Memahami Isu Kesehatan Mental Remaja dari Theodore Finch dan Violet Markey


Kisah asmara remaja yang dibumbui dengan isu kesehatan mental memang sungguh menarik. Di novel berjudul All the Bright Places ini, kisahnya berjalan melalui dua sudut pandang anak remaja berumur delapan belas tahun, yaitu dari Theodore Finch dan Violet Markey. Finch memiliki latar belakang dari keluarga broken home dan sering diejek "aneh" serta dirundung oleh teman-temannya di sekolah, sehingga membuatnya jadi depresi. Sedangkan Violet, sejak kakak kesayangannya meninggal akibat kecelakaan mobil, ia jadi merasa kesepian dan juga depresi.

Mereka bisa bertemu ketika Finch yang berniat bunuh diri dengan melompat dari atas gedung sekolah, melihat Violet tiba-tiba datang ke sana. Seperti Finch, Violet sebenarnya juga berniat mengakhiri hidupnya. Namun, karena Finch memberikan wejangan kepadanya, sehingga niat tersebut dibatalkan oleh Violet. Begitu juga Finch, ia pun tidak jadi melakukan aksi nekatnya itu. Sementara di bawah gedung, para siswa lain melihat mereka dan menganggap bahwa Violet-lah yang telah menyelamatkan Finch. Dan, tentang kisah yang sebenarnya akan diungkapkan oleh Violet di beberapa bab terakhir.

Lebih lanjut, karena pertemuan di atas gedung itu, hubungan Finch dan Violet semakin dekat, kemudian mereka memutuskan untuk berpacaran. Mereka berusaha untuk saling mengisi satu sama lain dan mengungkapkan semua latar belakang kehidupan masing-masing. Finch, yang dianggap "aneh" pun, menjadi orang spesial dan seru bagi Violet; meskipun teman-teman dekat Violet kurang setuju dengan hubungan mereka. Dari sudut pandang Finch, Violet adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya menjadi "hidup" kembali dan melupakan segala permasalahan yang ada.

Dari novel ini, saya jadi bisa memahami tentang depresi yang dialami oleh anak-anak remaja. Dalam hidup Finch, keluarganya bisa dibilang cuek terhadap masalah yang dialaminya, apalagi ayahnya yang sudah memiliki keluarga baru dan sebelumnya suka bertindak kasar kepadanya; membuat Finch jadi merasa kosong dari kehadiran orang-orang di sekitarnya. Sedangkan, dalam hidup Violet, ia mempunyai ibu dan ayah yang pengertian dan suportif serta teman-teman yang suka berkumpul dengannya. Hanya saja, bayangan masa lalu dari kakaknya yang membuatnya jadi depresi dan terus menganggap bahwa kecelakaan itu terjadi akibat kesalahannya. Dengan demikian, ketika ada orang terdekat yang mengalami depresi, sebisa mungkin kita harus bisa menjadi pendengar yang baik dan sadar bahwa kehidupan kita memiliki "kerikil"-nya masing-masing. Kita tidak pernah tahu masalah apa yang sedang dialami oleh setiap orang, sehingga kita jangan sampai mudah untuk menghakimi, melainkan memahami.

Sehubungan dengan penjelasan sebelumnya, di bagian akhir novel ini, dicantumkan juga kontak-kontak dari lembaga dan yayasan kesehatan jiwa serta pencegahan bunuh diri:

You Might Also Like

0 comments