Berebut Lowongan Pekerjaan

Ilustrasi seseorang sedang mencari pekerjaan.
(Sumber gambar: freepik.com)

Beberapa tahun lalu, lini masa kita dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk memamerkan pencapaian karier yang berkilau. Setahun kemudian, dunia kerja diguncang oleh gelombang efisiensi besar-besaran yang kita kenal sebagai pemutusan hubungan kerja (PHK) atau layoff. Kini, orang-orang dijangkiti kecemasan kolektif tentang masa depan yang buram dan sulitnya menembus pintu perusahaan. Lowongan kerja dibuka, ribuan pelamar tiba demi mengadu nasib, demi menyambung napas sebagai manusia tanpa mereka tahu bahwa proses menunggu yang berulang-ulang itu ternyata juga menjadi sangat melelahkan. Belakangan ini, sebuah fenomena populer mewabah di media sosial: "War Loker" atau perang memperebutkan lowongan kerja. Saya menyebutnya tarian keputusasaan karena para pelamar di dalamnya menampilkan wajah-wajah penuh harap yang getir sebelum akhirnya terhempas oleh surel penolakan otomatis. Sebuah intermezzo kehidupan yang sangat menguras emosi.

Sebuah hal yang tampaknya klise tapi dampaknya luar biasa besar adalah pengangguran. Namun, merasa cemas karena belum bekerja itu sangat manusiawi. Semua orang, dari lulusan baru sampai pekerja senior yang terkena PHK, pernah merasakannya. Seorang kerabat bercerita tentang saudaranya yang baru lulus kuliah tahun lalu; ia sudah menghabiskan jutaan rupiah untuk berbagai kursus sertifikasi digital karena merasa ijazah sarjananya tidak cukup sakti untuk melawan algoritma seleksi. Sebulan setelah mengantongi sertifikat, ia terlihat lesu karena belum juga ada panggilan. Dua bulan ia habiskan untuk memperbaiki CV agar "ramah AI", ia sudah mulai jenuh dan mencoba peruntungan di bidang yang sama sekali melenceng dari jurusannya. Seminggu setelah mencoba bidang baru, ia patah hati lagi karena ternyata kualifikasi yang diminta perusahaan jauh lebih tinggi dari apa yang ia pelajari, sementara gaji yang ditawarkan hanya sebatas upah minimum.

Atau seperti seorang kawan lama yang saking frustrasinya dengan status pengangguran selama setahun, ia mencoba metode "tembak langsung" yang nekat. Ia mengirimkan lamaran ke ratusan perusahaan dalam satu malam dengan pesan yang sangat emosional, berharap ada manajer HRD yang tersentuh hatinya. Mungkin maksudnya agar ia terlihat sangat berdedikasi dan jujur. Inovatif, meski sedikit ceroboh. Benar-benar sebuah desakan keadaan memang menggiring manusia pada perubahan dan ide-ide radikal yang tak pernah terduga sebelumnya. Bukannya panggilan kerja yang didapat, ia justru masuk dalam daftar hitam beberapa agensi karena dianggap melakukan spamming. Kami hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolnya itu. Memang, kesulitan ekonomi itu seperti sebuah kekhilafan bagi mereka yang sedang terjepit; bisa membuat orang melakukan hal-hal di luar nalar. Manusiawi, karena mencari tempat untuk berbakti dan mencari nafkah adalah sifat yang diwariskan turun-temurun. Konon, Adam pun diturunkan ke bumi bukan untuk berpangku tangan, melainkan untuk mengolah tanah dan berjuang demi kelangsungan hidupnya.

Menerima Perubahan

Kesulitan mencari kerja menuntut perubahan. Sebab mengandalkan cara lama di era yang terus berubah ini adalah sebuah kesia-siaan. Bahkan bertahan pada rutinitas melamar yang konvensional pun bisa membosankan, apalagi bertahan dalam status tanpa kepastian. Maka barangkali hikmah dari sulitnya lapangan kerja adalah kenyataan bahwa banyak orang akhirnya dipaksa untuk berubah, beralih menjadi wirausaha atau mempelajari keterampilan baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Memang tidak semua perubahan karier itu mulus, tapi diam di tempat tanpa melakukan apa pun saat dunia terus berlari jelas merupakan kesalahan. Namun, sulitnya mencari kerja jangan hanya disikapi dengan kepasrahan yang pasif. Rasa lelah ini harus dikelola, karena jika dibiarkan terlalu lama, ia akan mengkristal menjadi keputusasaan yang menyeramkan; seperti hilangnya harga diri atau hilangnya semangat untuk terus berjuang.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, jumlah pengangguran di Indonesia memang masih menjadi tantangan besar, terutama di kalangan generasi muda (Gen Z) yang mencapai angka jutaan orang [1]. Selain lapangan kerja yang tak kunjung sebanding dengan jumlah lulusan, standar kualifikasi yang semakin "tidak masuk akal" juga menjadi penghalang. Maka, barangkali tetap berjuang adalah pilihan yang paling realistis jika kita masih percaya pada proses, meski itu sangat membosankan dan menyakitkan. Menjadi berani itu baik jika ternyata jalur yang kita pertaruhkan selama ini memang sudah tidak prospektif lagi untuk dipertahankan. Ternyata hidup lebih menarik ketika kita berani beralih arah atau menciptakan peluang sendiri.

Bertahan dan Konsisten

Ada pepatah dari negeri sebrang yang mengatakan bahwa jika kita mampu menekuni hal yang melelahkan lebih lama dari orang lain, maka kita akan menemukan keajaiban di ujungnya. Kita tidak akan merasa perih lagi oleh penolakan karena sudah terbiasa dan kebal menjalaninya. Maksudnya, jika saat ini kamu sedang melakukan pekerjaan yang menjemukan seperti merevisi CV untuk yang keseribu kalinya, atau mencoba memahami tulisan tentang lika-liku mencari kerja yang mungkin terasa pahit ini, bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Dengan bertahan dan tetap konsisten mengirimkan lamaran satu demi satu setiap harinya, kita sedang membangun otot ketangguhan mental. Semoga dengan cara itu, kita menjadi lebih kuat terhadap serangan rasa putus asa. Semoga.


_________________
Sumber:

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.