Kebisingan dan Polusi Informasi di Media Sosial

Ilustrasi tentang seseorang yang lelah akibat keriuhan di media sosial.
(Sumber gambar: freepik.com)

Belakangan ini, saya sering memutar lagu-lagu dengan lirik bertema tentang kemanusiaan. Mungkin itu reaksi defensif saya terhadap lini masa media sosial yang riuh oleh amarah dan perdebatan yang seolah tak punya tombol "berhenti". Setiap kali saya membuka media sosial, ada saja narasi baru tentang pengkhianatan konstitusi, drama dinasti politik, hingga perseteruan antarkelompok yang saling lempar tagar. Ini bukan sekadar berita; ini adalah polusi bagi kewarasan kita.

Jika polusi udara di Jakarta merusak paru-paru dan membuat kita batuk-batuk, maka polusi informasi merusak cara kita berpikir dan bertindak. Ia adalah racun yang bekerja secara subliminal, mengendap di bawah sadar, dan memicu kecemasan tanpa kita undang. Polusi ini menguras energi mental kita sampai kita kehabisan ruang untuk memikirkan hal-hal yang benar-benar esensial bagi hidup kita sendiri.

Algoritma Amarah dan Monster Digital

Setiap hari kita disuguhi tontonan politikus yang berbicara seolah-olah mereka adalah pahlawan dalam drama kolosal, sementara di belakang layar, kesepakatan-kesepakatan gelap terjadi. Kita membaca komentar-komentar penuh kebencian dari akun-akun anonim yang tugasnya memang memecah belah. Kita terjebak pada pusaran informasi yang tidak hanya buruk, tapi juga sering kali hasil rekayasa atau manipulasi fakta demi kepentingan kekuasaan.

Lantas, adakah kabar baik di antara tumpukan sampah digital itu? Nyatanya, narasi tentang kolaborasi atau prestasi sering kalah seksi dibanding skandal. Kita secara naluriah lebih tertarik pada "kehancuran". Media sosial hari ini telah bertransformasi menjadi panggung ketika privasi dirobek dan kebencian dipanen demi klik dan tayangan.

Teknologi yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia, kini malah sering mengalienasi kita. Sama seperti monster dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, algoritma media sosial telah tumbuh melampaui kendali penciptanya. Di Indonesia, kita melihat bagaimana data pribadi warga bocor atau digunakan untuk memetakan sentimen politik demi memenangkan kontestasi dengan cara yang kurang elegan.

Mencari Suaka dalam Hening

Di tengah kepungan polusi pikiran ini, saya pernah membaca buku Desi Anwar berjudul Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi terasa seperti menemukan jendela yang baru dibuka di ruangan yang pengap. Selain mengkritik teknologi, ia juga mengajak kita untuk melakukan navigasi ulang terhadap cara kita berinteraksi dengan dunia luar yang semakin bising.

Dalam catatannya, ia mengingatkan bahwa di dunia yang menuntut kita untuk selalu "terhubung", kita justru sering kali kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Going offline bagi Desi bukan berarti membenci teknologi, melainkan keberanian untuk menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk berita politik yang melelahkan demi menghargai momen-momen kecil yang nyata, seperti aroma kopi di pagi hari atau tenangnya langit sore.

Menyepi dari distraksi digital adalah cara kita untuk merawat "kedalaman" pikiran yang mulai terkikis oleh kecepatan internet. Banyak pemikir besar yang menghasilkan karya monumental justru ketika mereka berani mengambil jarak dari keramaian. Di Indonesia, kita mengenal sosok seperti Soe Hok Gie, yang meski kritis terhadap politik, sering kali mencari kejernihan melalui pendakian gunung. Baginya, gunung adalah tempat untuk membersihkan diri dari debu-debu politik yang menyesakkan di kota.

Merawat Kewarasan

Di situasi yang penuh toksisitas, di mana kita sering kali merasa ingin ikut-ikutan marah karena provokasi di media sosial, mempraktikkan apa yang disarankan Desi Anwar (yaitu sesekali meletakkan ponsel dan hadir sepenuhnya di dunia nyata) adalah cara kita berterima kasih pada kehidupan. Hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk meladeni perdebatan kusir yang tidak berujung.

Kita perlu belajar kembali untuk mendengarkan napas kita sendiri, daripada terus-menerus mendengarkan teriakan para politikus di layar kaca. Seperti pesan dalam buku tersebut, kebahagiaan sering kali ditemukan bukan dalam jumlah "likes" atau kemenangan argumen di kolom komentar, melainkan pada ketenangan pikiran yang terjaga dari polusi.

Mari kita jaga sedikit ruang dalam kepala kita agar tetap bersih, agar kita tetap bisa berpikir jernih tentang masa depan bangsa ini, bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah dalam pemilu berikutnya.
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.