Kritik Pep Guardiola terhadap Konflik yang Ada di Dunia

Pep Guardiola.
(Sumber gambar: premierleague.com)

Di balik kesuksesannya bersama Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City, Pep Guardiola kerap menunjukkan sisi lain: seorang manusia yang peduli terhadap penderitaan sesama di berbagai penjuru bumi. Baru-baru ini, pada sesi konferensi pers menjelang pertandingan semifinal Piala Liga Inggris melawan Newcastle United pada awal Februari 2026, Guardiola mengungkapkan keprihatinannya [1]. Ia mengaku terluka melihat konflik berkepanjangan yang terus merenggut nyawa tak bersalah.

Ia menyebutkan beberapa tragedi yang sedang berlangsung: penderitaan di Palestina yang ia sebut sebagai genosida, serangan di Ukraina, perang panjang di Sudan, hingga kasus kekerasan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE). Menurutnya, informasi tentang kebrutalan ini kini lebih mudah diakses daripada di masa lalu dalam sejarah modern. Namun, yang membuatnya semakin sedih adalah sikap sebagian orang yang tetap apatis atau bahkan menganggap remeh penderitaan itu. Baginya, melihat foto-foto seorang ayah, ibu, atau anak-anak yang kehilangan segalanya seharusnya membangkitkan empati di hati setiap manusia [2].

Kepedulian Guardiola terhadap Palestina bukan hal baru. Sejak lama ia aktif menyuarakan solidaritas. Pada Juni 2025, saat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Manchester, ia menyampaikan pidato yang menyentuh, menyebut penderitaan di Gaza “menyakiti seluruh tubuhnya” [3]. Kemudian, pada Oktober 2025, ia menggunakan istilah “genosida” dalam video seruan untuk aksi massa di Barcelona [4]. Ia juga hadir di pertandingan amal antara tim Catalonia dan timnas Palestina pada November tahun lalu. Puncaknya terjadi akhir Januari 2026, ketika ia tampil di konser amal “ACT X Palestina” di Barcelona, mengenakan simbol solidaritas dan menyuarakan kecaman atas sikap dunia yang diam [5].

Guardiola juga menyentuh isu lain yang tak kalah menyedihkan. Ia menyoroti nasib imigran yang nekat menyeberang Laut Manche ke Inggris menggunakan perahu kecil. Bagi Guardiola, orang-orang itu melarikan diri dari bahaya di tanah air, bukan karena pilihan mudah. “Menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama,” katanya tegas [6]. Ia menekankan bahwa melindungi kemanusiaan harus di atas segalanya, tanpa mempertanyakan benar-salah mereka.

Lebih lanjut, ia mengkritik tindakan ICE di Amerika Serikat, khususnya kasus pembunuhan Renee Good dan Alex Pretti. “Bagaimana bisa ada yang membela itu?” tanyanya retoris [7]. Guardiola menyadari tak ada masyarakat atau negara yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Namun, ia yakin semua pihak bisa bekerja sama untuk memperbaiki dunia.

Dalam konteks sepak bola, Guardiola juga menyinggung standar ganda yang diterapkan FIFA. Rusia telah dilarang tampil di kompetisi internasional sejak 2022 akibat invasi ke Ukraina, sehingga absen di Piala Dunia 2022 dan 2026. Sebaliknya, meski konflik di Gaza berlangsung lama, timnas dan klub Israel tetap aktif berlaga. Baru-baru ini, Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan rencana mencabut larangan Rusia secara bertahap, dimulai dari tim muda, dengan alasan agar anak-anak Rusia tak kehilangan kesempatan bermain sepak bola [8]. Respons Rusia positif, sementara Ukraina mengecam keras, mengingat ribuan atlet dan pelatih mereka tewas akibat agresi Rusia [9].

Pesan Guardiola sederhana dan mendalam: perdamaian lebih baik daripada konflik yang tak kunjung usai [10]. Ia tak mengklaim punya solusi instan, tapi percaya setiap individu punya cara untuk berkontribusi. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, Guardiola mengajak kita semua untuk tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan di luar sana. Sebab, seperti katanya, ini bukan soal benar atau salah satu pihak; ini soal kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab bersama [11].

Di kondisi dunia yang sering terpecah belah, suara dari tokoh besar seperti Guardiola mengingatkan bahwa empati dan keberanian untuk bersuara tetap menjadi kekuatan terbesar manusia. Semoga panggilannya bergema di ruang konferensi pers dan juga menyentuh hati banyak orang untuk bertindak demi perdamaian.



_________________
Sumber:











Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.