Tangisan sebuah Batu

Ilustrasi batu-batu di pinggir sungai.
(Sumber gambar: pixabay.com)

Sekali waktu, kau perlu menyediakan telinga untuk menyimak rintihan benda-benda di genggamanmu yang sering kau abaikan esensinya. Mungkin itu deru mesin pengisi daya yang panas, kilatan layar yang retak, atau baris-baris kode yang merekam jejak digitalmu. 

Sekarang, aku akan mengisahkan kepadamu tentang sebongkah batu yang terus menitikkan air mata. Ia ingin berpesan agar kau lebih waspada. Maksudku, kau pasti akan merasa sangat terhina jika suatu saat "Merak Emasmu" dipamerkan orang ke mana-mana hanya untuk dijadikan bahan gunjingan. Merak itu mungkin hanya setumpuk filter kecantikan, atau hasil sewaan, atau sekadar barang cicilan yang belum lunas. Namun, bagaimanapun indahnya ia di layar gawai, ia tetaplah sesuatu yang sangat rapuh jika dipentaskan di panggung penghakiman publik. Merak itu bukanlah badut sirkus yang butuh sorakan; ia lebih baik tetap berada dalam privasi rumahmu daripada diumbar sebagai simbol status yang palsu.

Maka, jagalah kerahasiaan dapurmu baik-baik. Memang gengsimu tak akan lari jika kau tidak memamerkannya sehari saja, tapi tetaplah diam. Kau tahu, Merak Emas ini adalah jenis unggas yang hanya bisa makan dari "validasi" orang asing. Ia memiliki kehendak sendiri yang sering kali sulit kau kendalikan. Kau mungkin merasa terdorong untuk menuruti segala kemauannya: makan di restoran mewah yang harganya tak masuk akal, atau terbang ke tempat-tempat eksotis hanya demi sebuah foto, seperti petualang yang kehilangan arah. Orang-orang menyebutnya lifestyle tapi menurutku, kau sulit menjadi manusia yang tenang jika tak bisa mengerem kegemaranmu untuk "memamerkan diri" secara serampangan.

Akibat kegemaran yang tak terkendali itu, suatu saat borok di balik Merakmu bisa menjadi tontonan massal. Entah itu akun anonim atau penagih hutang yang akan menyebarkannya, itu bukan intinya. Persoalannya, aibmu tidak perlu disebar ke hadapan jutaan mata. Kau tentu berharap bahwa lubang hitam di dompetmu atau drama di balik layar tetap menjadi rahasia. Istrimu perlu percaya bahwa kau adalah kepala keluarga yang jujur saat kau memegang ponsel. Anakmu tak perlu melihat data pribadimu dijadikan meme di grup WhatsApp teman-temannya. Dan orang-orang tak perlu tahu apakah kau sebenarnya kaya raya atau sekadar "miskin gaya".

Kau tahu, nasib ini pernah menimpa seorang pegawai kantoran. Seorang penagih hutang menyebarkan foto wajahnya yang diedit sedemikian rupa karena ia gagal melunasi gaya hidupnya, dan gambar itu menyebar lebih cepat dari berita duka. Nama pegawai itu hancur seketika. Si penagih mungkin mendapat bonus, tapi setelah itu ia pun terlupakan. Aku tidak tahu apakah pegawai itu pindah kota dan mengganti identitasnya, atau ia sengaja menghilang ke pelosok demi menghindari tatapan tetangga. Setelah harga diri hancur, seseorang bisa menjadi bayangan saja. Kejadian ini akan terus berulang; pada pengusaha, pada orang biasa, atau bahkan pada remaja yang cuma ingin diakui pergaulannya.

Saat warganet sibuk menghujat, aku kasihan pada pasangan mereka yang harus menanggung malu di lingkungan sosial. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah yang terkunci. Mungkin mereka saling melempar piring, atau sang istri hanya bisa menangis sesenggukan sementara suaminya membisu. Tapi, apa gunanya kita terlalu ikut campur dalam neraka rumah tangga orang lain?

Yang utama adalah pastikan hal itu tidak terjadi padamu. Itu akan sangat melelahkan, apalagi jika kau bukan orang berpengaruh. Kau tak punya cukup uang untuk membayar konsultan citra atau menyewa pengacara hebat untuk membersihkan namamu. Pasanganmu mungkin tak akan membelamu di depan grup arisan. Bisa jadi ia justru akan menggugat cerai karena tak tahan dengan teror digital yang datang bertubi-tubi. "Kita sudah tak sejalan," begitulah kalimat penutup yang lazim terdengar.

Tentu saja. Rasanya memang sulit bagi siapapun untuk bertahan dengan pasangan yang lebih mencintai citra di layar ketimbang kenyataan di meja makan. Sama seperti kau yang tak akan tahan jika pasanganmu membuka pintu rumah untuk para penagih janji yang tak pernah kau undang.

Kusampaikan ini karena ada tetangga kita yang mengalami nasib sial saat data pribadinya tiba-tiba terpampang di layar-layar ponsel anak muda yang sedang asyik nongkrong. Aku tak tahu apakah ada salah satu saudaramu di sana yang ikut menertawakannya.

"Aku dijatuhkan oleh sistem," keluh lelaki itu.

Menurutku, ia terlalu mendramatisir. Tak ada sistem yang punya waktu luang hanya untuk menghancurkan pegawai rendahan di pinggiran Grobogan. Jika aku bertemu dengannya, aku ingin bertanya, "Bukankah kau yang menjatuhkan dirimu sendiri?"

Namun, mungkin ia benar dalam satu hal. Pertarungan mempertahankan harga diri tidak hanya milik orang besar. Di kalangan rakyat jelata pun, saling sikut demi validasi bisa sangat brutal. Persaingan status sosial di kampung bisa lebih kejam daripada debat politik di televisi. Apa yang menimpa pegawai itu sama riuhnya dengan kerusuhan setelah pertandingan bola antardesa. Berawal dari kawan, berakhir dengan saling lapor.

Lelaki itu tertangkap basah sedang "memalsukan" kemewahannya di sebuah kafe kekinian yang penuh spot foto estetis. Itu tempat yang indah, dengan lampu-lampu gantung dan musik jaz yang lembut. Di bawahnya ada kolam ikan hias, dan di sekelilingnya ada pemandangan kota yang berkilau. Di salah satu sudut kafe itulah ia berpose seolah-olah ia adalah raja kecil. Aku merasa miris melihat unggahan itu. Saat ia memamerkan jam tangan mewah (yang ternyata replika), wajahnya tampak begitu berwibawa. Namun aku sedih karena tahu apa yang ada di balik layar ponselnya: tumpukan notifikasi ancaman dari aplikasi pinjaman daring.

"Dia memang tak pernah kapok," ketus istri lelaki itu saat rahasia suaminya terbongkar. "Ini sudah ketiga kalinya dia meminjam uang hanya untuk membelikan barang-barang yang tak kami butuhkan."

Perempuan itu wajar jika murka. Ia dulu adalah kekasih yang menemani lelaki itu dari nol, namun perlahan ditinggalkan karena dianggap tidak cukup "menarik" untuk dipajang di media sosial. Jika benar ini yang ketiga kalinya, mungkin kehancuran finansial keluarga mereka memang sudah di depan mata.

Tetapi aku tak tahu detail soal istri-istri sebelumnya, aku hanya tahu kondisi istrinya yang sekarang. Perempuan itu terus mengamuk, sementara si lelaki hanya bisa tertunduk. Ia bukan selebritas yang akan diundang ke podcast untuk klarifikasi. Tak ada media yang akan memberinya panggung untuk membela diri. Tak ada pula yang akan memberinya donasi untuk melunasi hutang-hutangnya.

Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah meratapi kesialannya. Mengapa harus aibnya yang viral? Mengapa bukan orang lain? "Apa salahku sebenarnya?" tanyanya, seolah ia adalah korban dari konspirasi besar, padahal ia hanya korban dari keinginannya sendiri yang tak pernah puas. Sampai detik ini, ia tetap tak tahu siapa yang membocorkan daftar kontaknya ke para penagih itu.

Mengenai istrinya, yang kemudian berpisah dengannya, ia tetap menyimpan amarah hingga bertahun-tahun kemudian. Mulutnya tetap tajam jika mengingat masa-masa itu. Aku mendengar setiap caciannya karena perempuan itu kini menjadi teman hidupku. Ia sering meracau bahwa semua pria saat ini hanya mementingkan bungkus ketimbang isi. Saat ada berita tentang penipuan berkedok investasi atau gaya hidup mewah yang palsu, ia akan menyalak. "Mau kaya atau miskin, semua lelaki itu haus pengakuan!" katanya dengan nada getir.

Kau bisa mengukur kedalaman traumanya dari seberapa sering ia mengulang kalimat yang sama. Aku sebenarnya ingin mengingatkan bahwa ia pun dulu sempat menikmati kemewahan semu itu sebelum badai datang menghantam. "Janganlah kau amnesia pada sejarahmu sendiri," ingin rasanya aku berucap begitu, tapi aku memilih diam. Apa untungnya? Istriku terus mengumpat. Aku merasa seperti terkurung dalam kebisingan masa lalu yang membuatnya sulit melihat masa kini.

Tentu saja aku maklum bahwa luka lama tak mudah disembuhkan. Kenangan tentang pengkhianatan dan kemiskinan mendadak akan membekas lebih lama daripada memori saat makan enak. Jika kau hidup dengan seseorang yang membawa beban pahit, kau harus ekstra sabar untuk menenangkan hatinya, sebab percikan kecil bisa memicu ledakan besar yang menyamakanmu dengan orang yang pernah menghancurkannya.

"Semua laki-laki hanya ingin terlihat hebat di depan orang lain," tuduhnya, seolah-olah aku pun sedang merencanakan sesuatu di balik punggungnya.

Sejujurnya, hatiku terasa perih setiap kali ia membanding-bandingkan aku dengan bekas suaminya. Menurutku, ia tidak adil jika terus membawa bayang-bayang lelaki itu ke dalam rumah tangga kami. Bagaimanapun, sekarang akulah yang menemaninya. Dan kemarahannya yang tak kunjung padam membuat kehadiranku terasa tak kasat mata. Aku merasa tak dihormati saat ia terus-menerus membahas luka lama, tapi ia seolah tak bisa berhenti.

Saat dulu aku melamarnya dengan tangan gemetar, aku tak pernah menyangka kehidupanku akan menjadi pelampiasan rasa sakit hatinya. Aku tahu ia pernah hancur karena gaya hidup suaminya. "Kau pasti pernah melihat wajahnya yang viral itu di internet," ucapnya suatu kali.

Aku hanya mengangguk. Sudah kubilang, aku merasa miris melihat kejatuhan manusia di era digital ini.

"Kurasa panggung media sosial itu adalah tempat terkutuk," lanjutnya.

"Mungkin saja," jawabku pendek.

"Bukan mungkin lagi, tapi pasti," tegasnya. "Tempat itu penuh dengan racun dan kepalsuan yang ditinggalkan orang-orang yang gila hormat. Tak ada kejujuran di sana."

Beberapa hari sebelumnya, aku sendiri baru saja membuat akun baru di media sosial untuk sekadar melihat kabar dunia, namun aku tak berani mengatakannya. Tak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang sedang membakar seluruh jembatan masa lalunya. Kau tahu, panggung itu tetap ramai dan orang-orang tetap berebut validasi meski kutukannya terus menggema. Kutukannya hanya akan terbukti jika semua orang berhenti peduli pada apa yang ditampilkan di layar.

Perempuan itu berusia kepala empat saat kami menikah, dan aku sudah memasuki usia senja. Ini adalah pernikahan pertamaku yang sudah kunanti-nantikan sejak lama. Setahun setelah kami mengucap janji, aku berhenti dari rutinitas pekerjaanku.

Aku sudah memendam perasaan padanya sejak dua dekade silam, sejak ia masih menjadi rekan kerja yang penuh semangat, dan ia tak pernah menyadarinya. Aku mencintainya dalam diam, bahkan saat ia memilih untuk menikah dengan lelaki dari kantor sebelah yang usianya lebih muda dariku; lelaki yang kemudian menghancurkan hidupnya demi sebuah citra palsu di internet.

Lelaki itulah yang menikahinya setelah meninggalkan komitmen sebelumnya, dan tujuh tahun kemudian semuanya runtuh. "Si tukang pamer," begitu ia kini menjuluki mantan suaminya, berselingkuh dari kenyataan demi mengejar pengakuan digital. Aku menangis dalam sunyi saat melihat foto-foto kehancuran mereka beredar. Aku menangisi nasib perempuan yang kucintai; bagaimana bisa ia terjebak dengan orang yang begitu dangkal?

Tujuh tahun sebelumnya, aku juga merasakan sesak yang sama saat ia mengundurkan diri untuk menikah dengan lelaki itu. Rasanya seperti aku sedang ditertawakan oleh takdir karena tak mampu memberikan "panggung" yang ia inginkan saat itu.

Enam tahun setelah badai perceraiannya, aku menemukannya lagi. Ia tampak rapuh, dan kepadanyalah aku mencoba membuktikan bahwa ketulusan tidak butuh kamera. Kami menikah setelah dua bulan bertemu kembali. Namun, perjalanan kami tidak semulus yang kuharapkan. Aku selalu merasa ingin menangis setiap kali mendengar ia mengungkit masa lalunya selama hampir sepuluh tahun pernikahan kami.

Segala hal bisa memicu ingatannya tentang "si tukang pamer" itu. Termasuk saat ada skandal baru di media sosial. Istriku akan terus meracau bahwa tak ada lelaki yang bisa dipercaya. Kini umurku sudah hampir tujuh puluh. Sudah saatnya aku mencari kedamaian batin, menjauh dari bisingnya cacian dan riuhnya dunia digital. Maka, aku memutuskan untuk menyepi ke sebuah tempat tersembunyi di kaki bukit.

Dan, kau tahu, keajaiban terjadi. Aku menumpahkan seluruh air mataku di keheningan itu hingga aku tak sadar telah tertidur sangat lama. Saat terbangun, dunia tampak sangat berbeda. Aku merasa seolah waktu telah melompati peradaban. Di sekelilingku, ada sosok-sosok raksasa yang tampak seperti anak kecil sedang mendekatiku. Salah satu dari mereka mengangkatku dengan rasa ingin tahu.

"Lihat, benda ini mengeluarkan air," ucapnya heran.

Ia mendekapku dan membawaku ke dunianya. Aku terus menangis, dan entah bagaimana, air mataku dianggap sebagai benda ajaib yang membawa ketenangan bagi mereka. Mereka kemudian memajangku dan meminta imbalan kepada siapapun yang ingin melihat: sebuah batu kecil unik, yang terus meneteskan air mata sepanjang waktu.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.