Grimsby Town berhasil menahan imbang Manchester United dengan skor 2-2. Namun, MU kalah di babak penalti.
(Sumber gambar: x.com/Carabao_Cup)
Sudah pertandingan ketiga di awal musim ini dan Manchester United masih belum bisa memenangkan satu pun. Kali ini, mereka tersingkir dari Piala Carabao oleh Grimsby Town, tim dari League Two yang berada tiga divisi di bawah mereka pada Rabu (27/08/2025). Selain mengejutkan, kekalahan ini juga menyoroti masalah inti di skuad MU, mulai dari kesalahan individu sampai kegagalan sistematis. Berdasarkan analisis pertandingan, kekalahan ini terjadi melalui babak penalti setelah skor imbang 2-2. Tulisan saya kali ini akan membahas detail pertandingan, performa pemain inti, serta reaksi dari manajer, untuk menggambarkan betapa parahnya kegagalan ini bagi klub berjuluk Setan Merah.
Jalannya Pertandingan dan Blunder Fatal
Pertandingan yang digelar di Blundell Park ini seharusnya menjadi laga mudah bagi Manchester United, mengingat Grimsby Town hanyalah tim dari divisi keempat yang baru memulai musim dengan tiga kemenangan dan dua hasil imbang. Amorim melakukan delapan perubahan pada sebelas pertama dari pertandingan sebelumnya melawan Fulham, sehingga memberikan kesempatan bagi pemain cadangan untuk menunjukkan kemampuannya. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya: MU tampil buruk sejak awal, dan Grimsby Town mendominasi babak pertama.
Gol pertama Grimsby Town dicetak Charles Vernam pada menit ke-22, setelah umpan dari Darragh Burns. Vernam melepaskan tembakan ke tiang dekat yang seharusnya bisa ditangkap oleh Andre Onana, tetapi ia gagal melakukan penyelamatan yang baik. Kesalahan ini menjadi awal dari mimpi buruk MU. Delapan menit kemudian, gol kedua datang dari mantan pemain muda MU, Tyrell Warren, yang menyundul bola masuk setelah Onana gagal memukul bola dengan kuat pada situasi tendangan sudut pendek. Onana, yang belum bermain di dua pertandingan pembuka musim, tampak lemah dan tidak cukup kuat ketika menghadapi tekanan, sehingga memperburuk keadaan.
Di babak kedua, Amorim mencoba membalikkan keadaan dengan memasukkan kapten Bruno Fernandes, Matthijs de Ligt, dan Bryan Mbeumo. MU berhasil memperkecil kedudukan menjadi 2-1 melalui gol Mbeumo pada menit ke-75, diikuti gol penyama dari sundulan Harry Maguire pada menit ke-89 dari sepak pojok Mason Mount. Namun, MU sebenarnya beruntung bisa mencapai babak penalti. Pada menit ke-74, Grimsby Town hampir mencetak gol ketiga melalui Gardner, tetapi dianulir karena offside kontroversial. Tanpa VAR di laga ini, MU beruntung tidak disingkirkan Grimsby Town lebih awal.
Babak penalti berlangsung dramatis sampai 13 tendangan. Matheus Cunha gagal mengeksekusi penalti pertamanya, dan Mbeumo juga gagal karena membentur mistar gawang. Benjamin Šeško, yang ditempatkan sebagai penendang ke-10, bahkan tidak sempat menendang karena kegagalan sebelumnya. Penampilan lini depan senilai £200 juta ini tidak mencerminkan kualitas yang diharapkan, dan Amorim sendiri memilih untuk tidak menonton penalti dari pinggir lapangan, menandakan ia sangat frustrasi.
Kekalahan ini merupakan yang ketiga kalinya dalam 30 tahun terakhir MU tersingkir di babak kedua Piala Carabao, setelah kekalahan dari York City (1995-96) dan MK Dons (2014-15). Dengan begitu, MU hanya bisa memainkan maksimal 45 pertandingan di musim ini, jumlah terendah sejak 1959.
Analisis Performa Pemain dan Sistem Amorim
Salah satu sorotan utama adalah performa Andre Onana, yang bertanggung jawab atas terciptanya dua gol Grimsby Town. Onana gagal menghalau tembakan Vernam ke tiang dekat dan tidak cukup akurat untuk memukul bola pada gol kedua. Pertanyaan besar muncul: apa yang dilakukan Onana? Sebagai kiper yang seharusnya menjadi benteng terakhir, kesalahannya menunjukkan kurangnya fokus dan kekuatan fisik, terutama setelah absen di awal musim. Ini bukan hanya masalah individu, melainkan juga mencerminkan suasana tim yang tidak mendukung, ketika pemain terlalu lama memainkan bola dan kalah dalam duel fisik melawan tim yang lebih agresif.
Pemain lain seperti Kobbie Mainoo juga menjadi perhatian. Mainoo, yang saat ini digosipkan akan dijual oleh pihak MU, tampil di lini tengah bersama Manuel Ugarte. Amorim berharap banyak dari pemain berusia 20 tahun ini, tetapi Mainoo kesulitan menunjukkan kualitasnya sebagai ball carrier yang tahan tekanan. Dengan 47 sentuhan bola di babak pertama dan ada kesalahan passing yang membuat Amorim frustrasi. Sistem 3-4-3 Amorim, yang mengandalkan gelandang untuk menutup ruang luas dan melancarkan serangan cepat, terlihat tidak cocok dengan gaya Mainoo. Meski ada peningkatan di babak kedua, ketika ia memberikan assist untuk gol Mbeumo, performa keseluruhan Mainoo tidak cukup untuk menjawab keraguan atas masa depannya di MU.
Tak bisa dimungkiri, sistem Amorim pun menjadi sasaran kritik. Sebab, ia memutuskan untuk memasang lima bek dan tim tampak kehilangan arah sebab mereka bermain tanpa intensitas atau pressing yang jelas. Pemain sering terlalu lama mengontrol bola dan kalah dalam duel, sementara Amorim terlihat semakin tegang dengan berteriak memberikan instruksi di pinggir lapangan. Kekalahan ini menunjukkan kurangnya koneksi antara manajer dan pemain, di mana sepak bola yang lambat dan tidak menarik menjadi ciri khasnya.
Reaksi Amorim dan Implikasi Jangka Panjang
Setelah pertandingan, Amorim (dengan ekspresi kecewa) memberikan wawancara kepada Sky Sports. Ia mengakui Grimsby Town adalah tim yang lebih baik di lapangan dan kekalahan MU terjadi karena kurangnya intensitas sejak awal pertandingan. Ia juga menyamakan kekalahan ini dengan musim lalu, ketika tidak ada kemajuan yang terlihat, dan meminta maaf kepada suporter yang sudah jauh-jauh datang ke Blundell Park. Ia pun menjanjikan perbaikan dalam dua minggu ke depan, tetapi tetap menyalahkan seluruh tim (bukan hanya Onana) termasuk cara mereka menghadapi kompetisi yang tersisa.
Reaksi ini menunjukkan tekanan besar pada Amorim. Chant "sacked in the morning" dari suporter lawan semakin kencang, dan kekalahan ini memperburuk posisinya. Gagalnya penalti dari dua rekrutan baru (Cunha dan Mbeumo) menambah ironi, sementara sikapnya untuk tidak menyaksikan tendangan penalti menunjukkan ketidakberdayaan. Secara historis, kekalahan seperti ini bisa menjadi titik balik, ketika tekanan dari suporter dan manajemen terus meningkat, sehingga berpotensi memicu perubahan taktik atau bahkan pergantian manajer.
***
Kekalahan Manchester United dari Grimsby Town di Piala Carabao merupakan hasil buruk dan cerminan dari krisis yang terjadi. Kesalahan Onana, performa Mainoo, dan gagalnya taktik Amorim berkontribusi pada hasil memalukan ini, yang jarang terjadi pada sejarah klub. Amorim kini menghadapi tekanan berat untuk membalikkan keadaan, terutama dengan jadwal yang lebih sedikit di musim ini. Bagi suporter MU, kekalahan ini adalah pengingat pahit bahwa klub ini, meskipun menjadi salah satu klub terkaya di dunia, masih jauh dari kejayaan setelah ditinggal pensiun Sir Alex Ferguson. Hanya waktu yang akan menjawab apakah momen ini menjadi perubahan positif atau awal dari kemerosotan yang terus berlanjut.