Indonesia for Sale


Meskipun buku Indonesia for Sale ditulis pada 2009 dan di masa Pemerintahan SBY, tetapi saya merasa pembahasannya masih tetap relevan sampai saat ini. Sebab, bagi saya yang bukan lulusan ilmu ekonomi atau politik di perguruan tinggi, memahami arti neoliberalisme yang dijelaskan di sini cukup membuat saya paham. Ditulis dengan percakapan fiksi masyarakat pinggiran, tukang parkir dan penjaga toilet umum, Dandhy dengan santai tapi tetap mendalam menjelaskan bahwa neoliberalismejika disederhanakan dalam praktik sehari-hari, yaitu ketika kita harus mengeluarkan uang untuk hal remeh, seperti biaya parkir dan toilet umum.

Selain itu, dijelaskan juga sejarah dari pemikiran Adam Smith sampai para ahli ekonomi abad kedua puluh. Betapa sistem ekonomi secara bertahap menjadi semakin materialistis dan berpihak kepada orang-orang kaya. Misalnya, jika kita ingin mendapatkan fasilitas terbaik seperti akses pendidikan, tak dapat dimungkiri kita harus mengeluarkan biaya mahal untuk hal tersebut. Sebab, kita bisa melihat kenyataan secara langsung kepada masyarakat yang kurang beruntung yang tidak sanggup membiayai anaknya sekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Padahal, seharusnya negara memudahkan akses pendidikan kepada siapa pun tanpa harus pusing memikirkan seberapa banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Itu adalah sedikit permasalahan yang ditimbulkan dari neoliberalisme. Karena di buku ini, kita juga bisa mengetahui permasalahan lain yang saya rasa "lebih berat", seperti tentang sumber daya alam Indonesia yang dieksploitasi oleh negara asing, utang negara yang semakin menumpuk, sampai para politikus yang sering menjadikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai jalan keluar untuk memberantas kemiskinan, padahal kenyataannya... bisa dinilai sendiri. Dengan demikian, bagi yang ingin pikirannya terganggu dengan isu kesejahteraan sosial dan realitas yang sudah terjadi akibat neoliberalisme, buku ini cocok untuk itu.

You Might Also Like

0 comments