Leicester City 2016 dan 2026.
(Sumber gambar: /x.com/BBCMOTD)
Sepuluh tahun lalu, dunia sepak bola menyaksikan salah satu momen paling luar biasa ketika Leicester City menjuarai Liga Primer Inggris musim 2015/16. Namun, tepat satu dekade setelah keajaiban itu, kisah indah tersebut berubah menjadi mimpi buruk. Usai ditahan imbang 2-2 oleh Hull City pada Selasa malam (22/4/2026), Leicester City kini menatap kenyataan pahit untuk berlaga di League One, kasta ketiga dalam sistem sepak bola Inggris, untuk pertama kalinya sejak musim 2008/09.
Pertandingan melawan Hull City seolah menjadi potret kegagalan mereka musim ini. Sempat tertinggal oleh gol Liam Millar pada menit ke-18, Leicester sempat membalikkan keadaan melalui penalti Jordan James pada menit ke-52 dan gol Luke Thomas dua menit berselang. Sayangnya, pertahanan yang rapuh membiarkan Oli McBurnie menyamakan kedudukan pada menit ke-63. Hasil ini membuat "The Foxes" terpaku di peringkat ke-23. Dengan dua pertandingan tersisa, secara matematis mereka tidak mungkin lagi mengejar Blackburn Rovers atau Charlton Athletic. Meski konfirmasi resmi masih tertunda menunggu kemungkinan pengurangan poin bagi West Bromwich Albion terkait pelanggaran aturan keuangan, Leicester secara praktis telah menyusul Sheffield Wednesday turun ke League One.
Keterpurukan ini merupakan puncak dari rentetan performa yang terus merosot dan krisis manajerial yang dialami Leicester. Perjalanan klub ini pada beberapa tahun terakhir menyerupai rollercoaster yang meluncur tak terkendali: terdegradasi dari Liga Primer pada musim 2022/23, langsung promosi di bawah asuhan Enzo Maresca, lalu terdegradasi kembali musim berikutnya dengan selisih 17 poin dari zona aman Liga Primer, dan kini terperosok lagi dari Championship. Harapan untuk bangkit musim ini sirna sejak awal setelah mereka hanya memenangi tiga dari 14 laga pertama. Pergantian pelatih kepala dari Marti Cifuentes ke Gary Rowett di Januari gagal membuat tim ini bangkit. Pukulan terberat datang pada Februari ketika Leicester City dihukum pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan keuangan EFL.
Hal paling menyesakkan bagi para pendukung adalah kenyataan bahwa keterpurukan ini terjadi ketika Leicester City memiliki salah satu anggaran terbesar di liga. Didukung oleh pembayaran parasut (parachute payments) dan skuad yang diisi oleh barisan pemain internasional berpengalaman, mereka justru tampil jauh di bawah ekspektasi. Ini pun menjadi hasil mengejutkan dari performa mereka di musim 2022/23, ketika manajemen klub seakan buta melihat jurang kehancuran meski memiliki anggaran ketujuh tertinggi di liga kala itu.
Musim ini tanpa diragukan lagi akan tercatat sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah Leicester City. Trofi Liga Primer dan kesuksesan luar biasa sepuluh tahun lalu memang tidak akan pernah bisa dihapus dari buku sejarah, tetapi pencapaian emas tersebut kini ternoda oleh performa buruk yang mengakibatkan mereka turun ke kasta ketiga Liga Inggris. Menjelang musim panas, Leicester City dihadapkan pada pekerjaan rumah yang besar: merombak total skuad yang kerap tampil di bawah standar ini di tengah ancaman pemotongan anggaran finansial di berbagai sektor.

