Panggung Sandiwara: Antara Gelak Tawa dan Air Mata Politik

Ilustrasi perdebatan politik yang sering muncul di televisi.
(Sumber gambar: freepik.com)

Saya pernah mendengar pernyataan dari seorang komedian bahwa penderitaan seseorang sering menjadi bahan lelucon bagi orang lain. Saya ingat betul, saat masih remaja, betapa kawan-kawan saya tertawa ngakak melihat saya tersungkur di lapangan bola karena gagal melakukan tendangan salto ala Tsubasa. Kaki saya lecet, tapi bagi mereka, itu adalah hiburan gratis di sore hari.

Beberapa waktu lalu, saya melihat kejadian serupa tetapi berbeda skala. Seorang pria perlente dengan setelan mahal mencoba melompati genangan air di trotoar Ciputat agar sepatunya tidak kotor. Sialnya, dia terpeleset dan mendarat dengan posisi yang sangat tidak elegan di kubangan cokelat itu. Saya yang tidak sengaja melihatnya dari atas motor berusaha keras menahan tawa. Ia segera berdiri, membetulkan jasnya dengan gerakan kaku, lalu berjalan tegak seolah-olah tanah yang ia injak tidak pernah mengkhianatinya.

Kalimat ini penting untuk kamu ingat: "Seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Ini adalah mekanisme pertahanan diri sejak zaman purba untuk menutupi rasa malu. Jika suatu hari kamu tanpa sengaja salah masuk ke toilet lawan jenis di sebuah mal, kamu mungkin akan keluar dengan wajah datar, berjalan cepat, dan bersikap seolah itu adalah kesalahan teknis logo yang dipasang di pintu toilet, bukan kelalaianmu. Orang-orang di sekitar mungkin tahu, tapi mereka berpura-pura tidak melihat, dan kamu pun selamat (setidaknya secara mental) berkat sandiwara kecil itu.

Di dunia panggung, kita mengenal istilah "farce"; sebuah situasi konyol, tidak logis, dan penuh kepura-puraan. Jika farce ini dipoles dengan retorika yang rapi, ia menjadi komedi kelas atas. Namun, jika ia ditampilkan dengan cara yang kasar dan tidak tepat, ia berubah menjadi tragedi.

Di Indonesia sekarang ini, jika kamu memiliki cita-cita menjadi penulis drama, kamu tidak akan pernah kehabisan ide. Sumur inspirasi kita adalah panggung politik nasional yang airnya meluap-luap setiap hari. Politik kita adalah mesin raksasa yang memproduksi farce tanpa henti. Cukup buka media sosial atau portal berita, dan kamu akan disuguhi tontonan ketika logika sering diletakkan di kursi belakang.

Mari kita amati panggung politik hari ini. Kita melihat bagaimana hukum kadang tampil seperti pesulap: bisa memunculkan atau melenyapkan kasus sesuai dengan arah angin koalisi. Misalnya, fenomena "bersih-bersih" lawan politik yang sering kali baru dilakukan saat figur tersebut sudah tidak lagi berada dalam lingkaran kekuasaan atau mulai berseberangan dengan arus besar.

Salah satu contoh nyata adalah riuhnya penanganan kasus-kasus lama yang tiba-tiba "dihidupkan" kembali. Kita bisa melihat bagaimana dinamika penegakan hukum sering beririsan dengan momentum politik, seperti pada kasus dugaan korupsi yang menyeret tokoh-tokoh besar saat peta koalisi menuju 2029 mulai digambar. Fenomena ini sering dinilai publik sebagai bentuk politisasi hukum atau legal warfare.

Di sisi lain, kita menyaksikan komedi dalam bentuk "kesetiaan yang cair." Politisi yang tahun lalu saling hujat di televisi, hari ini bisa duduk semeja, saling memuji, dan membicarakan masa depan bangsa seolah-olah caci maki mereka sebelumnya hanyalah naskah drama yang sudah basi. Mereka bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi perselisihan, persis seperti pria yang terpeleset di kubangan tadi.

Fenomena politik dinasti juga masih menjadi farce yang terus diproduksi. Meskipun banyak kritik mengalir, para pelakunya tetap berjalan tegak dengan narasi "hak warga negara," seolah-olah kekuasaan adalah warisan yang bisa dipindahtangankan di meja makan keluarga.

Lalu, apa yang harus kita lakukan di tengah kepungan situasi edan ini? Jika kamu tidak punya tujuan untuk menjadikannya karya seni atau bahan renungan, sebaiknya kamu menjaga kesehatan mental. Sebab, melihat politisi yang dulu bicara tentang etika kini justru menjadi pelindung bagi pelanggar etika adalah sebuah komedi yang bisa membuat dahimu berkerut permanen.

Pada akhirnya, panggung politik dewasa ini adalah pilihan bagi dirimu pribadi: apakah kamu ingin melihatnya sebagai tragedi yang menyedihkan atau komedi yang mengocok perut. Para aktornya akan terus bersikap "seolah-olah tidak terjadi apa-apa," tak peduli seberapa banyak "benjol" di kepala mereka atau seberapa kotor jas mereka karena terjatuh di kubangan janji-janji sendiri.

Semua itu kembali kepada dirimu. Di negeri ini, garis antara lelucon dan bencana memang sering kali setipis kertas suara.
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.