Mati Ketawa ala Refotnasi

Mati Ketawa ala Refotnasi karya Emha Ainun Nadjib.
(Sumber gambar: caknun.com)

Membaca Mati Ketawa ala Refotnasi karya Emha Ainun Nadjib terasa seperti membuka kembali arsip batin bangsa yang hingga hari ini belum sepenuhnya selesai kita pahami. Saya memutuskan membaca buku ini ketika melihat kondisi politik Indonesia yang kian hari terasa makin suram; seakan berputar mundur ke pola-pola lama ala Orde Baru, padahal kalender sudah menunjukkan tahun 2026.

Lebih lanjut, buku ini mengajak pembaca menengok sisi-sisi Reformasi 1998 yang luput dari sorotan kamera. Kejatuhan Soeharto dan euforia perubahan ternyata menyisakan banyak ruang kosong yang tak pernah benar-benar kita isi. Cak Nun mengingatkan bahwa Indonesia sejatinya punya jalan keluar, asalkan mau jujur membaca kenyataan dan belajar dari kesalahan sendiri. Salah satu analogi yang menarik adalah perumpamaan politik sebagai pertandingan sepak bola: gawangnya tidak jelas, golnya abu-abu, dan penentunya sering kali bukan yang berlari di lapangan, melainkan mereka yang bermain di balik layar.

Kutipan seperti, “Pemerintah butuh rakyat untuk menjadi pemerintah, sementara rakyat tetap bisa hidup tanpa pemerintah,” terasa relevan sampai hari ini. Ia pun menegaskan posisi rakyat sebagai subjek utama, bukan hanya penonton atau objek kebijakan.

Menariknya, Cak Nun juga dengan tegas menjaga jarak dari politik praktis. Ia tidak tergoda jabatan, tidak berminat membangun partai, dan enggan dijadikan alat kepentingan kelompok mana pun. Pilihannya adalah tetap bersama rakyat: bershalawat, merawat persaudaraan, dan menumbuhkan kesadaran politik yang sehat (bahwa rakyat adalah “juragan”, sementara presiden dan aparat hanyalah pekerja yang digaji oleh uang rakyat).

Kritik sosialnya pun disampaikan dengan metafora yang kuat, seperti ketika ia menyebut pakaian nasional kita telah koyak oleh KKN, kebohongan politik, dan perampokan ekonomi, hingga membuat bangsa ini kehilangan rasa malu dan harga diri di mata dunia.

Dari buku ini, saya menarik tiga pelajaran penting. Pertama, Reformasi terlalu lama direduksi menjadi sekadar "menurunkan Soeharto" sebagai tujuan akhir. Ketika tujuan itu tercapai, kita justru bingung untuk melakukan langkah selanjutnya. Kedua, kita jarang sungguh-sungguh mempertanyakan siapa aktor di balik lengsernya Soeharto dan kepentingan apa yang bekerja di sana. Ketiga, bangsa ini masih kekurangan pemimpin yang benar-benar memahami "arena permainan", seperti tim sepak bola tanpa kapten yang mampu membaca strategi dan arah permainan.

Mati Ketawa ala Refotnasi merupakan buku yang lebih mirip cermin besar yang memaksa kita berkaca lebih lama, lebih jujur, dan lebih dewasa. Buku ini layak dibaca ulang, terutama ketika kita merasa Reformasi hanya tinggal slogan, sementara masalah lama terus berganti wajah.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.