(Sumber gambar: goodreads.com)
Tahun lalu, dunia sepak bola dikejutkan oleh keputusan FIFA yang menganugerahkan Peace Prize perdana mereka kepada Donald Trump menjelang Piala Dunia 2026. Momen ikonik ini, yang disusul dengan kehadiran bintang sepak bola Cristiano Ronaldo bersama Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dalam sebuah jamuan makan malam, memicu pertanyaan: Bagaimana permainan yang indah ini berubah menjadi panggung megah bagi oligarki, korupsi, dan otoritarianisme global?
Peristiwa ini membawa kita kembali pada buku karya Franklin Foer yang terbit pada 2004, How Soccer Explains the World. Dua puluh tahun lalu, Foer menggunakan sepak bola sebagai lensa untuk memahami globalisasi. Namun, melihat realitas hari ini, narasi optimistis Foer tentang liberalisme Barat tampaknya telah usang, digantikan sisi globalisasi yang jauh lebih sinis.
Tesis Foer (2004): Globalisasi dan Janji-Janji Liberalisme Barat
Pada awal 2000-an, dunia tengah mabuk kepayang oleh gagasan akhir sejarah (the end of history) dan kemenangan pasar bebas. Dalam bukunya, Foer menjelajahi berbagai belahan dunia untuk melihat bagaimana budaya lokal merespons arus globalisasi Barat yang tampaknya tak terbendung.
Bagi Foer, sepak bola adalah miniatur dari pergolakan ideologi dunia:
1. Tribalisme Atavistik: Di Serbia, suporter garis keras Red Star Belgrade digambarkan sebagai representasi dari tribalisme kuno Balkan yang menolak janji damai globalisasi.
2. Kerinduan akan Budaya Barat: Di Iran, para perempuan yang menyelinap ke dalam stadion sepak bola dipandang sebagai simbol kerinduan masyarakat lokal akan dunia Barat yang maju, kapitalis, dan sekuler.
Pada masanya, buku ini adalah karya jurnalisme perjalanan yang memikat. Foer menangkap kompleksitas identitas, seperti rivalitas sektarian antara Celtic dan Rangers di Glasgow yang ternyata menjadi proksi ketegangan politik di Irlandia Utara.
Kritik Dua Dekade Kemudian: Kebutaan terhadap Sisi Gelap Kapitalisme
Meskipun sangat enak dibaca, dari sudut pandang hari ini, How Soccer Explains the World gagal mengantisipasi dinamika yang justru menggerakkan politik internasional di abad ke-21. Foer menulis di penghujung sebuah era, tetapi ia gagal melihat apa yang akan datang berikutnya: kebangkitan otokrasi global yang memanfaatkan sepak bola sebagai alat cuci dosa (sportswashing).
Ada beberapa kelemahan mendasar dari analisis Foer yang kini terlihat jelas:
1. Eurosentrisme yang Kental
Buku Foer mengasumsikan bahwa Barat adalah pusat gravitasi dunia. Ketika membahas seorang pemain Nigeria yang merumput di Liga Ukraina, Foer berfokus pada adaptasi budaya si pemain di tengah musim dingin Lviv. Ia melewatkan pertanyaan struktural yang lebih besar: Mengapa para pemain berbakat Afrika begitu putus asa untuk pindah ke liga-liga minor Eropa yang kualitas tim nasionalnya bahkan berada di bawah negara mereka?
Foer mengabaikan bagaimana kapital global (seperti investasi masif Tiongkok di infrastruktur stadion Afrika) telah mengubah geopolitik sepak bola, atau bagaimana pemain Afrika menyebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Uni Emirat Arab hingga Indonesia, demi menyambung hidup.
2. Ilusi Otentisitas lokal (Kasus FC Barcelona)
Dalam bukunya, Foer memuji FC Barcelona sebagai contoh bagaimana klub sepak bola bisa mempertahankan nilai-nilai lokal dan menolak komersialisasi ekstrem globalisasi. Ia mengagumi keputusan Barca yang kala itu menolak memasang sponsor di jersi mereka.
Namun, sejarah membuktikan bahwa romantisisme Foer keliru. Hanya dalam hitungan tahun setelah buku itu terbit:
- Barcelona menyerah pada godaan kapitalisme global dengan memasang logo Qatar Airways, kemudian Rakuten.
- Kini, jersi merah-biru ikonik mereka telah menjadi papan iklan komersial berkat kesepakatan dengan Spotify, bahkan sempat menampilkan logo lidah Rolling Stones hingga nama album Ed Sheeran.
Monokultur Sepak Bola dan Perjanjian Faustian
Dua Piala Dunia terakhir (di Rusia dan Qatar) adalah bukti nyata dari apa yang gagal diprediksi oleh Foer: bahwa globalisasi sepak bola tidak membawa nilai-nilai liberal Barat ke seluruh dunia, melainkan membawa uang dari rezim otoriter untuk mendikte sepak bola Barat.
1. Penyedotan Bakat Lokal: Kekayaan luar biasa yang berpusat di segelintir liga top Eropa (terutama Liga Primer Inggris) telah menyedot talenta terbaik dari liga-liga kecil di seluruh dunia, membunuh ekosistem sepak bola lokal demi menciptakan sebuah monokultur global di layar kaca.
2. Sportswashing Eksplosif: Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan UAE membeli klub-klub bersejarah Eropa dan mendatangkan pemain megabintang seperti Cristiano Ronaldo ke klub lokal mereka dengan kontrak ratusan juta euro untuk memoles citra internasional mereka, mengalihkan perhatian dunia dari isu pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi pekerja migran.
***
Franklin Foer benar bahwa sepak bola bisa menjelaskan dunia, tapi dunia yang ia potret pada 2004 telah lenyap. Buku tersebut kini berfungsi sebagai dokumen sejarah dari era ketika kita percaya bahwa globalisasi pasar bebas otomatis akan membawa demokrasi.
Hari ini, sepak bola tidak lagi menjelaskan kemenangan liberalisme Barat, melainkan menjelaskan bagaimana kapitalisme global yang tidak terkendali bisa dengan mudah berselingkuh dengan kekuasaan otoriter. Ketika FIFA memberikan penghargaan perdana mereka kepada figur politik kontroversial di tahun 2026, sepak bola menegaskan peran sesungguhnya di abad ini: sebagai mesin pencuci uang dan citra paling efektif di planet bumi.

