(Sumber gambar: goodreads.com)
Dalam semesta The Boys, Garth Ennis dan Darick Robertson tidak pernah berhenti meruntuhkan keagungan pahlawan super. Namun, melalui Volume 4: We Gotta Go Now, dekonstruksi tersebut bergeser dari sekadar sindiran kekerasan eksplisit menjadi eksplorasi trauma psikologis dan eksploitasi anak yang sistematis. Mengambil satire dari budaya populer X-Men, volume ini membedah sisi gelap sosok pemimpin seperti John Godolkin dan membongkar bagaimana korporasi raksasa seperti Vought-American mengendalikan krisis demi mempertahankan keberlangsungan hidup organisasi.
Tragedi di Balik Layar
Volume ini mengawali kisah dengan peristiwa ganjil: Silver Kincaid tiba-tiba saja melakukan bunuh diri di hadapan publik sambil menyebut nama "Uncle Paul". Peristiwa ini mendorong Billy Butcher memerintahkan Wee Hughie untuk menyusup ke dalam kelompok Supes remaja berjuluk G-Wiz. G-Wiz merupakan langkah pertama supaya Hughie bisa menuju markas utama grup Supes paling menguntungkan di dunia (G-Men) yang dipimpin seorang miliarder bernama John Godolkin.
Investigasi pun berjalan dengan cara Hughie mengaku sebagai salah satu remaja yang memiliki kekuatan super, sehingga ia bisa berbaur dan berteman dengan angota G-Wiz. Selain itu, Mother's Milk juga menelusuri fakta tentang latar belakang terbentuknya grup Supes tersebut di Cranbook. Sebab, informasi resmi yang menyebut bahwa anggota G-Men berasal dari "anak yatim piatu yang diselamatkan" terbukti sebagai kebohongan. Mereka adalah anak-anak yang diculik dari keluarga mereka, disuntik Compound V, dan secara sistematis mengalami pelecehan oleh Godolkin di bawah manipulasi kasih sayang palsu dan loyalitas. G-Men bukanlah keluarga; mereka adalah tempat penampungan trauma massal yang dikemas rapi di bawah citra pahlawan super.
Oase Kemanusiaan di Tengah Lingkaran Setan
Di tengah suasana yang makin suram, porsi romansa antara Hughie dan Annie January (Starlight) dalam volume ini berfungsi sebagai kontras yang menyayat hati. Momen kencan mereka di rumput terbuka (di mana keduanya saling menyembunyikan identitas pekerjaan yang sebenarnya sebagai anggota The Boys dan The Seven) menunjukkan betapa rindunya mereka pada kehidupan normal.
Namun, sikap Hughie yang polos semakin lama semakin terkikis akibat realitas pekerjaan yang ia jalani. Ketika Hughie harus menyaksikan rasa putus asa dan depresi yang dialami para remaja di G-Wiz hingga ia meratapi momen tersebut di pelukan Annie pada akhir volume, Ennis memperlihatkan beban moral yang harus dipikul oleh manusia biasa saat dipaksa melihat kebusukan di balik topeng para pahlawan super.
Korporasi vs. Keselamatan
Puncak konflik dalam volume ini terjadi ketika fakta sebenarnya mengenai G-Men hendak terbongkar serta bentrokan fisik antara The Boys dan pasukan G-Men yang tidak terelakkan. Di saat The Boys bersiap menghadapi pertempuran hidup-mati, Vought (melalui eksekutif utamanya, Stillwell "The Guy from Vought") mengambil kendali secara brutal.
Menggunakan pasukan Red River, Vought membantai dan membakar seluruh anggota G-Men secara hidup-hidup di depan mata The Boys. Dialog pun terjadi ketika Stillwell berkata kepada Butcher, "Just so you know. We can clean up our own shit", menjadi aksi pamer kekuasaan yang sesungguhnya. Vought tidak bertindak atas dasar keadilan atau penyesalan moral atas kejahatan Godolkin; mereka bertindak demikian supaya kerusakan yang dilakukan Godolkin tidak semakin jauh sehingga mencemarkan nama baik "produk" pahlawan super yang mereka kelola. Selain itu, tindakan menghabisi Pre-Wiz (tim pahlawan super kategori anak-anak) dengan membuang mereka (yang ada di dalam kontainer) ke lepas pantai menegaskan bahwa bagi Vought, nyawa manusia dan Supes hanyalah perhitungan untung-rugi dalam sistem korporasi.
***
The Boys, Vol. 4: We Gotta Go Now menampilkan jalan cerita yang membedah struktur eksploitasi anak, trauma psikologis, dan kekejaman pragmatis korporasi. Volume ini pun berhasil membuktikan bahwa ancaman terbesar dalam semesta The Boys bukanlah para pahlawan super yang hilang kendali, melainkan entitas korporasi yang menciptakan, memanipulasi, dan menghancurkan mereka demi mempertahankan kekuasaan.

