Supersonic: Ketika Oasis Bercerita dengan Kata-Kata Mereka Sendiri


Ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah band legendaris memilih untuk bercerita sendiri; bukan melalui jurnalis, bukan melalui biografi resmi, melainkan langsung dari mulut mereka yang paling tahu kebenarannya. Itulah yang ditunjukkan Supersonic: The Complete, Authorised and Uncut Interviews, sebuah buku yang lahir melalui lebih dari 30 jam rekaman wawancara bersama Liam Gallagher, Noel Gallagher, dan orang-orang terdekat mereka. Selain sebagai kronik perjalanan karier band rock, buku ini juga merupakan pengakuan, kenangan, dan terkadang perdebatan; sebuah portrait paling jujur tentang salah satu band terbesar yang pernah ada di muka bumi.

Melampaui Biografi Biasa

Dari kiri ke kanan: Alan White, Paul “Bonehead” Arthurs, Liam Gallagher, Paul “Guigsy” McGuigan, dan Noel Gallagher.
(Sumber gambar: britannica.com)

Ketika Simon Halfon menerima telepon dari Noel Gallagher pada 2014, tugasnya tampak sederhana: buat dokumenter pendek sebagai peringatan 20 tahun konser legendaris Oasis di Knebworth Park pada 1996. Namun, apa yang bermula sebagai sebuah proyek kecil akhirnya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan bermakna. Halfon, seorang desainer sampul album dan fotografer yang telah bersahabat dengan Noel selama dua dekade, tidak hanya menghasilkan film dokumenter yang memukau, ia juga menghimpun ratusan jam rekaman wawancara yang belum pernah didengar publik, dan menjadikannya bahan penting bagi buku ini.

Pendekatan yang dipilih Halfon bisa dibilang brilian sekaligus berani. Alih-alih menyajikan narasi tunggal yang ditulis penulis dari luar, ia menggunakan metode cut and paste; memotong dan menempel potongan-potongan wawancara secara kronologis, membiarkan para narasumber berbicara sendiri, saling melengkapi, saling mengoreksi, bahkan terkadang saling bertentangan. Hasilnya adalah kolase suara yang terasa hidup dan autentik. Pembaca tidak sedang membaca tentang Oasis; mereka sedang "bersama" Oasis, duduk di sudut bar yang berisik, mendengarkan cerita yang tidak pernah disensor demi kesopanan atau citra publik.

Buku ini pun lebih menyerupai pertemuan keluarga besar yang kacau, penuh tawa, sumpah serapah, dan kejujuran yang terkadang menyakitkan.

Dua Bersaudara, Satu Panggung, Ribuan Luka

Noel dan Liam Gallagher.
(Sumber gambar: esquire.com)

Inti dari segala hal yang membuat Oasis menarik (baik musik mereka maupun kisah di baliknya) adalah hubungan antara dua bersaudara: Noel dan Liam Gallagher. Mereka berdua tumbuh di Manchester dalam lingkungan yang keras, ditempa kemiskinan dan perilaku abusif ayah mereka. Namun, justru dari latar belakang itulah lahir dua kepribadian yang saling bertolak belakang tetapi juga saling membutuhkan: Noel, si penulis lagu jenius dan terkadang dianggap arogan oleh orang-orang sekitarnya; dan Liam, sang vokalis karismatik yang suka berbicara blak-blakan.

Dinamika dari Gallagher bersaudara adalah daya tarik utama buku ini. Mereka bagaikan sepasang komedian yang bicara ceplas-ceplos; Noel berperan sebagai tokoh bijak yang sinis, sementara Liam adalah sosok jenaka yang sengaja mengusik ketenangan kakaknya. Namun di balik tawa itu tersimpan ketegangan yang nyata. Seluruh perjalanan Oasis, dari pub-pub kecil di Manchester sampai panggung Knebworth, diwarnai oleh gesekan antara dua ego raksasa yang tidak pernah benar-benar bisa berdamai.

Noel pernah berkata, "It's not about the songs, it's not about the fucking clothes, the attitude, the headlines, the scandal. It's about the way we made people feel." Satu kalimat itu merangkum seluruh filosofi Oasis, yang membuat band tersebut memahami bahwa musik bukan sekadar produk, melainkan pengalaman kolektif yang menyentuh jiwa jutaan orang. Sementara Liam, mengomentari gaya panggungnya yang ikonis (berdiri nyaris tak bergerak dengan tangan di belakang punggung) sambil berkata bahwa ia pernah mencoba menari, dan hasilnya, "Looked like a fucking cock." Itulah Liam Gallagher: jujur, kasar, dan tepat sasaran.

Suara-Suara yang Baru Terdengar

Foto keluarga Gallagher (dari kiri ke kanan): Noel, Paul, Liam, dan Peggy Gallagher (ibu).
(Sumber gambar: esquire.com)

Salah satu kelebihan Supersonic adalah keberaniannya untuk membuka ruang bagi suara-suara lain di luar dua Gallagher bersaudara. Buku ini menghadirkan kesaksian dari ibu mereka, Peggie, yang memberikan perspektif mengharukan tentang masa kecil Noel dan Liam. Ada pula Paul, kakak tertua mereka, yang melengkapi gambaran tentang keluarga Gallagher melaui detail-detail yang tidak pernah terekspos sebelumnya.

Kemudian hadir Bonehead (salah satu anggota Oasis yang paling vokal dalam buku ini) bersama para manajer, road manager, kru panggung, produser rekaman, dan berbagai sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan karier Oasis selama masa kejayaan mereka. Kehadiran suara-suara ini memberikan dimensi baru terhadap jalan cerita. Kita tidak hanya melihat Oasis dari sudut pandang dua orang yang paling sering disorot, tetapi juga dari sudut pandang orang-orang yang hidup bersama mereka sehari-hari dan menyaksikan momen-momen yang tidak pernah tertangkap kamera.

Perlu dicatat pula bahwa beberapa mantan anggota band memilih untuk tidak terlibat dalam proyek ini, sehingga bisa kita asumsikan bahwa ketidakhadiran mereka merupakan bukti dari luka-luka masa lalu yang masih belum sembuh.

Knebworth: Kejayaan yang Tak Terlupakan

Pemandangan Knebworth dari atas, di mana Oasis akan manggung di hadapan sekitar 250.000 orang.
(Sumber gambar: bbc.com)

Jika ada satu momen paling emosional dari seluruh buku ini, itu adalah konser Knebworth pada Agustus 1996; dua malam berturut-turut di mana Oasis tampil di hadapan sekitar 250.000 penonton, sebuah pencapaian yang hingga hari ini masih tercatat dalam sejarah musik Inggris. Bahkan, ada sekitar 2,5 juta orang yang mendaftar untuk mendapatkan tiket konser tersebut, menggambarkan betapa besar pengaruh Oasis pada saat itu.

Noel sendiri pernah berkata dengan nada setengah tidak percaya: 

"We are the biggest band in Britain of all time, ever. The funny thing is, all that fucking mouthing off three years ago about how we were going to be the biggest band in the world—we actually went and did it."

Kata-kata tersebut terkesan arogan, tentu saja. Tapi ada pula keajaiban. Karena Oasis tidak hanya berbicara, mereka membuktikannya. Dua anak muda dari Manchester, yang tumbuh besar dengan sedikit harapan dan banyak impian, benar-benar menaklukkan dunia memalui gitar dan suara yang bisa menghipnotis jutaan pendengar.

Selain itu, Supersonic mendokumentasikan perjalanan kejayaan itu secara lengkap. Dari hari-hari awal ketika Noel bergabung dengan band yang sudah dibentuk Liam bersama kawan-kawannya, hingga malam-malam di Knebworth yang terasa seperti klimaks dari kisah epik rock and roll; semuanya hadir di sini dengan segala kegilaan, kegembiraan, dan kepedihannya.

Kejujuran dari Berbagai Perspektif

Salah satu hal paling mengesankan dari buku ini adalah kejujurannya dalam mengakui bahwa tidak ada satu versi kebenaran yang mutlak. Seperti yang sering dikatakan kebanyakan orang, setiap kejadian memiliki setidaknya tiga versi: versi orang pertama, versi orang kedua, dan apa yang sebenarnya terjadi. Supersonic pun tidak berpura-pura memiliki monopoli atas kebenaran. Sebab, para tokoh yang terlibat di sini dibiarkan untuk saling memuji, saling menuding, mengklarifikasi, dan mengeluarkan kata-kata kasar tanpa ragu.

Namun, justru di situlah letak kekuatan buku ini. Ia tidak mencoba menampilkan Oasis sebagai pahlawan tanpa kesalahan atau menghakimi mereka sebagai sosok rock and roll yang moralnya rusak. Ia hanya menyajikan manusia-manusia autentik; dengan bakat luar biasa, ego yang meledak-ledak, gaya hidup yang berlebihan, dan akhirnya, kekesalan terhadap satu sama lain yang tak bisa lagi ditutupi.

Karena itulah, Oasis harus berakhir. Bukan karena mereka tak bisa lagi menciptakan lagu keren. Bukan karena penggemar meninggalkan mereka. Tapi karena dua orang paling penting dalam cerita ini (dua bersaudara yang saling menghormati bakat satu sama lain, namun sudah muak berada di ruang yang sama) akhirnya memilih untuk berpisah menjalani hidup mereka masing-masing.

***

Supersonic: The Complete, Authorised and Uncut Interviews adalah buku yang layak dibaca bagi penggemar Oasis maupun bagi siapa saja yang tertarik tentang perjalanan band terkenal yang lahir dari kekacauan hidup. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap album yang mengubah hidup seseorang, ada manusia-manusia yang penuh kontradiksi, kelemahan, dan keajaiban. Ia menunjukkan bahwa kejeniusan jarang datang dalam kemasan yang rapi; ia lebih sering muncul dari pertengkaran dan rasa sakit yang diubah menjadi melodi.

Noel pernah berkata bahwa semua yang mereka lakukan bukan soal musik atau penampilan atau skandal, melainkan soal perasaan yang mereka ciptakan dalam diri orang lain. Buku ini adalah bukti bahwa perasaan itu nyata dan bertahan lam; melampaui retaknya persaudaraan, melampaui band yang memutuskan bubar (yang ternyata pada 2024 akhirnya memutuskan bereuni), dan melampaui waktu itu sendiri.

Selama masih ada orang yang menyanyikan Don't Look Back in Anger di sebuah kamar yang sunyi, atau memutar Champagne Supernova sambil menatap langit malam, karya-karya Oasis tidak akan pernah benar-benar berakhir. Begitu juga dengan buku ini, dari segala kejujuran dan kegilaan yang termuat di dalamnya, adalah monumen paling utuh untuk karya abadi itu.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.