Ilustrasi seseorang sedang mengumpulkan bacaan atau referensi untuk memahami sebuah topik secara mendalam.
(Sumber gambar: freepik.com)
Usai bertafakur nyaris sepekan penuh, saya akhirnya tiba pada satu kesimpulan mutlak: literatur paling mendesak untuk dikaji saat ini adalah Panduan Praktis Menyajikan Hidangan tanpa Menumbangkan Pemakannya. Karya ini wajib dibaca, wabilkhusus oleh para pembuat kebijakan negeri ini. Siapa tahu ke depannya akan ada lagi program populis yang dipaksakan, dan kita tentu tidak sudi mendengar kabar ribuan anak sekolah dilarikan ke puskesmas karena keracunan jatah makan siangnya.
Rentetan berita tentang kasus keracunan massal itu benar-benar menguras akal sehat. Saya membatin, andai saja para pejabat itu tidak punya kapasitas untuk menciptakan lapangan kerja (yang ironisnya mereka klaim kalah krusial dibanding program Makan Bergizi Gratis/MBG) minimal mereka bisa bersandiwara seolah-olah peduli pada higienitas dapur umumnya. Namun, alih-alih memastikan nutrisi yang aman, sekadar berpura-pura kompeten pun mereka tampaknya enggan.
Pastinya, urusan kelalaian massal itu adalah problematika para pejabat dengan nuraninya masing-masing, bukan bebanmu. Kamu sama sekali tidak wajib memasukkan kebebalan birokrasi ini ke dalam daftar panjang "Deretan Perkara Krusial yang Mesti Saya Bereskan". Toh, kita sudah pusing dengan nasib sendiri. Sebagian orang kepayahan mencari pekerjaan, sebagian lagi dompetnya sekarat karena hantaman pajak baru, dan ada pula yang menanggung penderitaan ganda tersebut. Sebagian lainnya, bahkan saking kebasnya, tak sadar bahwa hidup mereka sedang dikoyak masalah.
Khusus untuk kamu yang selalu dihantui saldo rekening kritis dan mulai yakin bahwa negara tak punya niat serius membenahi krisis pemutusan hubungan kerja (PHK) kelas menengah, saya sangat merekomendasikan buku 101 Taktik Bertahan Hidup Tanpa Gaji Tetap: Ensiklopedia Paripurna Menjadi Pengangguran yang Bermartabat. Judulnya memang sengaja dibuat bertele-tele, barangkali supaya pembacanya merasa penderitaan mereka tervalidasi oleh panjangnya untaian kata sang penulis.
Kendati sedari kanak-kanak kita didoktrin bahwa takaran rezeki tak akan tertukar, buku tadi tetaplah aset berharga. Kamu masih diizinkan memegang teguh keyakinan spiritual tersebut. Bahkan, para elitis yang gemar membagikan posisi strategis negara kepada keluarganya sendiri pun punya iman serupa; mereka yakin betul bahwa nepotisme yang mereka nikmati murni garis takdir dari Tuhan. Walau begitu, bacalah buku panduan tersebut. Tidak ada kelirunya mempersiapkan seratus satu skenario cadangan. Hidup akan terasa sedikit lebih rileks jika kamu tahu cara bertahan di tengah gelombang inflasi. Kalau terus-terusan meratapi jalan rezeki yang buntu sembari mengonsumsi berita akrobat politik yang memancing darah tinggi, fisikmu bisa ambruk. Efek paling remehnya? Penyakit susah tidur.
Untuk kalangan yang kehilangan jam tidur (entah akibat otak terlalu penuh beban atau dompet terlalu kosong untuk berbuat sesuatu) silakan cari bacaan berjudul 9 Jurus Terlelap Kilat (Tanpa Harus Menghitung Berapa Triliun Anggaran Negara yang Menguap). Ini cocok bagi pengidap insomnia level amatir. Kalau tingkat frustrasimu sudah stadium akhir, kamu butuh dosis lebih tinggi, misalnya 101 Jurus Terlelap Nyenyak (Tanpa Harus Memikirkan Skandal Pejabat Hari Ini). Jika kamu lebih fasih melarikan diri dari kenyataan lewat bahasa ibu, coba telusuri artikel daring bertajuk 9 Trik Mengundang Kantuk (tanpa Perlu Mengabsen Nama-Nama Korban PHK Bulan Ini).
Menyampingkan urusan uang dan jam tidur, problematika di luar sana sejatinya tak terhitung jumlahnya; mungkin setara dengan populasi warga yang pura-pura bahagia di media sosial. Barangkali ada sejumlah orang yang merasa roda kehidupan di negara ini sudah kelewat absurd sehingga menjauhkan mereka dari kewarasan nalar yang didambakan. Bagi mereka yang butuh kompas realitas, ada baiknya melirik fenomena ajaib yang rutin muncul di linimasa. Mereka bisa menelaah narasi-narasi surealis, semisal tulisan berjudul Bagaimana Kerabat Politikus Mendadak Dapat Wahyu untuk Menduduki Jabatan Strategis tanpa Perlu Ikut Seleksi.
Sepertinya akan jadi sumbangsih peradaban yang luar biasa bila ada jurnalis investigasi yang merangkap ahli nujum, bersedia mengorek kesuksesan jalur langit para kerabat pejabat tersebut lewat wawancara eksklusif. Karya ini kelak bisa menjadi monumen literasi yang sama epiknya dengan buku-buku teori konspirasi paling heboh dekade lalu. Jika naskahnya rampung dibukukan, saya mengusulkan judulnya Bincang Santai bersama Nepotisme Mistis.
Sebagai kudapan literasi pendamping berita manuver politik tadi, kita bisa menengok wacana ajaib lainnya: pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di tengah bulan puasa Ramadan yang diubah menjadi jatah "versi kering". Mendengar inovasi kebijakan ini, saya sungguh takjub. Saya langsung percaya bahwa keajaiban logika dari zaman batu ternyata bisa dihidupkan kembali hari ini, di negeri ini. Kita secara fisik memang menetap di tahun 2026, tetapi landasan berpikir kebijakan publiknya terasa seperti ditarik mundur ribuan tahun ke belakang. Dan ajaibnya, sampai sekarang, masih ada saja kelompok yang ngotot menyuruh kita memaklumi sirkus peradaban ini.
Yah, tak ada larangan juga jika kita ingin menjalani hidup dengan meromantisasi kemunduran. Jadi, buat masyarakat yang sudah muak dengan realitas 2026 dan rindu mencari pelarian ke masa lalu, buku paling pas untuk kalian adalah Kejayaan Atlantis dan Bukti Bahwa Nenek Moyang Kita Tidak Pernah Menganggur. Buku itu menyajikan klaim yang pantang digugat, setidaknya menurut kesaksian fanatik salah seorang pembacanya: "Data-datanya luar biasa akurat, fakta kesejahteraan abadi inilah yang disembunyikan oleh oligarki dan penjajah masa lalu, membuat sejarah kita melenceng seolah-olah kita ini bangsa yang miskin permanen!"
Saya telan mentah-mentah testimoni tersebut, meski saya gagal paham letak akurasinya di mana. Poin pentingnya adalah saya pasrah dan percaya saja. Saya bahkan bakal kegirangan kalau ada pakar yang sukses membuktikan secara empiris bahwa konsep "Bantuan Sosial" sesungguhnya adalah cetak biru warisan Kerajaan Majapahit, jauh sebelum konsep negara kesejahteraan dikenal di Eropa. Kita wajib membuka mata dunia bahwa tradisi memelihara ketergantungan rakyat ini bermula murni dari tanah air tercinta. Bila kamu berniat membuktikannya, saya sarankan kamu mencari prasastinya yang ditulis di atas batu andesit. Menerjemahkannya ke dalam bahasa kekinian hanya akan memudarkan esensi keagungan komedi masa lampau tersebut.
Toh, beberapa tahun belakangan kita memang keranjingan proyek pembuktian bahwa "bangsa ini yang terhebat", contohnya lewat proyek mercusuar seperti "Food Estate" yang justru membabat hutan tanpa hasil panen. Bagi mereka yang hobi mencangkul tanah dan menebang pohon, ini pasti aktivitas yang menyenangkan. Ini adalah proyek prestisius untuk menunjukkan kepada semesta bahwa bukan cuma Firaun yang bisa menimbun peninggalan di bawah pasir; kita juga ahli mengubur triliunan uang pajak rakyat di lahan gambut yang berujung sia-sia.
Kini, dari rentetan usulan bacaan yang sudah saya sampaikan, mohon perhatikan satu benang merahnya: literatur berkedok panduan hidup selalu gemar membubuhkan deretan angka di judulnya, dan dominannya adalah angka ganjil. Itu trik yang tepat. Konon Tuhan menyukai segala yang ganjil, dan para pakar pemasaran berani menjamin bahwa angka-angka tersebut ampuh menyihir ketertarikan calon pembaca.
Karena saya tipe manusia yang gampang termakan sugesti dan percaya penuh pada pakar pemasaran, saya pun pernah mengekor formula itu saat merancang tulisan tentang 101 Cara Ampuh Membunuh Waktu Saat Menunggu Panggilan Kerja. Saya bertekad akan menggunakan resep yang sama untuk proyek fiksi saya berikutnya. Kelak, dan saya berdoa masa itu lekas datang, saya akan mantap meluncurkan novel dengan menyisipkan nominal ganjil di kovernya. Sejauh ini, ide terkuat yang berputar di kepala saya adalah 303 Taktik Jitu Menjelaskan Pentingnya Program Makan Gratis kepada Orang Tua yang Anaknya Sedang Dirawat di UGD.
Namun, angan-angan itu biarlah jadi urusan esok hari. Untuk detik ini, bagaimanapun juga, yang paling esensial dan tak bisa ditunda adalah mengkhatamkan Panduan Praktis Menyajikan Hidangan Tanpa Menumbangkan Pemakannya. Saya rasa, fakta bahwa ada ribuan siswa yang harus jatuh sakit usai menyantap menu dari negara sudah lebih dari batas toleransi, dan sungguh, satu nyawa anak saja sudah terlalu berharga untuk dijadikan bahan uji coba.

