Spider-Man Noir #2 (2008)

(Sumber gambar: marvel.com)

Konspirasi di Balik Kebakaran

Di tengah kekacauan sebuah apartemen yang dilalap api, Ben Urich dan Peter Parker mendokumentasikan tragedi tersebut. Di saat Peter terpaku menyaksikan penderitaan para penghuni yang kehilangan tempat tinggal, Urich menanggapinya dengan sikap apatis.

Saat mencuci foto di kamar gelap, Urich menjelaskan kenyataan pahit kepada Peter: kebakaran tersebut kemungkinan besar sengaja disulut oleh pemilik gedung demi mencairkan uang asuransi. Ketika Peter bersikeras bahwa ada korban jiwa (seorang gadis muda) dan pelaku harus diadili atas pembunuhan, Urich mengabaikannya dan menganggap "beruntung hanya satu orang yang tewas." Namun, Peter menemukan sosok Fancy Dan (anggota geng Goblin) di tengah kerumunan dalam foto tersebut. Yakin bahwa Goblin berada di balik semua ini, Peter berniat melaporkannya, tetapi Urich mencegahnya dan menyuruh Peter mengantarkan foto-foto tersebut ke kantor Daily Bugle.

Kutukan Sang Dewa Laba-Laba

Malamnya, Peter bergegas ke apartemen Urich untuk menunjukkan koran edisi terbaru. Di sana, ia mendapati Urich dalam kondisi setengah tidak sadar akibat pengaruh heroin. Tiba-tiba telepon berdering dari seorang informan bernama "The Fly" yang mencari Urich. Informan tersebut membocorkan bahwa anak buah Goblin akan melakukan transaksi barang antik selundupan di Gudang Dermaga 57 pada pukul 1 dini hari. Peter memutuskan pergi ke sana sendiri dan meninggalkan pesan untuk Urich.

Di Dermaga 57, kelompok The Enforcers dan Kraven sedang memindahkan sebuah peti berisi patung laba-laba kuno yang, konon, terkutuk. Kecelakaan terjadi ketika Fancy Dan menjatuhkan peti tersebut hingga pecah, melepaskan ratusan laba-laba mistis yang langsung mengerumuni dan menggigitnya hingga tewas.

Dari atas langit-langit gudang, Peter menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut dengan panik. Tak disangka, seekor laba-laba mendarat di tangannya dan menggigitnya. Peter seketika pingsan dan mengalami mimpi buruk bertemu dengan sosok laba-laba raksasa.

Ketika terbangun, Peter mendapati dirinya tergantung di langit-langit gudang, terselimuti jaring, dan menyadari bahwa ia kini memiliki kelincahan luar biasa serta indra laba-laba (spider-sense).

Pengkhianatan dan Perubahan

Keesokan harinya, Urich menemui Norman Osborn (The Goblin) di kantornya untuk memerasnya menggunakan foto Fancy Dan di lokasi kebakaran. Namun, Osborn dengan tatapan tajam mengatakan bahwa Fancy Dan sudah tidak berguna baginya. Osborn kemudian membeli foto tersebut seharga $50 sebagai uang tutup mulut.

Tiba-tiba, Peter (yang kini mengenakan kostum Spider-Man) menerobos jendela kaca dan dengan cepat melumpuhkan Kraven serta Vulture. Ia mengancam Osborn untuk menghentikan seluruh bisnis narkoba, prostitusi, dan pemerasan di kota tersebut. Namun, Osborn balik menantang bahwa satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membunuhnya.

Di tengah konflik, Spider-Man terkejut saat melihat foto Fancy Dan yang dibawa Urich ada di meja Osborn. Menyadari bahwa mentor yang dihormatinya ternyata adalah wartawan korup yang menjual informasi ke mafia demi uang narkoba, Spider-Man mengejar Urich yang melarikan diri ke jalanan. Spider-Man meluapkan kemarahannya, menyebut Urich sebagai pecandu alkohol dan obat-obatan yang bisa dibeli seperti anjing murahan. Mengetahui bahwa sosok di balik topeng itu adalah Peter, Urich yang dirundung rasa bersalah memutuskan untuk bertobat. Ia melemparkan uang $50 kembali ke wajah Osborn dan menyatakan dirinya keluar dari lingkaran hitam mereka.

Akhir yang Tragis

Menyadari Urich kini menjadi ancaman yang berbahaya, Osborn mulai menyusun rencana. Dari apartemennya, Urich menelepon J. Jonah Jameson (JJJ), menyatakan bahwa ia memiliki semua bukti untuk meruntuhkan kekaisaran kriminal Goblin untuk selamanya. JJJ menyuruh Urich untuk tetap di tempat dan berjanji akan segera datang membantunya.

Saat bersiap untuk memulai hidup baru dan membersihkan dirinya dari jerat narkoba, pintu apartemen Urich diketuk. Begitu ia membukanya, seseorang langsung menembaknya dua kali hingga tewas.

Sementara itu, di kamarnya, Peter memodifikasi pakaian perang mendiang pamannya menjadi kostum tempur lengkap dengan senjata api. Komik ini ditutup dengan halaman terbelah yang kontras: di sisi kiri, JJJ sedang menelepon Goblin dan berkata, "Sudah selesai. Laba-laba itu sudah mati." Sementara di sisi kanan, Peter berdiri tegak di atas gedung dengan kostum Spider-Man Noir sambil bergumam, "Berdoalah, Goblin. Sang Spider-Man datang menjemputmu!"

***

Spider-Man Noir #2 menaikkan ketegangan secara drastis dibanding edisi pertamanya. Sebab, selain menyajikan momen ikonis tentang asal-usul kekuatan Peter Parker versi alternatif, edisi ini juga menghadirkan tragedi moral dan kejatuhan karakter secara emosional.

Kelebihan

1. Alih-alih gigitan laba-laba radioaktif yang bernuansa fiksi ilmiah seperti versi modern, komik ini mempertahankan elemen mistis era 1930-an. Pengenalan kekuatan lewat "kutukan" dari entitas dewa laba-laba kuno terasa pas dengan nuansa supranatural yang gelap dan menambah beban psikologis bagi Peter.

2. Hubungan antara Peter dan Ben Urich disajikan secara tragis. Urich bukanlah mentor yang sempurna; ia adalah sosok yang rusak, pecandu narkoba yang berkompromi dengan kejahatan demi bertahan hidup. Benturan idealisme Peter dengan realitas korup Urich menciptakan drama manusia yang kuat sebelum akhirnya Urich tewas di saat ia mencoba melakukan hal yang benar.

3. Perubahan Peter di akhir komik terasa memuaskan. Menggunakan jaket kulit, kacamata penerbang, dan pistol peninggalan pamannya memberikan identitas visual yang kuat bahwa Spider-Man versi ini siap melanggar aturan moral tradisional untuk menegakkan keadilan.

Kekurangan

Ben Urich adalah salah satu karakter menarik di seri ini. Kematian tragisnya di akhir edisi kedua (meski memberikan motivasi emosional yang kuat bagi Peter) terasa sedikit terlalu cepat, mengingat potensi dinamika hubungan mentor-murid yang masih bisa digali lebih dalam.

Kesimpulan

Edisi kedua ini sukses memperkokoh fondasi Spider-Man Noir sebagai salah satu kisah alternatif terbaik Marvel. Dengan tema pengkhianatan, konspirasi politik, dan akhir yang menggantung tentang keterlibatan J. Jonah Jameson dengan Goblin, komik ini berhasil mempertahankan rasa penasaran pembaca untuk edisi berikutnya.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.