Politik Kemasan dan Pergulatan Makna

(Sumber gambar: goodreads.com)

Saat berbicara soal seni dan budaya, kemungkinan besar dari kita akan membayangkan hal-hal rumit, gedung pertunjukan yang megah, atau proyek-proyek pemerintah yang mahal. Padahal, lewat pidato yang disampaikan pada 2019 (dan sekarang sudah dibukukan) berjudul Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi, Seno Gumira Ajidarma (SGA) mengingatkan kita untuk melihat hal-hal sederhana di sekeliling kita.

Benda sekecil kertas pembungkus tusuk gigi atau bungkus Wingko Babat ternyata bukan cuma pembungkus biasa. Di sana ada "pertarungan" ideologi dan cara orang berjualan; bagaimana produsen berlomba-lomba membuat kemasan sebagus mungkin agar produknya terlihat paling unggul.

Jika kita tarik ke kondisi Indonesia saat ini, cara pandang ini pas untuk melihat situasi di sekitar kita.

Penyakit "Asal Bungkusnya Bagus"

Poin penting yang disampaikan SGA adalah: kemasan tidak selalu menggambarkan isi yang sebenarnya. Seringkali, kemasan justru dipakai untuk menutupi kenyataan atau mengaburkan kebenaran di depan publik.

Di Indonesia, fenomena "asal bungkusnya bagus" ini terasa dalam kehidupan sehari-hari dan dunia politik.

1. Pencitraan dan Slogan Manis: Banyak pejabat atau lembaga publik yang pandai merangkai kata-kata manis dan membuat tampilan visual yang bagus di media sosial. Namun, fakta di lapangan sering berbeda jauh dari apa yang diumumkan.

2. Mengorbankan Budaya Asli: Demi terlihat keren, modern, dan bernilai ekonomi instan, kebijakan yang diambil kadang mengabaikan hal penting. Contohnya seperti kebudayaan lokal dan bahasa daerah yang perlahan mulai punah karena kurang dirawat.

Merasa Paling Benar Sendiri

SGA juga menyentuh soal bagaimana orang-orang memandang "kebenaran". Pertarungan di masyarakat biasanya bukan antara orang baik melawan orang jahat, melainkan antara dua pihak yang sama-sama merasa paling benar.

Di tengah riuhnya media sosial saat ini, kondisi ini semakin parah. Setiap kelompok punya alasan masing-masing dan merasa dirinya yang paling sah. Akhirnya, tidak ada lagi kebenaran tunggal karena semua orang sibuk memproposikan sudut pandangnya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain.

Jangan Cuma Berlari Cepat, tapi Lupa Selamat

SGA juga memberi ilustrasi menarik tentang kehidupan sehari-hari: perdebatan soal aturan beragama (seperti berhijab atau tidak) yang tidak ada habisnya. Namun, aturan keselamatan seperti wajib memakai helm saat naik motor dipatuhi oleh semua orang tanpa terkecuali.

Di sini terlihat bedanya produk tradisi/keyakinan dengan aturan modernitas yang sifatnya teknis untuk keselamatan.

Selain itu, di era yang menuntut segalanya serba cepat dan serba digital seperti sekarang, SGA mengingatkan kita lewat cerita "Kancil dan Siput". Kancil yang berlari sangat cepat justru bisa kalah oleh siput yang pelan tapi cerdik dan konsisten. Pesannya jelas: cepat boleh saja, tetapi kita harus tetap hati-hati. Jika kita hanya mengejar kecepatan tanpa memikirkan tujuan dan nilai keselamatan, kita justru bisa hancur sendiri.

***

Melalui bungkus tusuk gigi yang sepele, Seno Gumira Ajidarma mengajarkan kita satu hal penting: jangan mudah percaya hanya karena bungkusnya kelihatan bagus.

Di tahun 2026 ini, kita ditantang untuk lebih jeli. Kita perlu belajar melihat apa yang ada di balik janji-janji manis, pencitraan, dan serbuan informasi cepat di sekitar kita, agar kita tidak gampang dibohongi oleh keadaan.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.