Kehidupan Setelah Lulus Kuliah

  • November 01, 2019
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: dpsayings.com

Lulus kuliah adalah hal yang paling saya inginkan pada 2016 lalu. Ketika itu, saya sudah merasa bosan dengan segala matakuliah yang ada dan juga mulai menyadari bahwa segala keperluan selama saya menjadi anak kuliah, dibiayai oleh orang tua. Sudah tak enak rasanya ketika apa-apa masih minta uang ke mereka. Lalu, setelah banyak hal yang terjadi ketika menyusun skripsi sampai sidang, saya pun lulus sidang pada Januari 2017 dan merayakan wisuda empat bulan kemudian.

Kebanyakan dari teman-teman saya sudah menentukan jalan hidupnya setelah lulus kuliah, ada yang melanjutkan S2 atau melamar pekerjaan. Dua hal itu, ternyata, menjadi pilihan yang harus segera saya putuskan. Cukup lama saya memutuskan, sehingga saya tak menyadari bahwa sudah setengah tahun saya tak melakukan aktivitas berarti setelah lulus kuliah. Bisa dibilang, menjadi pengangguran; kata yang kurang saya suka karena itu menandakan bahwa saya hanya bermalas-malasan di rumah.

Tapi, apa memang saya bermalas-malasan?

Tidak. Malah, saya sampai pusing ketika saya masih belum mendapatkan keputusan tentang arah perjalanan saya selanjutnya.

Setelah saya tidak lagi menjadi anak kos, saya pun kembali ke rumah orang tua setelah lulus kuliah. Kembali menjadi anak rumahan yang segalanya diatur dan memang harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh mereka. Karena sudah terbiasa melakukan segalanya dengan keputusan sendiri ketika masih menjadi anak kos, saya jadi harus beradaptasi lagi dengan situasi yang ada. Selama masa menganggur itu, saya jadi tak betah berada di rumah. Kemudian, apa yang saya lakukan?

Saya berpikir. Ya, berpikir tentang ingin melanjutkan S2 atau melamar pekerjaan. Pada awal lulus kuliah, sebenarnya orang tua saya menawarkan untuk membiayai kuliah S2 jika saya ingin. Namun, setelah dipikir-pikir, saya merasa tawaran tersebut seperti “beban” selanjutnya yang akan saya pikul. Saya tidak ingin membuat orang tua saya susah memikirkan uang untuk biaya S2, apalagi biaya tersebut memang sangat mahal jika tidak melalui beasiswa. Karena saya berasal dari keluarga sederhana, saya sudah merasa sangat bersyukur telah dibiayai pendidikan dari TK sampai S1.

Selain itu, teman-teman dekat saya semasa kuliah seperti “hilang”. Maksudnya, mereka sudah susah ditemui karena jarak kami yang jauh, berbeda seperti saat kami masih di kampus dan saya masih menjadi anak kos. Kalaupun ingin bertemu, harus saling membuat janji dulu dan itu tak gampang. Mereka sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sedangkan saya saat itu, masih bingung belum menemukan tujuan setelah lulus kuliah.

Setelah mempertimbangkan segalanya, saya memang harus mencari pekerjaan. Situs pencari kerja daring, seperti Jobstreet, pun sering saya kunjungi, kemudian saya membuat akun di sana supaya informasi lowongan kerja bisa segera saya dapatkan lewat surel atau langsung di beranda situs tersebut. Saya mulai aktif mencari pekerjaan sejak Juli 2017 sampai Februari 2018. Selama itu, saya menghabiskan banyak waktu di kamar. Seandainya ingin keluar rumah, biasanya hanya untuk menghadiri perayaan wisuda teman terdekat di kampus. Saya juga jarang keluar untuk bersosialisasi di lingkungan rumah karena saya sering mendengar pertanyaan, “Lu sekarang sibuk apa, Gung? Kerja atau lanjut S2?”. Pertanyaan sederhana, tapi jika dijelaskan akan jadi panjang lebar dan akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain dari si penanya yang malas saya jawab. Dengan begitu, pikiran dan hati saya seakan memaksa untuk menyendiri di kamar.

Selama masa-masa saya mencari kerja, ada beberapa lamaran yang diterima. Pertama, pada September 2017, yaitu di perusahaan berita daring yang sedang membangun bisnisnya. Saya tidak diterima ketika wawancara tahap kedua, itu bisa saya ketahui karena tak ada informasi lanjutan di surel saya. Kedua, pada Desember 2017, yaitu perusahaan pengurusan tiket pesawat. Saya tahu perusahaan tersebut dari salah satu teman kuliah yang sudah bekerja di sana. Lagi-lagi, saya gagal di tahap wawancara. Ketiga, pada Januari 2018, yaitu lembaga kursus Bahasa Inggris ternama. Saya melamar menjadi guru di sana, meskipun sebenarnya saya tidak ada minat terhadap profesi tersebut. Tapi, daripada menganggur, saya coba saja. Ternyata, saya gagal di tahap tes pertama yang ujiannya harus mengisi soal-soal berbahasa Inggris seperti dalam TOEFL. Terakhir, pada Februari 2018, ada dua perusahaan yang menerima lamaran saya, yaitu perusahaan teknologi yang berfokus pada berita daring dan perusahaan wedding organizer asal Jepang. Di perusahaan wedding organizer itu, saya tidak lolos karena mendapatkan informasi di surel yang menyatakan hal tersebut. Sedangkan, di perusahaan teknologi yang saya sebut sebelumnya, ternyata saya lolos di tahap psikotes sampai wawancara terakhir. Di perusahaan teknologi yang bernama BABE (Baca Berita) ini, akhirnya menjadi langkah saya selanjutnya untuk mulai berkarier. Saya pun mendapatkan aktivitas kembali setelah lama lulus kuliah, yaitu menjadi pegawai digital.

***

Mengenang kembali perjalanan saya setelah lulus kuliah memang dibilang sulit. Saya bingung ingin melakukan apa. Beda dengan di tingkat pendidikan sebelumnya saat TK, SD, SMP, SMA, dan S1. Saya masih bisa bertanya tentang pengalaman memilih sekolah atau kampus dan segala pengalaman yang terjadi selama mengalami masa pendidikan tersebut ke orang terdekat. Sedangkan ketika lulus S1, banyak masukan yang harus dipilih antara melanjutkan S2 atau langsung mencari pekerjaan. Kedua pilihan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing bagi saya. Jadi, setelah mempertimbangkan mana yang terbaik, saya memilih untuk bekerja.

Proses dalam mendapatkan pekerjaan sudah saya ceritakan sebelumnya. Setelah saya merasakan langsung, mencari pekerjaan memang susah. Bahkan, saya pernah hampir menjadi korban penipuan. Saat itu, saya sering melampirkan syarat-syarat lamaran di berbagai situs pencari kerja, mungkin saya tak sadar telah masuk ke situs yang dimiliki oleh si penipu, sehingga tiba-tiba ada telepon yang menginformasikan bahwa saya diterima di perusahaan minyak negara. Tapi, si penelepon malah meminta saya mentransfer uang sebesar delapan juta rupiah. Karena saya curiga, saya pun bilang akan mentransfer uang tersebut, tapi sebenarnya tidak saya lakukan, lalu langsung memblokir nomornya. Itu adalah kejadian berharga bagi saya selama masa menganggur. Oleh karena itu, pikiran kritis terhadap sesuatu memang sangat dibutuhkan supaya kita tidak mudah terhasut terhadap segala sesuatu yang instan dan tanpa melalui proses.

Selain itu, dari pengalaman pahit selama menganggur, saya jadi bisa lebih menghargai dan mensyukuri aktivitas yang sedang saya jalani. Saya selalu berusaha untuk tak mengeluh. Gaji yang saya dapatkan dari bekerja pun lebih dari cukup, sehingga sebagian bisa diberikan juga ke orang tua.

***

Kehidupan saya sekarang adalah lembaran baru setelah lulus kuliah. Bertemu orang-orang baru dan pengalaman baru membuat saya jadi memahami tentang proses hidup yang begitu kompleks. Rasa rindu ketika masih menjadi mahasiswa masih sering muncul, tapi saya harus bisa terus belajar dan memahami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Setiap masa memiliki pengalamannya masing-masing, sehingga saya selalu berusaha menikmatinya.

You Might Also Like

0 comments