Pengasuhan Anak di Tengah Realitas Sosial


Untuk membesarkan seorang manusia yang utuh, dibutuhkan dukungan kolektif: keluarga besar, tetangga, lingkungan sekolah, hingga jaminan perlindungan dari negara. Namun, di tengah realitas Indonesia hari ini, retorika tersebut berbenturan dengan kenyataan pahit. Ketika lingkungan sosial disebarkan oleh krisis keteladanan publik, norma komunitas yang problematis, serta negara yang seringkali absen melalui kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, sebuah pertanyaan mendasar pun muncul: komunitas mana yang sebenarnya masih bisa kita percayai?

Kondisi ini melahirkan kecemasan sistematis bagi para orang tua, khususnya generasi muda yang sedang membesarkan anak balita. Menghadapi pejabat yang lebih disibukkan oleh kalkulasi politik ketimbang kesejahteraan publik, tidak sedikit orang tua memilih untuk menarik diri ke dalam ruang privat. Mereka pun memancang batas (boundaries), meminimalkan interaksi terhadap lingkungan luar yang dianggap merusak, dan memfokuskan seluruh daya ekonominya untuk membeli "keamanan" buatan; seperti memilih sekolah swasta mahal berbasis kurikulum internasional demi menjamin lingkungan yang mendukung kesejahteraan untuk masa depan si anak. Namun, langkah isolatif ini justru menyisakan ironi: pengasuhan menjadi sangat berbias kelas, sementara akar persoalan strukturalnya tetap tidak tersentuh.

Melalui bukunya, Parenting di Negara Gagal, Kalis Mardiasih hadir menantang kebuntuan tersebut. Kalis menggeser diskursus pengasuhan dari yang semula didominasi pendekatan teknis-psikologis privat (do’s and don’ts mendisiplinkan anak, regulasi emosi, atau panduan tumbuh kembang fisik) menuju ranah analisis sosial-politik. Buku ini pun menegaskan pokok persoalan bahwa pengasuhan tidak pernah terjadi di ruang hampa, dan keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik serta krisis keteladanan negara.

Keteladanan Publik dan Realitas Pengasuhan

Selama ini, literatur populer cenderung membebankan seluruh tanggung jawab moral dan kualitas masa depan anak ke pundak orang tua di rumah. Jika seorang anak melakukan penyimpangan, pola asuh domestik menjadi sasaran pertama yang disalahkan. Kalis membongkar asumsi ini dengan menunjukkan bahwa sebaik apa pun nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan ketika sedang mengobrol di meja makan, anak-anak akan tetap melangkah keluar untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya; mulai dari ruang kelas, media sosial, hingga panggung politik nasional yang mereka saksikan sehari-hari.

Di sinilah letak kelemahan pengasuhan privat. Kalis pun menulis:

"Negara ini sedang krisis keteladanan. Itulah mengapa orang tua di rumah sangat cemas. Anak bisa jadi jahat walaupun ayah dan ibunya di rumah telah membekali dengan segala kebijaksanaan."

Pernyataan ini menggarisbawahi kegelisahan para orang tua yang menyaksikan betapa cepatnya nilai-nilai kejujuran dan empati yang diajarkan di rumah digerus oleh contoh-contoh buruk di tingkat publik. Saat ketidakjujuran dinormalisasi oleh para pemangku kebijakan, ketika kekerasan verbal dan kesewenang-wenangan dipamerkan tanpa rasa malu di panggung kekuasaan, maka anak-anak menyerap pesan bahwa kesuksesan tidak membutuhkan keadaban.

Lebih jauh, Kalis memperlihatkan bagaimana dampak dari kebijakan politik secara langsung merenggut hak-hak dasar anak. Ketimpangan Pembangunan dan ekspansi industri tanpa kendali telah menghilangkan ruang-ruang publik serta area bermain yang aman dan gratis bagi anak-anak di perkotaan maupun pedesaan. Di sisi lain, kebijakan bernuansa komodifikasi (seperti program-program instan berskala masif yang kerap mengabaikan martabat anak) menempatkan anak-anak sekadar sebagai objek proyek teknokratis, bukan subjek hukum yang berhak atas rasa aman dan penghormatan.

Mitos Keselamatan Individual dan Pentingnya Kerja Perawatan (Care Work)

Dalam bukunya, Kalis juga mengkritik tentang kompetisi keadaban yang bersifat individualistik. Di era yang kompetitif, sebagian besar orang tua berlomba-lomba membesarkan anak agar menjadi pribadi yang paling unggul, paling berempati, atau paling terdidik secara eksklusif. Namun, Kalis mengingatkan bahwa usaha tersebut akan sia-sia jika iklim sosial di sekitarnya dibiarkan toksik.

"Anak kita tidak bisa selamat dengan berkompetisi menjadi beradab sendirian. Pertumbuhan anak kita ke arah yang lebih baik, seharusnya diimbangi dengan pertumbuhan anak lain ke arah yang lebih baik juga."

Topik ini relevan dengan maraknya fenomena perundungan (bullying), kekerasan remaja, hingga merosotnya rasa kepedulian sosial belakangan ini. Seorang anak tidak akan pernah benar-benar aman dari perundungan di sekolah hanya karena ia diajarkan untuk bersikap sopan; ia baru akan aman jika teman-temannya juga dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai martabat manusia. Tumbuh kembang anak, dengan demikian, adalah kerja kolaboratif dan tanggung jawab kolektif.

Untuk keluar dari jebakan individualisme ini, Kalis menawarkan nilai yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini: kerja-kerja perawatan (care work) dan solidaritas. Mengasuh bukan lagi sekadar memastikan anak kita mengonsumsi nutrisi terbaik atau meraih prestasi akademis tertinggi, melainkan melatih mereka untuk mengenali ketidakadilan, menghargai kerja-kerja domestik dan perawatan yang selama ini dimarjinalkan, serta memupuk rasa belas kasih terhadap sesama.

Gagasan ini pun disampaikan tidak hanya dalam bentuk kritik makro, tetapi diturunkan menjadi langkah-langkah nyata. Melalui penyusunan panduan aktivitas interaktif dan role play yang bisa dipraktikkan di rumah, Kalis menjembatani gagasan politik yang abstrak agar dapat dipahami dan dihidupkan oleh anak-anak dalam keseharian mereka.

Kritik atas Alienasi Pengasuhan Modern

Keunggulan lain dari buku ini terletak pada kemampuannya menyeret wacana pengasuhan kelas menengah agar kembali menapak bumi (grounded). Tren pengasuhan modern di Indonesia seringkali mengadopsi secara mentah-mentah paradigma dari negara-negara maju—mulai dari gaya pengasuhan ala Skandinavia hingga teori psikologi perkembangan Barat—yang terkadang sulit dipraktikkan dengan realitas ketimpangan di dalam negeri. Orang tua bisa jadi fasih membicarakan regulasi emosi ala literatur Barat, tetapi bingung menghadapi kenyataan bahwa anak-anak di sekitarnya harus tumbuh di samping sungai yang tercemar, tanah adat yang terancam digusur, atau ketimpangan akses pendidikan yang sangat jauh.

Buku ini mengingatkan bahwa pengasuhan di Indonesia harus berani melihat fakta-fakta struktural tersebut. Anak-anak perlu dididik untuk sadar bahwa mereka tinggal di sebuah negara dengan kompleksitas sosial yang tinggi: di mana ada kelompok yang memiliki akses yang mudah dan melimpah, sementara di bagian lain ada anak-anak yang harus mempertaruhkan nyawa demi sampai di sekolah dengan menyeberangi sungai. Menanamkan kesadaran ini berguna untuk membekali mereka dengan kompas moral dan kepekaan sosial sejak dini.

Membuka Ruang bagi Keberagaman dan Politisasi Identitas

Meskipun berhasil memberikan perspektif baru berupa "parenting politik", terdapat satu dimensi penting yang membutuhkan pendalaman lebih lanjut dalam diskursus ini, yakni keterbelahan sosial berbasis identitas dan agama.

Pada konteks Indonesia modern, salah satu tantangan terbesar dalam membangun solidaritas warga adalah menguatnya politisasi identitas. Pembelahan politik di tingkat nasional seringkali merembet hingga ke tingkat komunitas lokal dan ruang digital, memicu kecurigaan antarwarga yang berbeda keyakinan atau etnis. Algoritma media sosial pun memperparah kondisi ini dengan menciptakan kamar gema (echo chambers) yang mempertebal prasangka.

Membangun ikatan solidaritas kolektif sebagaimana yang dicita-citakan oleh Kalis memerlukan prasyarat berupa resiliensi terhadap polarisasi identitas. Pengasuhan politik di Indonesia idealnya juga mencakup panduan bagaimana mendidik anak agar mampu memahami keberagaman, mengidentifikasi manipulasi isu keagamaan untuk kepentingan politik, serta menjaga toleransi yang substantif. Tanpa pemahaman yang kuat tentang cara mengelola perbedaan identitas, upaya merajut solidaritas warga akan mudah runtuh oleh prasangka sektarian.

Keberanian untuk Bergandeng Tangan

Parenting di Negara Gagal karya Kalis Mardiasih merupakan sebuah kontribusi pemikiran yang penting dan menyegarkan di tengah maraknya buku-buku panduan pengasuhan yang komersial dan apolitis. Buku ini mampu membongkar paradigma bahwa kesuksesan anak adalah beban privat semata, sekaligus menegaskan bahwa pengasuhan adalah tindakan politik yang menentukan arah peradaban.

Bagi para orang tua yang dibayangi kecemasan akan masa depan anaknya di bawah naungan tata kelola negara yang buruk, buku ini tidak menawarkan janji manis atau solusi instan. Sebaliknya, buku ini memberikan kejelasan perspektif: bahwa rasa cemas itu valid, tetapi mengisolasi diri bukanlah jawaban yang tepat.

Masa depan anak-anak tidak bisa diselamatkan lewat benteng-benteng privat yang eksklusif, melainkan lewat keberanian para orang tua dan masyarakat untuk kembali bergandeng tangan, saling merawat, serta menuntut hadirnya negara yang benar-benar berpihak pada keadilan sosial dan keadaban publik.


_________________
Buku Parenting di Negara Gagal bisa dibeli di sini:

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.