Wajah-Wajah yang Tak Pernah Kita Lihat: Membaca 'Mata yang Enak Dipandang'

(Sumber gambar: goodreads.com)

Saya melihat paradoks kecil yang tersembunyi dalam judul buku ini. Mata yang Enak Dipandang; judul yang seolah menjanjikan keindahan, sesuatu yang menyenangkan untuk disaksikan. Namun, cerpen pembuka yang menjadi asal usul judul itu justru berkisah tentang seorang pengemis tunanetra bernama Mirta, yang matanya (justru karena kebutaannya) terlihat tenang, tak resah, tak lapar. Mata yang enak dipandang pun bukan karena cantik, melainkan karena kosong dari keinginan. Itulah Ahmad Tohari: ia memberi judul yang terasa manis, kemudian memberikan ironi yang pahit seperti kopi dingin di dalamnya.

Kumpulan 15 cerpen yang ditulis antara 1983 hingga 1997 ini merupakan catatan tentang bagaimana orang-orang kecil bertahan hidup, bagaimana mereka dihakimi, dan bagaimana masyarakat kerap menjadi hakim yang paling keras justru terhadap sesama yang lemah.

Kemiskinan Menjadi Tokoh Utama

Gaya kepenulisan Tohari adalah ia pandai menempatkan kemiskinan. Dalam banyak novel populer, kemiskinan adalah latar belakang; dekorasi untuk membuat tokoh utama terlihat heroik ketika akhirnya berhasil keluar darinya. Dalam cerpen-cerpen Tohari, kemiskinan adalah tokohnya. Ia yang menggerakkan plot, yang menentukan pilihan, yang mendiktekan logika.

Lihatlah Daruan pada cerpen Daruan. Ia akhirnya menjadi novelis; pencapaian yang dalam bayangan banyak orang adalah gerbang menuju kehidupan lebih baik. Tapi uang royalti tak kunjung datang, sementara perut tetap lapar. Perjalanannya menemui Muji, sahabat sekaligus penerbitnya, bukan perjalanan seorang seniman yang merayakan karyanya, melainkan perjalanan seorang lelaki yang butuh uang. Tohari tidak mengizinkan romantisisme sastra masuk ke dalam cerpen ini. Dunia kepengarangan, dalam versi Tohari, tak jauh berbeda dari warung Jum atau gerobak Karsim: semuanya tunduk pada hukum yang sama, yaitu kebutuhan perut.

Atau tengok Parsih dalam Sayur Bleketupuk. Suaminya belum pulang, anak-anaknya sudah berdandan hendak naik jaran undar di lapangan desa. Parsih tidak punya uang, tapi ia juga tidak ingin anaknya kecewa. Ia pun memasak sayur bleketupuk (sayur murah dari bahan seadanya) sambil menunggu. Tidak ada klimaks dramatis dalam cerpen ini. Tidak ada penyelesaian heroik. Hanya seorang ibu yang memasak, menunggu, dan berharap. Dalam minimnya peristiwa itulah Tohari menyimpan sebuah kebenaran yang menyayat: bahwa ada jutaan perempuan Indonesia yang setiap harinya hidup seperti dalam cerpen ini, tanpa pernah menjadi protagonis dalam cerita siapa pun.

Tubuh Perempuan sebagai Medan Perang Moral Kampung

Jika ada satu benang merah yang paling terasa konsisten di sepanjang buku ini, itu adalah cara Tohari mendokumentasikan bagaimana masyarakat kampung (yang dalam pandangan umum sering diidealkan sebagai komunitas yang guyub dan penuh gotong royong) sesungguhnya bisa menjadi mesin penghakiman yang kejam, terutama terhadap perempuan.

Jebris dalam Bila Jebris Ada di Rumah Kami adalah perempuan yang menjadi "aib kampung" karena pekerjaannya. Tohari tidak secara eksplisit menyebut apa pekerjaan Jebris; pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri. Tapi yang ia perlihatkan dengan gamblang adalah bagaimana seluruh kampung bergotong royong mengucilkan satu perempuan, sementara laki-laki yang menjadi "konsumen" dari kondisi Jebris tidak pernah disebut-sebut pada perbincangan moral itu. Ironinya sempurna dan menyakitkan.

Rusmi dalam Rusmi Ingin Pulang menanggung nasib serupa. Ia janda muda yang bekerja di luar kota; "kabarnya macam-macam." Ayahnya, Kang Hamim, yang seharusnya resah karena mengkhawatirkan kondisi anaknya, ia malah khawatir apa kata orang-orang di kampung. Rusmi ingin pulang, tapi kampung sudah membangun tembok dari gosip dan prasangka sebelum ia bahkan menginjakkan kaki. Dalam dua cerpen ini, Tohari sedang mencatat sesuatu yang masih sangat relevan: bahwa di banyak komunitas, kehormatan perempuan dikelola secara kolektif oleh orang-orang yang tidak pernah menanggung akibatnya.

Keanehan sebagai Jalan Menuju Kebenaran

Tohari juga fasih bermain di wilayah yang absurd tanpa kehilangan pijakannya pada realitas sosial. Kang Sarpin Minta Dikebiri adalah contoh terbaik. Kang Sarpin dikenal sebagai wong gemblung; orang gila desa. Ketika ia mati, orang-orang di sekitar mayatnya malah berseloroh dan tertawa mengingat kelakuan-kelakuannya yang aneh. Salah satunya: suatu hari ia pernah mendatangi tokoh narator dan meminta dikebiri, dengan argumentasinya sendiri yang agak sedikit masuk akal.

Permintaan yang ganjil itu, bila dibaca secara lebih dalam, adalah sebuah kritik sosial yang diselubungi kegilaan. Dalam logika Kang Sarpin, ada kesadaran tentang hasrat, tentang konsekuensi, tentang tanggung jawab yang ia sendiri tidak sanggup emban. Tohari membiarkan pembaca menertawakan Sarpin, sebelum pelan-pelan menyadari bahwa mungkin Sarpin tidak sepenuhnya gila; mungkin ia hanya lebih jujur dari kita semua.

Strategi serupa dipakai dalam Penipu yang Keempat. Tokoh "Aku" yang justru menikmati ditipu, yang bahkan mendatangi si penipu untuk mencari tipuan berikutnya, adalah semacam alegori tentang kebutuhan manusia akan narasi dan ilusi. Atau (dalam pembacaan yang lebih sinis) sebuah komentar tentang bagaimana kita semua, dalam berbagai cara, secara sukarela membayar untuk dibohongi.

Paman Doblo dan Pertanyaan tentang Kekuasaan

Di antara semua cerpen dalam buku ini, Paman Doblo Merobek Layang-layang mungkin yang paling berkesan secara tematik. Paman Doblo adalah sosok yang dicintai anak-anak dan dihormati orang dewasa; figur yang hidup di luar hierarki formal kampung, tapi justru memiliki otoritas moral yang sesungguhnya. Kemudian ia menjadi satpam di sebuah kilang pengolah kayu.

Namun, segalanya berubah.

Tohari tidak perlu menjelaskan panjang lebar alasannya. Pembaca yang pernah menyaksikan bagaimana sebuah jabatan kecil (keamanan perumahan, hansip, penjaga portal) bisa mengubah seseorang yang tadinya ramah menjadi kaku dan penuh arogansi, akan langsung mengerti. Kekuasaan, betapapun kecilnya, memiliki kecenderungan untuk mengubah orang. Dan yang lebih tragis: ia paling mudah mengubah orang-orang yang tadinya baik, karena mereka tidak pernah diajarkan cara membawa kekuasaan dengan ringan.

Layang-layang yang dirobek Paman Doblo bukan sekadar layang-layang. Ia adalah simbol dari sesuatu yang dulu bebas dan kini diklaim oleh logika kepemilikan dan wewenang.

Spiritualitas di Pinggir Jalan

Ahmad Tohari adalah seorang Muslim yang taat, dan dalam banyak karyanya dimensi spiritual bukan ornamen, melainkan bagian dari cara ia memahami dunia. Dalam buku ini, Salam dari Penyangga Langit menampilkan Markatab yang hadir ke tahlilan karena ia percaya bahwa bacaan doa benar-benar dikirimkan kepada malaikat penyangga langit,  bukan karena kewajiban sosial. Kepercayaan itu digambarkan sebagai suatu kekayaan batin yang tidak semua orang mampu memilikinya.

Sementara itu, Harta Gantungan menyajikan Kang Nurya yang sakit parah dan memiliki seekor kerbau sebagai satu-satunya harta; dan ia menolak menjualnya untuk berobat karena kerbau itu ia simpan untuk mengurus jenazahnya kelak. Ada kesedihan yang sangat dalam di sini, tapi juga semacam kedamaian. Kang Nurya sudah berdamai dengan kematian, dan dalam kedamaian itu ia terlihat lebih utuh dari banyak orang sehat yang masih takut memikirkannya.

Cerita-Cerita yang Masih Relevan

Ditulis antara 1983 dan 1997, cerpen-cerpen ini merekam Indonesia di masa Orde Baru; masa ketika pembangunan ekonomi dirayakan di permukaan sementara ketimpangan dan pengucilan sosial terus berjalan di bawahnya. Namun, yang mengejutkan (atau malah tidak mengejutkan sama sekali) adalah betapa cerpen-cerpen ini terasa masih relevan sampai hari ini. Perempuan yang dihakimi oleh kampungnya, orang miskin yang ditipu sistem, figur masyarakat yang tak bisa menahan godaan korupsi oleh sedikit kekuasaan, keluarga yang tidur di atas kardus di musala terbengkalai; semua ini adalah realita pahit dan kehidupan seperti itu masih berlangsung di sekitar kita.

Ahmad Tohari menulis dengan kisah yang jernih, kalimat-kalimatnya pendek, deskripsinya konkret, dialognya tidak dibebani penjelasan yang tidak perlu. Ia percaya pada kecerdasan pembacanya. Dan justru dalam kesederhanaan itulah "pukulan"-nya terasa; sebab tidak ada ornamen yang meredam benturan antara kata dan kenyataan.

Mata yang Enak Dipandang adalah buku yang akan membuat pembaca melihat (benar-benar melihat) wajah-wajah di pinggir jalan yang selama ini kita pandang tanpa sungguh-sungguh memandang. Mungkin itulah maksud judulnya: bukan mata yang indah, tapi mata yang mengajak kita untuk juga belajar melihat.


_________________
Buku Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari bisa dibeli di sini:

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.