Nasib Setimpal Vulture dan Amarah Bibi May
Vulture menerkam Bibi May di rumahnya sambil mengejek bahwa daging Paman Ben terasa lezat saat ia mangsa. Sebelum May terluka lebih jauh, Spider-Man muncul dan menembak Vulture tiga kali hingga tewas. Alih-alih berterima kasih, May justru histeris melihat Spider-Man membunuh pria tanpa senjata. May mempertanyakan mengapa ia tidak menggunakan jaring saja, lalu menuntutnya menyerahkan pistol tersebut. Yakin Goblin tidak akan berhenti begitu saja, Spider-Man menolak dan memilih pergi.
Pertarungan di "Torture House"
Spider-Man bergegas menuju tempat penyiksaan rahasia Goblin untuk menyelamatkan J. Jonah Jameson yang asli serta Felicia Hardy. Di sana, Felicia mengungkap fakta bahwa dialah yang menembak mati Chameleon ("Jameson palsu") di edisi pertama karena mengira pria itu adalah Jameson asli yang mengkhianati Urich. Murka atas kematian anak buahnya, Osborn berniat menyiksa Felicia dengan melemparkannya ke kandang laba-laba beracun.
Saat itulah Spider-Man menerobos masuk dan melumpuhkan anggota geng Goblin satu per satu secara brutal. Ia menetralkan ancaman harimau kelaparan dengan jaring, hingga mendorong Kraven masuk ke dalam kandang laba-laba beracun demi menyelamatkan para sandera.
Hancurnya Kerajaan Goblin
Spider-Man mengejar Goblin dan Felicia ke saluran pembuangan bawah tanah. Dalam perkelahian jarak dekat, Osborn merobek topeng Spider-Man dan mengungkap wajah Peter Parker. Begitu juga Peter menarik paksa topeng Osborn, mengungkap fakta bahwa wajah aslinya menyerupai monster. Osborn (yang kini wajahnya layak dijuluki Goblin) pun menjelaskan bahwa ia dulunya adalah salah satu anggota dari sirkus aneh (freak show) yang selalu disiksa dan dilempari batu oleh anak-anak. Karena itulah ia membangun kerajaan kriminal agar ditakuti dan dihormati.
Goblin oun menantang Peter untuk membunuhnya. Namun, teringat ajaran Paman Ben, Urich, serta teguran Bibi May, Peter menahan diri dan memilih menyerahkannya ke jalur hukum. Saat Goblin mencoba menembak balik, Peter menyumbat laras pistol dengan jaring hingga senjata itu meledak di tangan sang mafia. Kraven yang sekarat kemudian muncul dari kegelapan, menyeret Goblin jatuh ke arus pembuangan air yang deras hingga keduanya lenyap.
Akhir Cerita
Dua bulan berlalu, New York mulai membaik usai 17 polisi korup dan pejabat tinggi diseret ke pengadilan. J. Jonah Jameson kembali memimpin Daily Bugle, sementara Bibi May terus vokal menyuarakan keadilan. Peter mendatangi apartemen Felicia untuk memberikan foto kenang-kenangan mendiang Urich. Meski melintasi dunia era 1930-an yang kelam, Peter Parker berkomitmen terus berjuang menegakkan keadilan tanpa kehilangan kemanusiaannya.
***
Spider-Man Noir #4 menutup miniseri ini secara solid lewat aksi berdarah dan konklusi moral yang memuaskan. Edisi final ini berhasil menyatukan konflik personal Peter Parker dengan atmosfer gelap New York era 1930-an.
Kelebihan: Keputusan Peter untuk tidak membunuh Norman Osborn menjadi titik balik penting yang mendefinisikan dirinya sebagai seorang pahlawan sejati. Terungkapnya latar belakang Osborn sebagai mantan anggota sirkus memberi kedalaman psikologis pada karakternya. Visual pertempuran garapan Carmine Di Giandomenico tampil dinamis, serta adegan penutup bersama Felicia Hardy menyajikan akhir yang realistis khas genre Noir.
Kekurangan: Kematian Osborn akibat ledakan senjatanya sendiri dan sergapan Kraven terasa sedikit instan sebagai formula untuk melenyapkan sang penjahat utama tanpa mengotori tangan pahlawan.
Secara keseluruhan, Spider-Man Noir #4 sukses membuktikan bahwa di dunia alternatif Marvel yang paling kelam sekalipun, esensi utama Spider-Man (yaitu tentang tanggung jawab dan kemanusiaan) tetap mampu bersinar terang.

