Manusia di Tengah Reruntuhan

Sumber gambar: goodreads.com

Ada yang berbeda dari cara Linda Christanty menulis. Ia memberitakan sekaligus menceritakan. Pada setiap laporan dan esainya, fakta bagaikan tubuh yang masih hangat, masih bernapas, dan masih menyimpan luka. Lantas, dari bukunya yang berjudul Seekor Burung Kecil Biru di Naha, kita diajak membaca dunia yang tidak mudah untuk ditatap, tetapi tidak mungkin pula untuk dipalingkan.

Dari tiga belas judul esai dan reportase yang tersaji dalam buku ini, Linda membawa kita menjelajahi berbagai titik di Asia, Eropa, dan Amerika; mengikuti jejak manusia yang hidup di balik berita besar: para penyintas, para perempuan, para orang tua, serta mereka yang namanya tidak pernah cukup besar untuk masuk halaman depan surat kabar. Di tangan Linda, mereka menjadi pusat cerita, bukan lagi pinggiran dari sejarah yang ditulis orang lain.

Perdamaian yang Tidak Murah

Salah satu tulisan paling berkesan dalam buku ini adalah "Berdamai dari Bawah", sebuah reportase tentang konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Konflik yang bagi generasi muda hari ini mungkin hanya berupa catatan kaki di buku sejarah, tetapi bagi mereka yang mengalaminya adalah luka yang tidak cukup diobati oleh selembar nota perdamaian.

Sejak Hasan Tiro mendeklarasikan perang kemerdekaan pada 4 Desember 1976, Aceh menjadi panggung penderitaan panjang. Daerah Operasi Militer (DOM) yang berlaku sejak 1990 mengubah kehidupan sehari-hari warga menjadi ketakutan yang konstan. Rumoh Geudong (sebuah rumah biasa yang berubah menjadi tempat interogasi dan penyiksaan) menjadi simbol betapa mudahnya kekuasaan mengubah ruang domestik menjadi neraka. Ketika rumah itu akhirnya dibakar pada Agustus 1998 untuk menghilangkan barang bukti, yang tersisa hanyalah beton dan ingatan yang tidak bisa ikut terbakar.

Perpecahan itu mudah dimulai, sulit diakhiri. Peperangan hanya menghasilkan dendam baru; dan dendam, ia tahu caranya untuk diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Yang Linda soroti bukan semata kronologi politik, melainkan bagaimana konflik meracuni sendi-sendi kepercayaan antarmanusia. Sentimen antara suku Aceh dan Jawa yang mengeras selama DOM lahir dari sejarah yang panjang dan kompleks: kedatangan kuli perkebunan di masa kolonial, program transmigrasi era Orde Baru yang dikaitkan dengan "Jawanisasi", hingga identifikasi TNI dengan etnis Jawa di mata GAM. Konflik pun tidak pernah sesederhana dua pihak yang berseteru; ia selalu membawa serta lapisan-lapisan luka yang menumpuk selama puluhan tahun.

Meskipun begitu, Linda tidak berhenti di sana. Ia menemukan, dan memilih untuk menceritakan, para perempuan yang menolak diam. Khatijah binti Amin yang pernah disiksa oleh TNI. Nurhaida yang menyaksikan kengerian di halaman Rumoh Geudong. Zubaidah dan Beniati (satu perempuan Aceh, satu perempuan Jawa) yang bergabung dalam Kelompok Perempuan Cinta Damai (KPCD). Mereka adalah perempuan-perempuan biasa yang memutuskan bahwa dendam bukan warisan yang ingin mereka tinggalkan untuk anak-anaknya.

KPCD bekerja dengan koperasi, pelatihan, dan desa-desa multietnis pascakonflik yang mereka sebut "desa cinta damai". Meskipun perdamaian antara GAM dan Pemerintah Indonesia sudah dideklarasikan di Helsinki, bagi mereka, perdamaian adalah sesuatu yang ditanam sedikit demi sedikit di ladang kepercayaan yang lama tandus. Inilah yang dimaksud dengan "berdamai dari bawah": perdamaian yang dimulai dari komunikasi di antara tetangga yang dulunya saling curiga.

Tua, Sendiri, dan Tetap Manusia

Jika "Berdamai dari Bawah" berbicara tentang luka kolektif bangsa, maka "Rumah bagi Mereka yang Tua" menyentuh luka yang lebih sunyi: bagaimana kita memperlakukan mereka yang perlahan kehilangan kemampuannya untuk mandiri. Linda menjelajahi hubungan yang rumit antara orang tua dan anak-anaknya yang dewasa, menanggalkan asumsi sederhana bahwa budaya "Timur" selalu lebih hangat dari budaya "Barat".

Ada anak yang menolak orang tuanya. Ada pula orang tua yang justru menginginkan anaknya pergi karena kemandirian adalah cara terakhir mereka untuk bermartabat. Hubungan manusia, tulis Linda, tidak bisa diterangkan dalam sebentuk pandangan umum. Lain ladang, lain belalang. Dan itulah salah satu kekuatan buku ini: ia menolak generalisasi yang sembarangan.

Nonfiksi yang Tidak Pernah Datar

Linda Christanty membuktikan bahwa nonfiksi (bila ditulis dengan kejujuran dan empati) bisa lebih menghantui dari fiksi terbaik sekalipun. Ia tidak membiarkan fakta berbicara sendiri dengan kering; ia hadir sebagai pencerita yang tahu ke mana harus mengarahkan pandang pembaca, tanpa harus menggurui.

Membaca Seekor Burung Kecil Biru di Naha adalah pengingat bahwa di balik setiap konflik besar, selalu ada manusia-manusia kecil yang berusaha bertahan, membangun kembali, dan memilih (dengan segala beratnya) untuk memaafkan. Bukan karena mereka lupa. Tetapi justru karena mereka ingat, dan mereka tidak ingin dunia yang sama terulang kembali.

Sebuah buku yang penting, dan lebih penting lagi: sebuah buku yang manusiawi.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.