(Sumber gambar: goodreads.com)
Membaca kembali buku Spider-Man and Philosophy: The Web of Inquiry yang disunting Jonathan J. Sanford memberikan saya sudut pandang baru dalam melihat Peter Parker. Sebab, ia adalah personifikasi dari pergulatan etika, eksistensialisme, dan moralitas yang kompleks.
Salah satu pertanyaan paling mendasar yang muncul setelah mendalami buku ini adalah: Apakah Peter Parker benar-benar berkewajiban secara moral untuk menjadi Spider-Man, dan haruskah ia terus memikul rasa bersalah atas kematian Paman Ben?
Kematian Paman Ben: Antara Utang Moral dan Keberuntungan Moral
Panel komik Spider-Man yang menunjukkan ungkapan "With great power comes great responsibility".
(Sumber gambar: reddit.com/r/Spiderman)
"With great power comes great responsibility."
Kalimat legendaris ini menjadi motor penggerak Peter Parker. Namun, esai dari Taneli Kukkonen (What Price Atonement?) dan Philip Tallon (With Great Power Comes Great Culpability) mengajak kita melihat slogan tersebut untuk menjawab rasa bersalah Peter.
Utang Moral yang tak terbayar (infinite debt): Kukkonen berargumen bahwa Peter memandang kelalaiannya membiarkan sang pencuri lolos sebagai utang moral seumur hidup kepada Paman Ben. Masalahnya, utang ini bersifat infinite; tidak akan pernah lunas seberapa banyak pun penjahat yang ia tangkap.
Tragedi keberuntungan moral (moral luck): Di sinilah poin krusial terbukti secara filosofis. Tallon membahas fenomena ketika manusia sering dinilai bukan berdasarkan niatnya, melainkan berdasarkan konsekuensi acak di masa depan yang tidak bisa diramal.
Analogi Kasus: Dua orang sama-sama menyetir dalam keadaan mabuk. Pengemudi A pulang dengan selamat tanpa menabrak siapa pun karena jalanan sepi (beruntung). Pengemudi B menabrak seorang anak hingga tewas (sial). Secara moral, tindakan keduanya sama-sama salah, tetapi masyarakat (dan diri mereka sendiri) akan menghakimi Pengemudi B secara lebih kejam.
Peter Parker mengalami moral luck yang buruk. Saat ia membiarkan si pencuri lolos, ia bertindak egois, tetapi ia "tidak bisa meramal" bahwa garis takdir akan membawa pencuri tersebut langsung ke hadapan Paman Ben. Secara etika, terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas variabel masa depan yang berada di luar kendali manusia adalah bentuk siksaan psikologis yang tidak adil bagi dirinya sendiri.
Mengapa Harus Menjadi Pahlawan?: Deontologi vs. Konsekuensialisme
Adegan ikonis di film Spider-Man 2 ketika Spider-Man menahan kereta yang berisi banyak manusia, dengan seluruh kekuatannya, supaya tidak jatuh.
(Sumber gambar: slashfilm.com)
Apakah Peter "berkewajiban" melakukan aksi pahlawan tersebut? Mark D. White (My Name is Peter Parker) membedah hal ini menggunakan dua pilar besar etika:
1. Etika Deontologi (Immanuel Kant)
Pandangan ini menyatakan bahwa suatu tindakan disebut benar jika didasarkan pada "kewajiban murni", tanpa memedulikan hasil akhirnya. Jika Peter menggunakan prinsip Kant, ia menjadi Spider-Man karena ia tahu memiliki kekuatan khusus memberikannya tugas kategoris untuk menolong sesama. Sebaliknya, jika ia melarikan diri dari tugas, itu adalah pelanggaran moral.
2. Etika Konsekuensialisme/Utilitarianisme
Pandangan ini menilai benar atau salahnya tindakan berdasarkan "akibatnya". Menjadi Spider-Man sering menghancurkan kehidupan pribadi Peter (ia kehilangan pekerjaan, nilai kuliah/sekolahnya menurun, dan hubungannya dengan Mary Jane berantakan). Namun, secara utilitarian, kebahagiaan dan keselamatan ribuan warga New York yang ia selamatkan jauh lebih besar daripada penderitaan pribadinya.
Melengkapi hal ini, esai J. Keeping tentang The Good Samaritan (Orang Samaria yang Murah Hati) mempertanyakan kewajiban sosial kita. Keeping berargumen bahwa tingkat kewajiban moral seseorang berbanding lurus dengan sumber daya atau kekuatan yang dimilikinya. Karena Peter memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia, standar moral yang dibebankan kepadanya juga otomatis bergeser menjadi lebih tinggi daripada manusia biasa.
Bisakah Peter Parker Meraih The Good Life?
Pada bagian pertama buku ini, Neil Mussett mempertanyakan apakah Peter Parker bisa hidup bahagia (The Good Life) dengan beban seberat itu.
Jika diukur dengan kacamata Ayn Rand (objektivisme yang mengagungkan kebahagiaan diri sendiri), pilihan hidup Peter dinilai irasional karena ia terus mengorbankan dirinya demi orang lain. Namun, jika dilihat dari sudut pandang Viktor Frankl atau Thomas Aquinas, Peter justru menemukan makna hidup terdalamnya (meaning of life) melalui penderitaan dan tanggung jawab tersebut. Kebahagiaan Peter bukan lagi soal kesenangan materi, melainkan realisasi dari kebajikan (virtue).
Kesimpulan: Jaring Etika yang Mengikat Spidey
Melalui analisis filosofis dalam buku ini, saya bisa menyimpulkan dua hal penting:
1. Tentang kewajiban menjadi pahlawan: Peter Parker secara moral memang "terikat" untuk menjadi pahlawan, bukan sekadar karena ia mau, melainkan karena kepemilikan kekuatan super secara otomatis mengubah batas tanggung jawab sosialnya (Good Samaritanism).
2. Tentang rasa bersalah pada Paman Ben: Secara filosofis, Peter tidak perlu terus-menerus menyalahkan dirinya secara radikal. Kematian Paman Ben adalah hasil dari moral luck dan ketidakpastian masa depan (unpredictability). Peter bertanggung jawab atas egonya di masa lalu, tetapi ia tidak bertanggung jawab atas seluruh rantai kausalitas acak alam semesta.
Pada akhirnya, pesona utama Spider-Man justru terletak pada jaring dilema ini: ia adalah pahlawan yang paling manusiawi karena ia terus mencoba melakukan hal yang benar, di dalam dunia yang sering kali tidak pasti dan tidak adil.



