Proses Pendewasaan dalam 'Spider-Man: Brand New Day'

Poster Spider-Man: Brand New Day.
(Sumber gambar: imdb.com)

Sejak pertama kali diciptakan oleh Stan Lee dan Steve Ditko pada 1962, ciri khas Spider-Man tidak pernah hanya berfokus pada kostum bertopeng atau aksi pertarungan sengit di atas gedung pencakar langit. Sebab, pada hakikatnya, kisah Peter Parker adalah tentang proses pendewasaan; sebuah pengalaman transformatif yang, bagi sebagian besar manusia, kerap kali menakutkan. Suatu pagi, seorang remaja terbangun dan mendapati tubuhnya berubah, melakukan hal-hal di luar kebiasaan, dan ia terpaksa memahami apa yang harus dilakukan dengan kemampuan istimewanya tersebut.

Melalui Spider-Man: Brand New Day, film keempat dalam franchise Spider-Man di Marvel Cinematic Universe (MCU), makna pendewasaan tersebut mencapai puncaknya. Jika Homecoming (2017) berfokus pada sosok remaja yang ingin mendapatkan validasi dari aksi heroiknya, Far From Home (2019) tentang mengatasi rasa duka serta pencarian sosok mentor, dan No Way Home (2021) menuntut keberanian dalam menghadapi konsekuensi atas keputusan pribadi, maka Brand New Day hadir sebagai refleksi yang jauh lebih "gelap" dan emosional: penerimaan atas identitas, kekuatan, dan kesendirian.

Isolasi Diri dan Dilupakan

Dikelilingi banyak layar komputer dan teknologi canggih, Peter Parker menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar tersebut untuk mengembangkan dan meneliti kekuatan laba-labanya; selain sebagai tempat mengisolasi diri.
(Sumber gambar: imdb.com)

Spider-Man: Brand New Day mengambil latar beberapa tahun setelah akhir No Way Home yang tragis. Demi menyelamatkan tatanan multiverse dari kehancuran total, Peter Parker meminta Doctor Strange menghapus seluruh memori manusia di dunia supaya mereka lupa bahwa Peter adalah Spider-Man. Hasilnya adalah sebuah eksistensi yang asing dan sunyi. Bibi May telah meninggal, sementara dua orang terdekatnya (MJ dan Ned Leeds) kini ikut lupa terhadap Peter dan melanjutkan studi di MIT. Peter pun hanya bisa memantau kehidupan mereka berdua melalui unggahan di media sosial.

Spider-Man dan The Punisher dalam salah satu adegan di dalam film.
(Sumber gambar: imdb.com)

Di New York, Spider-Man kembali dipuja sebagai sosok pahlawan. Yang berbeda adalah kini ia berkolaborasi dengan Detektif Jean DeWolff dari NYPD dan sesekali berinteraksi dengan Frank Castle alias The Punisher, yang menghadirkan dinamika pertemanan yang unik: sifat empati Peter yang selalu menjaga moralnya untuk menyelamatkan orang-orang tanpa pandang bulu, berbenturan langsung dengan kebrutalan Frank yang kasar dan tak peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Namun, di balik topeng laba-laba itu, tidak ada lagi kehidupan pribadi. Peter hidup sebagai sosok yang sengaja mengisolasi diri dari interaksi sosial dan menekan rapat-rapat emosi dan kesepiannya.

Kisah Odysseus dan Tema Personal

Peter Parker sedang menyendiri dan mengamati layar ponselnya.
(Sumber gambar: forbes.com)

Sangat menarik mengetahui bahwa tiga aktor utamanya (Tom Holland, Jon Bernthal, dan Zendaya) membintangi karya Christopher Nolan terbaru, The Odyssey (film yang belum saya tonton ketika menulis ulasan ini, tapi pernah membaca kisahnya beberapa tahun silam). Meskipun kedua film ini berada di spektrum sinematik yang berbeda, ada benang merah yang menyatukan keduanya. Baik Odysseus maupun Peter Parker adalah cerminan dari tradisi pahlawan klasik: sosok kesepian yang babak belur oleh masa lalu, terisolasi akibat tindakan mereka demi melindungi orang-orang terkasih, dan berjuang menembus bahaya demi kembali ke "rumah". Odysseus adalah Spider-Man bagi Yunani Kuno.

Sosok Jean Grey sebagai tokoh antagonis di film ini.
(Sumber gambar: imdb.com)

Di tengah kesendirian itu, muncul ancaman baru di New York. Sebuah entitas misterius yang mampu berpindah dari satu tubuh manusia ke tubuh yang lain dan menargetkan Department of Damage Control (DODC); organisasi pemerintah yang dipimpin Bill Metzger yang bertujuan mengontrol energi destruktif. Entitas tersebut ternyata adalah Jean Grey, gadis dengan kemampuan telepati dan telekinesis yang dipenuhi amarah karena kakaknya tiba-tiba diculik oleh pasukan DODC ketika mereka berdua sedang duduk di taman; dan ia pun ingin membebaskan sang kakak dari sana.

Lebih lanjut, keunggulan utama Brand New Day terletak pada keputusannya untuk menghindari tema klise seperti sosok penjahat yang akan membuat dunia hancur. Tidak ada lubang hitam di langit atau ancaman kemusnahan galaksi yang kerap membuat film pahlawan super modern terasa berjarak. Justru karena film ini bersifat personal dan intim, maka sisi emosional dan ketegangan jalan ceritanya terasa jauh lebih besar.

Ketidakstabilan Emosi dan Kehadiran Tokoh-Tokoh Baru

Akibat kadar hormon yang tidak stabil, Peter tak menyadari bahwa tubuhnya menghasilkan jaring laba-laba organik dari pergelangan tangannya.
(Sumber gambar: facebook.com/61551386581796)

Secara visual dan suasana, Brand New Day memberikan perubahan yang cukup drastis. Humor "receh" dan chemistry kocak antara Peter, Ned, dan MJ yang menjadi ciri khas pada tiga film sebelumnya (sebagian besar) telah sirna, digantikan oleh emosi yang jauh lebih berat. Perubahan fisik Peter (ketika kadar hormon arachnid-nya melonjak hingga memberikan kemampuan tembakan jaring laba-laba organik dari pergelangan tangan) menjadi simbolisasi biologis atas transisi tubuh terhadap proses pendewasaan yang terasa tidak nyaman.

Di sisi lain, film ini tak sepenuhnya bebas dari jalan cerita berkesinambungan MCU. Sebab, ada tokoh-tokoh seperti Frank Castle (The Punisher) dan Yelena Belova (Black Widow) yang terkadang terasa menuntut penonton supaya menyaksikan film atau serial TV dari MCU sebelumnya, sehingga kita bisa memahami latar belakang kehadiran mereka. Namun, penampilan dari tokoh-tokoh tersebut tidak menghasilkan "lubang" pada cerita sehingga kita tetap bisa menikmatinya.

Runtuhnya Mantra Amnesia Melalui Ikatan Persahabatan

Jabat tangan rahasia antara Peter Parker dan Ned Leeds yang diambil dari Spider-Man: Homecoming.
(Sumber gambar: pinterest.com)

Puncak kekuatan emosional film ini, menurut saya, berasal pada dekonstruksi terhadap plot pahlawan super konvensional. Ketika Jean Grey mengontrol pikiran MJ sehingga MJ mencium Peter (yang sebagian wajahnya masih tertutup topeng Spider-Man) di atas atap gedung, Peter pun terharu dan berpikir bahwa kekuatan cinta sejati (true love's kiss) mampu meruntuhkan mantra pembersih ingatan milik Doctor Strange. Namun, itu hanyalah intrik dari Jean Grey untuk mengejek kesepian yang Peter rasakan. Kenyataan bahwa akhirnya MJ memandangnya sebagai orang asing yang tak dikenal, menjadi salah satu momen tragis dalam film ini.

Akan tetapi, titik balik terjadi di akhir cerita. Bukan ikatan asmara yang mampu mengakhiri mantra amnesia tersebut, melainkan kekuatan persahabatan sejati.

Di sebuah kafe, Peter menghampiri Ned yang sedang duduk sendirian, lalu mengulurkan tangannya. Ketika mereka memperagakan jabat tangan rahasia (secret handshake) yang menjadi ciri khas persahabatan mereka sejak masa sekolah, raut wajah Ned perlahan berubah. Ned pun terlihat sadar bahwa orang di depannya bukanlah orang asing, melainkan sosok yang selama ini dekat dengannya.

"Oh, Peter!" seru Ned akhirnya, seperti kenangan lama itu muncul kembali.

***

Spider-Man: Brand New Day adalah film yang berhasil menggambarkan proses Peter Parker menuju kedewasaan dan mengemban tanggung jawab besar sebagai Spider-Man. Film ini pun membuat saya bertanya: "Apa yang harus kita lakukan dengan bakat istimewa yang kita miliki di dunia yang sering berusaha mengeksploitasinya?"

Apakah kita memilih bersembunyi di balik zona aman yang semu? Atau berani menerima pahit-manisnya identitas diri secara utuh? Melalui akting luar biasa Tom Holland dan arahan Destin Daniel Cretton, film ini membuktikan bahwa kisah pahlawan super masih memiliki jiwanya sendiri dan berani fokus pada kemanusiaan dalam diri tokoh-tokohnya. Sebuah film yang layak ditonton bagi fans Spider-Man atau penyuka film pahlawan super secara umum.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.