini, Miles harus berurusan dengan kenyataan yang dipilihnya antara menjadi Spider-Man atau fokus menjalani kehidupan seperti remaja biasa pada umumnya. Karena terkadang, ketika ia mencoba untuk menyeimbangkan dua peran tersebut, salah satunya harus dikorbankan. Contohnya saja seperti pada kejadian ketika ia mendapat peringatan dari sekolah bahwa beasiswanya akan dicabut jika ia tidak mengikuti peraturan sekolah dengan baik karena ia suka keluar kelas ketika pelajaran berlangsung sebagai Spider-Man untuk menolong orang-orang. Selain itu, dalam masalah asmara, ia sulit untuk mengekspresikan perasaannya kepada perempuan yang ia suka. Ia juga sering mengamati keadaan daerah rumahnya yang dirasa tak adil karena kebanyakan tetangganya di sana adalah orang-orang yang kekurangan dari segi materi dan pendidikan. Oleh karena itu, saya merasa bahwa Reynolds dengan piawai membentuk kejadian-kejadian rumit bagi jalan cerita untuk Miles, sehingga sebagai remaja yang pandai, ia bisa mengatasi segala permasalahan yang ada dan membuat semua yang terjadi padanya menjadi masuk akal.

Peran keluarga yang ditunjukkan di novel ini sangat intens, sehingga Miles sering menerima masukan-masukan dari kedua orang tuanya dalam mencari jalan keluar di setiap masalah. Meskipun hubungan harmonis yang dimiliki Miles dengan orang tuanya, ia memiliki hubungan rumit dengan pamannya dan bayang-bayang ayahnya yang pernah memiliki catatan kriminal saat masih remaja. Dari kejadian tersebut, Miles suka merasa galau ketika ada keputusan sulit yang harus ia pilih. Ia takut terjerumus ke jalan sesat dan tak pantas menjadi Spider-Man.

Untungnya, perjalanan hidup Miles didukung oleh karakter-karakter yang berani bersuara untuk memberikannya saran dan arah hidup. Karakter-karakter tersebut adalah Rio dan Jefferson sebagai orang tua Miles serta Ganke Lee sebagai sahabatnya.

Rio dan Jefferson adalah orang tua yang mengekspresikan rasa sayangnya dengan cara yang berbeda. Jika Rio adalah tipe ibu yang lembut dalam tutur kata dan suka memanjakan Miles, Jefferson adalah tipe ayah yang tegas dan suka menceramahi Miles tentang masa depannya supaya ia bisa berhasil dalam hidup dan tak ikut terjerumus ke hal-hal negatif. Selain itu, Ganke Lee adalah tipe sahabat yang suka membuat suasana menjadi seru, yaitu dengan pembahasan tentang puisi Korea, saran-saran romantis yang harus dilakukan Miles untuk mendekati perempuan yang ia suka, mengingatkannya terhadap tanggung jawab sebagai Spider-Man, dan juga tentang bau badan. Di samping suasana kekeluargaan dan persahabatan yang asyik dan hangat, ternyata Miles menyimpan rahasia yang begitu menyesakkan dada. Kematian pamannya, Aaron, akibat perkelahian dengan Miles, sering membuat pikirannya tak tenang sampai terbawa mimpi.

Novel ini pun diperluas dengan kehadiran karakter-karakter lain yang membuat Miles mendapatkan sudut pandang baru dalam hidup. Sebut saja Ms. Blaufuss sebagai guru pelajaran Bahasa Inggrisnya yang sering memberinya masukan terhadap tugas yang sedang Miles kerjakan dan Mr. Chamberlain sebagai guru pelajaran Sejarah yang memiliki sikap aneh dan rasa tak suka kepada Miles. Selain itu, peran Alicia sebagai perempuan yang disukai Miles sekaligus teman sekelas, tak bosan-bosannya untuk menyemangati Miles supaya ia lebih bisa mengekspresikan dirinya ketika masalah sedang terjadi dan membuat Miles menemukan kebenaran terhadap sikap Mr. Chamberlain yang sering dirasa tak adil terhadap para siswa yang berkulit hitam.

Dengan segala macam karakter dan konflik yang terjadi, membuat aksi-aksi Spider-Man di novel ini jadi saling mengisi dan terhubung satu sama lain. Kita jadi bisa merasakan momen-momen ketika Miles menjadi remaja biasa dan menjadi Spider-Man. Selain itu, saya rasa Reynolds berhasil menceritakan gerakan-gerakan saat Spider-Man sedang berkelahi melawan musuhnya dan saat ia melayang melintasi gedung-gedung menggunakan jaring laba-labanya seperti adegan dalam film.

Lebih lanjut, isu-isu yang ditampilkan di sini sebenarnya bisa dibilang serius, seperti isu rasisme dan kesenjangan sosial. Tapi, karena dibawakan dengan deskripsi penceritaan yang ringan dan mudah dimengerti serta ditampilkan dalam bentuk fantasi, jadi isu-isu tersebut kemungkinan besar bisa dipahami bagi para remaja.

You Might Also Like

0 comments