Anatomi Surealisme dalam 'The Forbidden Worlds of Haruki Murakami'

(Sumber gambar: goodreads.com)

Pertama kali saya bersentuhan dengan karya Haruki Murakami adalah pada 2017 melalui novel Norwegian Wood. Awalnya, saya mengira bahwa Murakami adalah seorang pengarang fiksi realis. Namun, seiring bertambahnya lembaran yang saya baca dari berbagai karyanya, persepsi tersebut berubah drastis. Ia ternyata jauh lebih condong pada surealisme dan sangat produktif menghasilkan kisah-kisah yang melampaui batas realitas.

Rasa penasaran membawa saya menyelami karya-karyanya yang lain; sebut saja After Dark, Kafka on the Shore, Hear the Wind Sing, hingga Pinball, 1973. Tebakan saya terbukti benar: cerita-cerita tersebut memang bernuansa surealisme. Tokoh-tokoh di dalamnya pun memiliki kehidupan dan interaksi tersendiri yang terhubung dengan "dunia lain" serta berbagai kejadian magis.

Sekitar sebulan lalu, usaha saya untuk memahami teka-teki Murakami terjawab ketika membaca buku kajian literatur berjudul The Forbidden Worlds of Haruki Murakami karya Matthew Carl Strecher. Buku yang disusun berdasarkan rentetan karya Murakami hingga tahun 2014 ini hadir sebagai "peta" bagi para pembaca untuk menjelajahi labirin imajinasi sang penulis yang selama ini belum terpetakan.

Membedah "Dunia Lain" (Achiragawa)

Berdasarkan analisis Strecher, "dunia lain" dalam fiksi Murakami, yang oleh beberapa kritikus Jepang kerap disebut sebagai achiragawa (secara harfiah berarti "di sebelah sana"), adalah sebuah dimensi metafisik yang dibangun sepenuhnya melalui bahasa.

Pada buku ini, Strecher menguraikan beberapa elemen kunci yang menjadi fondasi dunia surealis Murakami:

1. Lanskap metafisik: Dunia ini bisa bermanifestasi sebagai sumur tak berdasar di Mars, hotel berbentuk labirin, atau hutan yang gelap. Di sinilah pengalaman, memori, dan mimpi menyatu menjadi sebuah realitas baru.

2. Karakter bawah sadar: Memori dan mimpi tersebut kemudian memunculkan entitas magis, seperti orang-orang tanpa nama atau masa lalu, hewan-hewan fantasi, manusia setengah hewan, hingga mesin yang bisa berbicara.

3. Pencarian makna: Tokoh-tokoh utama Murakami terdorong untuk menjelajahi alam bawah sadar atau "dunia bawah" (underworld) ini demi mencari makna hidup yang hilang atau untuk membongkar misteri-misteri psikologis yang sedang mereka hadapi.

Strecher dengan piawai menyingkap landasan psikologis dan mitologis yang mendasari adegan-adegan paling aneh pada fiksi Murakami, menunjukkan bagaimana jiwa individu dan kolektif terus bergerak di antara hal yang berwujud (tangible) dan tak berwujud (intangible).

Jurnalisme Sastra dan Realitas yang Kelam

Satu hal yang membuat kajian Strecher semakin komprehensif adalah bagaimana ia tidak hanya menyoroti fiksi Murakami, tetapi juga kiprahnya sebagai seorang jurnalis sastra.

Hal ini sangat relevan dengan karya nonfiksi Murakami, Underground (yang sejauh ini belum saya baca). Buku tersebut disusun dari hasil wawancara intens dengan para korban dan pelaku tragedi serangan gas beracun sarin oleh sekte Aum Shinrikyo di stasiun kereta bawah tanah Tokyo pada 1995. Fakta ini membuktikan bahwa konsep "dunia bawah tanah" (underworld) bagi Murakami merupakan kiasan psikologis dalam fiksi serta sebuah realitas kelam dan traumatis yang benar-benar terjadi di dunia nyata.

Analisis Strecher mencapai puncaknya melalui bedah karya secara menyeluruh terhadap novel Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, yang pada saat kajian ini ditulis merupakan rilis terbaru dari Murakami.

***

Karya-karya Haruki Murakami sering menyisakan ruang misteri yang membuat pembacanya meraba-raba. Melalui The Forbidden Worlds of Haruki Murakami, Matthew Carl Strecher berhasil memberikan panduan yang terstruktur untuk memahami alam bawah sadar dan lanskap literatur sang penulis yang enigmatik.

Bagi pembaca yang sudah terlanjur jatuh cinta pada gaya penulisan Murakami dan ingin mengetahui lebih dalam tentang anatomi karyanya, buku ini adalah bacaan yang sangat tepat. Sebab, selain menjawab rasa penasaran tentang dari mana "dunia lain" itu berasal, ia juga memperkaya pengetahuan kita terhadap bagaimana sastra mampu menjembatani realitas, mimpi, dan trauma kolektif manusia.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.