Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S. Noer.
(Sumber gambar: goodreads.com)
Novel biografi Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S. Noer merupakan catatan perjalanan hidup Bacharuddin Jusuf Habibie dan potret utuh tentang bagaimana privilese serta tekad saling menguatkan untuk mewujudkan cita-cita besar. Rudy (panggilan kecilnya) lahir pada 25 Juni 1936 dari keluarga menengah ke atas di Pare-Pare. Namun, novel ini dengan jujur menunjukkan bahwa privilese saja tidak cukup; tekad yang tak tergoyahkanlah yang mengubahnya menjadi sosok B.J. Habibie, pencipta pesawat terbang pertama di Indonesia.
Privilese pertama yang dimiliki Rudy adalah latar belakang keluarga yang mendukung. Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, dan ibunya, R.A. Tuti Martini Puspowardojo, memberikan fondasi ekonomi dan intelektual yang kuat. Sejak kecil, Rudy sudah dikelilingi buku-buku berbahasa Belanda yang menjadi teman utamanya. Ia tidak tertarik bermain di luar, melainkan tenggelam dalam dunia pengetahuan. Meski ibunya sempat kesal dan memaksanya berinteraksi dengan teman sebaya di daerah rumahnya, pola asuh orang tua yang penuh dorongan ini membentuk keyakinan diri Rudy. Ketika ayahnya meninggal dunia saat Rudy masih kecil dan ekonomi keluarga sempat merosot drastis, privilese itu tidak hilang sepenuhnya. Janji Alwi kepada istrinya tetap hidup: "Rudy harus disekolahkan di sekolah yang terbaik". Pengorbanan ibunya (Mami) yang rela bersusah payah menjadi fondasi utama perjalanan Rudy. Tanpa dukungan keluarga ini, sulit membayangkan seorang anak dari keluarga yang baru saja kehilangan tumpuan ekonomi bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas RWTH Aachen di Jerman.
Privilese kedua adalah kepintaran alami dan adanya kesempatan. Rudy memiliki kecerdasan di atas rata-rata yang membuatnya diterima di Jerman. Perjalanan ke Eropa itu sendiri merupakan privilese langka pada masa itu. Di pesawat yang ditumpanginya menuju Jerman, Rudy yang semula membenci “burung besi” karena trauma Perang Dunia II, justru berubah 180 derajat. Kekagumannya terhadap teknologi pesawat, ditambah kecintaannya pada Fisika, mengubah ketakutan menjadi obsesi. Di sinilah kisah dalam novel menunjukkan peran privilese: selain pintar sejak lahir, Rudy juga diberi kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas. Banyak anak sebayanya di Indonesia saat itu tidak pernah mendapat kesempatan semacam itu.
Namun, Gina dengan piawai menekankan bahwa "Privilese tanpa tekad hanyalah peluang yang terbuang". Rudy sendiri tidak suka disebut "genius". Ia lebih bangga disebut pekerja keras yang setia; setia pada cita-cita dan setia pada cinta. Baginya, kata "mimpi" terlalu ringan dan mengawang; ia lebih memilih "cita-cita" karena kata itu menjejak di tanah dan menuntut kerja nyata. Ketika cita-citanya membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia ditertawakan banyak orang, Rudy tidak goyah. Ia memegang teguh amanah almarhum ayahnya dan dukungan ibunya. Dukungan sahabat-sahabat serta cinta sejatinya, Ainun, juga menjadi bahan bakar. Bahkan, ketika harus hidup secara mandiri di Bandung dan kemudian ke Jerman, Rudy membentuk identitas yang kokoh untuk menjalin relasi yang mendukung visinya.
Selain itu, tekad Rudy terlihat nyata pada perubahan sikapnya terhadap pesawat. Dari monster pembawa bom menjadi simbol kemajuan bangsa. Ia tidak menyerah meski ekonomi keluarga sedang merosot, meski cita-citanya menjadi bahan candaan, dan meski harus hidup jauh dari tanah air. Novel ini menggambarkan lika-liku hidup Rudy dan bagaimana ia tetap menjaga tekadnya agar terus menyala. Dukungan keluarga dan teman-teman memang ada, tapi yang menentukan adalah kesetiaannya pada cita-cita. Ia membuktikan bahwa orang pertama yang menciptakan pesawat terbang di Indonesia berasal dari perpaduan privilese yang dimanfaatkan sepenuhnya dengan kerja keras yang tak kenal lelah.
Novel yang diterbitkan tahun 2015 ini memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda Indonesia: privilese (baik berupa keluarga, pendidikan, atau kesempatan) adalah modal, bukan jaminan. Tanpa tekad yang kuat, modal itu bisa sia-sia. Rudy pun menunjukkan bahwa cita-cita harus dipegang seperti pohon yang kokoh sehingga tidak mudah roboh ketika ditiup angin. Ia juga mengingatkan bahwa di balik setiap visi besar selalu ada pengorbanan orang tua, dukungan sahabat, dan inspirasi dari tekad itu sendiri.
Di akhir perjalanan masa mudanya, Rudy menjadi visioner teknologi dan teladan bahwa siapa pun (dengan segala privilese dan keterbatasannya) bisa meraih cita-cita selama ia setia pada kerja keras dan visi yang jelas. Novel karya Gina S. Noer ini bisa menjadi ajakan bagi kita semua untuk melihat privilese yang kita miliki hari ini, lalu bertanya:
Sudah sekuat apa tekad kita untuk membuatnya jadi nyata?

