Penghancuran Buku dari Masa ke Masa


Pada 2013 lalu, saya terkejut ketika salah satu buku yang saya letakkan di dalam laci meja belajar, ternyata dimakan rayap sehingga beberapa halamannya jadi bolong-bolong. Dari kejadian itu, saya jadi menyadari untuk menyimpan buku di tempat yang tidak terbuat dari kayu atau bahan yang mudah dimasuki serangga. Saya tak ingin buku-buku kesayangan saya hancur oleh kumpulan serangga tersebut. Sebisa mungkin sampai sekarang, saya selalu memerhatikan kondisi dan tempat untuk meletakkan buku-buku saya, sehingga bisa tetap awet dan terjaga sampai selama mungkin.

Jika itu adalah salah satu kejadian tentang buku yang rusak, maka pembahasan yang terdapat di buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa yang ditulis Fernando Báez ini memang pas untuk saya pilih supaya bisa mengetahui tentang alasan mengapa buku dihancurkan atau tak sengaja hancur. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan baik oleh Lita Soerjadinata dan diterbitkan oleh Marjin Kiri. Penelitian dari buku ini berasal dari rasa penasaran Báez ketika berkunjung ke Irak, kemudian menemukan perpustakaan yang hancur akibat bom dari masa pendudukan Amerika Serikat di Irak pada 2003 lalu. Di sana, banyak buku-buku yang hancur dan kemungkinan besar sangat sulit diperbaiki lagi. Selain itu, ada juga beberapa koleksi langka yang ternyata dicuri oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk dijual ke pasar gelap.

Lebih lanjut, buku ini menjelaskan tentang penghancuran buku dari dunia kuno sampai zaman kontemporer. Betapa buku dihancurkan karena beberapa alasan, di antaranya adalah karena para penguasa yang tak menyukai isi dari buku-buku yang menentang kebijakan atau yang tak sesuai dengan pemikirannya; perang yang tanpa henti; pemimpin agama yang tak ingin umatnya murtad akibat buku-buku yang dibaca tak sesuai ajaran agamanya; kecerobohan manusia sehingga mengakibatkan kebakaran di perpustakaan; sampai akibat alami, seperti serangan serangga yang saya rasakan sendiri.

Dari penghancuran buku yang sengaja dilakukan atau rusak akibat kondisi alam mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Hal tersebut bisa terjadi karena ilmu-ilmu yang telah disusun di dalam buku jadi menghilang. Bisa saja pada zaman Yunani Kuno, manusia sudah merumuskan tentang kendaraan terbang, tapi karena buku yang dimaksud telah hancur dan hilang, sehingga gagasan tersebut juga hilang, sehingga akhirnya baru bisa direalisasikan pada abad kedua puluh. Jadi, ketika buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan dihancurkan, peradaban pun dimulai dari awal lagi.

Di Indonesia, pelarangan terhadap buku-buku tertentu, khususnya yang beraliran kiri, dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru, bahkan sampai dihancurkan. Tapi ternyata, setelah Orde Baru tumbang dan kepala negara telah silih berganti sampai sekarang, kasus tentang pelarangan dan penyitaan buku tersebut masih sering dilakukan. Saya jadi merasa miris mengetahui hal tersebut karena Indonesia adalah negara yang masih memiliki minat rendah untuk membaca buku, tapi di sisi lain, kita tak bebas untuk mengakses buku yang dianggap terlarang oleh pemerintah. Dengan begitu, memang harus ada kesadaran dari setiap individu bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas. Jangan asal melarang atau menghancurkan buku ketika kita sendiri belum memahami isi buku tersebut.

Selain itu, Báez juga menjelaskan salah satu kejadian terhadap pengaruh buku yang dialami Salman Rushdie akibat novelnya yang berjudul Ayat-Ayat Setan membuat dirinya mendapat ancaman pembunuhan, terutama dari Imam Besar Iran. Akibatnya, novel tersebut dibakar dan dilarang untuk diterbitkan di negara-negara tertentu. Lalu, ada juga pelarangan novel Harry Potter oleh pemuka agama di Amerika Serikat karena dianggap bisa meracuni pikiran anak-anak sehingga mereka memercayai ilmu hitam atau sihir. Untuk mencegahnya, para pengikut pemuka agama tersebut setuju untuk melarang novel Harry Potter beredar atau jika masih menemukannya, mereka akan membakarnya.

Pada akhirnya, Báez pun tak menyangkal bahwa penghancuran buku memang bakal terus terjadi, entah itu disengaja ataupun tidak. Tapi, yang paling penting adalah manusia harus bisa bersikap adil dalam segala hal, terutama dalam memahami isi buku, dan bersikap peduli dalam menjaga peradaban, yaitu dengan merawat perpustakaan dan koleksi buku-buku di dalamnya supaya  buku-buku tersebut bisa terus dinikmati oleh kita dan keturunan kita kelak.

You Might Also Like

0 comments