Mati Listrik Massal

  • August 05, 2019
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: bloemfonteincourant.co.za

Sebagai makhluk kontemporer yang tidak bisa lepas dari alat-alat eletronik, kejadian kemarin sampai kisah ini ditulis adalah kejadian yang membuat kebanyakan orang di pulau Jawa merasa kesal dan bahkan mengalami kerugian materiil. Ya, pada hari Minggu lalu (4/8/2019), jaringan listrik padam secara massal di pulau ini. Tak usah diragukan lagi, PLN pun menjadi bahan hujatan warganet.

Saat itu, saya sedang berada di KRL untuk menuju Stasiun Sudimara. Saya berangkat dari Stasiun Tigaraksa setelah tiba-tiba saja KRL yang saya naikki, AC dan lampunya mati. Untung saja, saat itu KRL sudah memasuki Stasiun Parung Panjang, jadi tidak harus berhenti di tengah perjalanan.

Saya mulai merasakan keanehan ketika sudah cukup lama KRL tak kunjung berangkat lagi. Saya pun menghubungi Hessa untuk memberitahu kejadian tersebut via telepon karena kami berencana untuk pergi ke mal BXChange.

“Lha, kok sama ya? Di sini juga mati listrik. Dari tadi AC di rumahku mati, jadi panas banget. Kamu jadi ke sini?” katanya dengan nada agak kesal karena kegerahan.

“Belum tau nih, tergantung keretanya bakal berangkat jam berapa. Nanti aku kabarin lagi ya,” jawab saya singkat.

Obrolan pun kami akhiri karena sinyal ponsel mulai terganggu. Awalnya saya merasa bahwa mati listrik terjadi di sekitar Tangerang saja, belum sampai ke luar wilayah. Namun, tiba-tiba ada pesan masuk di grup WhatsApp yang diisi oleh teman-teman sekantor.

“Di rumah kalian pada mati listrik sama internet nggak?” tanya teman saya itu, ia tinggal di Pasar Minggu.

“Wah iya nih. Gue kira cuma di daerah Tangerang, ternyata Jabodetabek juga ya? Pantesan dari tadi gue lagi teleponan, sinyalnya sibuk sama nggak masuk terus,” saya membalas pesan tersebut dan merasa bahwa keanehan ini tidak terjadi di tempat saya berada saja, tapi di luar daerah juga.

Sudah lama saya menunggu KRL yang tak kunjung berangkat, lalu ada pengumuman dari pihak stasiun.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan karena aliran listrik untuk KRL sedang bermasalah. Hal itu diakibatkan karena PLN Jawa-Bali mengalami gangguan.”

Wah, benar dugaan saya. Karena sejak mati lampu dan AC di KRL, itu sudah pertanda bahwa kereta sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan karena padamnya daya listrik. Saya lalu mencari informasi cepat via internet tentang kejadian matinya listrik di Jabodetabek. Untungnya, salah satu dari dua kartu SIM yang saya gunakan masih ada sinyal internet. Saya pun menemukan berita ini dari Twitter:


Tak diragukan lagi, ini sudah gawat. Segala moda transportasi sudah terkena dampaknya. Bukan lagi hanya mati listrik biasa di beberapa kota besar Jabodetabek yang--bisa jadi--menyala beberapa menit kemudian. Rencana saya untuk bertemu Hessa pun akhirnya saya pertimbangkan lagi.

Para penumpang lain di KRL yang saya naikki mulai keluar satu per satu dengan raut muka bosan dan sebal, serta mungkin ada yang mengutuk pihak KRL dengan kata-kata kasar karena rencana yang sudah disusun sejak awal untuk hari Minggu, kemungkinan tak bisa diwujudkan.

Saya mulai bingung karena saya berada di tengah-tengah perjalanan. Ingin melanjutkan naik ojek daring ke Sudimara, akan membutuhkan waktu lama di perjalanan. Selain itu, kepastian tentang keberangkatan KRL juga belum ada, kemungkinan ujung-ujungnya saya akan terjebak lagi di stasiun. Apalagi, saat itu saya berpikir bagaimana saya bisa buang air besar dan kecil karena ketika saya menuju toilet stasiun, ada tulisan di kertas bahwa air habis, sehingga toilet tak bisa digunakan. Wah, situasi sudah tambah parah saat kita sudah tak bisa mendapatkan akses air bersih dan sanitasi. Setelah saya pikirkan masak-masak, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Keputusan itu terpaksa saya lakukan tanpa memberitahu Hessa terlebih dahulu karena beberapa kali saya menghubungi nomor ponselnya, sinyal kami selalu bermasalah. 

Saya berencana pulang dengan memesan ojek daring karena sinyal internet saya di sana saat itu masih kuat. Saya mulai membuka aplikasinya dan mengatur tujuan saya ke Stasiun Tigaraksa. Saya tidak memilih alamat rumah saya karena khawatir si pengemudi ojek daring bakal menolak karena jaraknya yang jauh, jadi saya memilih tempat strategis, asalkan saya bisa pulang terlebih dahulu. Akhirnya, si pengemudi ojek daring menerima permintaan pesanan. Namun, terlebih dahulu, saya memastikan di kolom obrolan aplikasi apakah ia bisa mengantarkan saya ke tempat tujuan yang berjarak 19 kilometer.

“Iya, nggak apa-apa, Pak,” balas si pengemudi dengan singkat, lalu “Saya tunggu di depan kantor pos ya.”

Saya pun keluar dari area Stasiun Parung Panjang. Terlihat di sekitar saya, banyak orang yang masih berkumpul dan belum tahu keputusan apa yang akan mereka pilih. Setelah sampai depan kantor pos, saya pun bertemu dengan pengemudi ojek.

Perjalanan menuju Stasiun Tigaraksa, kami tempuh sekitar 35 menit.

***

Sesampainya di Stasiun Tigaraksa, dari dua kartu SIM yang saya miliki, dua-duanya tidak aktif sama sekali. Saya merasa beruntung ketika di Parung Panjang, sinyal di SIM satu masih kuat, sehingga saya bisa memesan ojek daring. Di sini, saya kembali memesan ojek pangkalan karena cuaca yang panas saat itu dan jarak rumah saya yang masih sekitar dua kilometer. Oh iya, alasan lain kenapa saya tadi tidak sekalian memesan ojek daring sampai rumah karena saya khawatir si pengemudi akan dihadang dan dimarahi oleh tukang ojek pangkalan di daerah rumah saya seperti kejadian-kejadian sebelumnya, jadi saya tak ingin membuat orang lain mengalami kesusahan.

Ketika sudah tiba di rumah, ibu saya heran kenapa saya cepat sekali perginya.

“Bukan cepat, Bu, tapi karena ada mati listrik sepulau Jawa, jadi KRL nggak berfungsi,” respons saya berdasarkan berita daring yang saya baca tadi.

“Serius sepulau Jawa? Waduh bakal repot nih, untungnya tadi malam rumah kita udah nyalain air untuk persediaan dua hari ke depan. Kalau enggak, bisa-bisa kita merana nih,” ungkap Ibu dengan nada bersyukur.

***

Ya, di hari Minggu tersebut, mati listrik telah terjadi secara massal di kebanyakan daerah di Pulau Jawa. Efek kerugian yang dihasilkan pun sungguh banyak, dari moda transportasi--seperti KRL dan MRT--yang berhenti di tengah perjalanan, sehingga mengakibatkan terlantarnya para penumpang; berhentinya lampu lalu lintas yang menyebabkan tak teraturnya kendaraan; sampai banyak orang yang kesusahan untuk mengakses air bersih di rumahnya.

Dari sini saya berpikir, PLN memang salah karena kurang mengantisipasi hal seperti ini. Namun, di sisi lain, peran listrik di kehidupan kita memang sudah sangat vital. Apalagi bagi manusia yang terbiasa menggunakan gawai dan sinyal seluler seperti saya. Dari kejadian tersebut, saya jadi seperti terisolasi dari peradaban, saya tak bisa mengakses informasi lewat internet, sampai saya tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdekat lewat WhatsApp.

Saya medoakan bagi penemu listrik dan segala penemu alat yang telah memudahkan manusia supaya mereka masuk Surga, apa pun itu istilah tentang tempat terbaik di sisi-Nya.

You Might Also Like

0 comments