Memoar Tara Westover


Meskipun buku memoar berjudul Educated ini adalah tentang perjuangan Tara Westover dalam mendapatkan pendidikan yang layak, saya lebih memperhatikan bagaimana ia bisa lepas dari keluarganya yang toksik. Sebab, ayahnya adalah penganut agama yang fanatik dan menganggap bahwa segala hal yang tidak sepaham dengannya adalah salah dan penganut Iluminati; atau konspirasi elite global jika dihubungkan dengan konteks saat ini. Ya, saya jadi seperti tak asing dengan pola pikir tersebut.

Tara pun yang merasa sudah tak tahan dengan pola pikir ayahnya, memutuskan untuk mendaftar kuliah supaya bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan pendidikan formal karena ayahnya yang tidak mempercayai sistem pendidikan yang dibuat Pemerintah, sehingga ia dan keenam saudaranya menempuh pendidikan secara homeschooling. Lantas, karena keputusannya itu, membuat ayahnya marah karena menganggap pikirannya telah dikuasai setan. Namun, karena prinsipnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak sudah teguh, Tara tetap melanjutkan niat tersebut.

Tara Westover
(Sumber: Time Magazine)
Saya jadi ingat dengan memoar yang ditulis Malala. Dalam kasusnya, penghambat dirinya untuk mendapatkan akses pendidikan berasal dari faktor eksternal, yaitu berkuasanya Taliban di Pakistan yang melarang perempuan untuk bersekolah, bahkan keluar rumah. Sedangkan dalam kasus Tara, berasal dari faktor internal, yaitu ayah dan beberapa saudaranya yang menghalanginya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selanjutnya, akibat konflik dengan ayahnya, hubungan Tara dan keluarganya jadi berjarak dan bahkan ia seperti diasingkan oleh mereka. Meskipun begitu, ia tetap menyayangi mereka sekaligus merasa puas dengan pilihannya karena ia bisa menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri, seperti yang ia ungkapkan di dalam bukunya:

“You can love someone and still choose to say goodbye to them. You can miss a person every day, and still be glad that they are no longer in your life.”

Setelah membaca ini, saya merasa bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat, ada saja sebagian orang yang masih berpikiran fanatik terhadap agama yang dianutnya. Tak jarang, pikiran tersebut berdampak negatif ke orang-orang terdekatnya, seperti dalam kehidupan Tara. Bersyukur, Tara bisa "mendobrak" batas-batas tersebut supaya ia bisa berpikir lebih merdeka. Kemudian, saya juga jadi merenungi tentang arti keluarga:

"Family is determined more by behaviour than by blood."

You Might Also Like

0 comments