Manchester United berhasil mengalahkan Manchester City dengan skor 2-0 di Old Trafford, Sabtu (17/1/2026).
(Sumber gambar: x.com/ManUtd)
Saat ini, rasanya seperti Manchester United kembali hidup. Old Trafford bergemuruh, suasana penuh semangat, dan akhirnya saya bisa bernapas lega setelah kemenangan telak 2-0 atas Manchester City di derby Manchester. Sebagai suporter yang sudah lama menunggu momen seperti ini, saya benar-benar merinding melihat tim ini bermain dengan jiwa, semangat, dan identitas yang selama ini hilang.
Ketika peluit akhir berbunyi, euforia melanda seluruh stadion. Pemain-pemain yang sebelumnya tampak terbebani jersey MU, tiba-tiba berjalan ringan seperti melayang. Bagi kamu yang biasanya menonton sambil menutup muka dengan jari karena cemas, kini kita bisa mengangkat tangan penuh syukur. Bahkan Sir Alex Ferguson tersenyum puas dari bangku khusus direktur, menyaksikan Michael Carrick merayakan kemenangan besar ini. Ini adalah pertandingan pertama Carrick sebagai manajer sementara setelah Ruben Amorim dipecat, dan apa yang ia lakukan dalam waktu singkat benar-benar seperti sulap!
Carrick langsung mengubah banyak hal dengan pendekatan sederhana tetapi cerdas. Ia memilih formasi 4-2-3-1 yang memberi Bruno Fernandes kebebasan lebih di depan, memainkan kembali Harry Maguire di bek tengah setelah cedera, dan yang paling penting: mempercayai Kobbie Mainoo di lini tengah. Anak muda lokal ini langsung menunjukkan kelasnya. Pertahanan pun menjadi solid, lini tengah bertarung habis-habisan, dan serangan begitu cepat serta tajam hingga City beruntung hanya kebobolan dua gol. Lisandro Martinez bahkan mengatakan bahwa Carrick meminta kami memanfaatkan energi suporter, dan hari itu kami benar-benar melakukannya. Saat MU bersatu seperti ini di kandang, rasanya memang sulit dikalahkan.
Kemenangan ini bukan hanya tentang mendapatkan tiga poin penting. Ini adalah penampilan yang seru, penuh intensitas, dan mengingatkan kita pada "the Manchester United way" yang selama ini hilang sejak era Sir Alex berakhir. Gol-gol dari Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu lahir dari serangan balik cepat dan kerja tim yang luar biasa. Meski City tampil buruk dengan pertahanan yang compang-camping dan ada momen kontroversial (Dalot bisa saja terkena kartu merah), itu tidak mengurangi fakta bahwa Carrick berhasil membangkitkan tim hanya dalam tiga hari latihan.
Di sisi lain, saya juga harus jujur: saya ingat betul sensasi serupa saat Ole Gunnar Solskjaer membawa MU menang dramatis melawan PSG pada 2019. Saat itu rasanya "Ini dia, MU yang saya kenal telah kembali!" tapi akhirnya hanya menjadi harapan palsu. Louis van Gaal, Jose Mourinho, Erik ten Hag, bahkan Amorim (semuanya pernah menang atas City dan Liverpool), tapi setelah itu turun lagi ke performa medioker. Jadi, walaupun hati ini ingin langsung berteriak "Beri kontrak permanen ke Carrick sekarang juga!", kepala saya bilang "Sabar saja dulu".
Carrick sendiri bicara bijak pasca pertandingan. Ia mengatakan bahwa performa seperti ini harus jadi "versi normal", bukan cuma karena emosi derby. Konsistensi adalah kunci, dan tantangannya adalah mempertahankan standar tersebut di setiap laga ke depan. Saya setuju 100%. Jika Carrick bisa terus menunjukkan visi ini (memanfaatkan pemain akademi, bermain menyerang cepat, dan membangun rasa percaya diri tim) mungkin ia memang jawaban yang para suporter MU cari. Apalagi ia adalah legenda klub, pasti paham banget tekanan di MU, dan tidak suka basa-basi berlebihan.
Untuk sekarang, biarkan saya menikmati momen ini dulu. Setelah sering merasa tim ini seperti berada di performa yang tidak stabil, pada Sabtu kemarin rasanya saya seperti kembali ke masa depan yang cerah. Mari kita lihat apakah ini awal dari sesuatu yang besar, atau hanya satu hari indah lagi di antara banyak kekecewaan.

