PSG Kembali Menjadi Juara Liga Champions

PSG kembali menjadi juara Liga Champions musim 2015/16.
(Sumber gambar: x.com/ChampionsLeague)

Paris Saint-Germain (PSG) telah resmi bergabung dengan klub-klub elit sepak bola Eropa. Mereka berhasil memenangkan pertandingan lewat adu penalti setelah imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu, PSG pun menjadi salah satu tim di era Liga Champions yang berhasil mempertahankan gelar juara selama dua musim berturut-turut. Prestasi ini menyamai pencapaian Real Madrid yang melakukannya tiga kali berturut-turut dari musim 2015/16 sampai 2017/18. Pertandingan final yang digelar di Budapest ini menjadi saksi bagaimana sepak bola modern penuh dengan ketegangan, kontroversi, dan keberuntungan.

Pertandingan dimulai dengan kejutan dari Arsenal. Hanya enam menit berjalan, serangan cepat berujung gol dari Kai Havertz yang melepaskan tembakan keras ke arah gawang. Namun, gol tersebut sempat menuai kontroversi karena bola menyentuh lengan atas Leandro Trossard di awal serangan. Wasit Daniel Siebert tidak menganulirnya, dan VAR pun tidak mengintervensi. Arsenal juga lolos dari penalti ketika Bukayo Saka tampak menyentuh bola di dalam kotak penalti. Meski demikian, Arsenal menampilkan pertahanan solid sepanjang babak pertama, sementara PSG kesulitan menciptakan ancaman meski menguasai bola.

Baru pada menit ke-65, PSG mampu menyamakan skor. Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di kotak penalti, dan Ousmane Dembele berhasil mengeksekusi penalti dengan tenang. Wasit sempat memberikan kesempatan emas kepada PSG, meski Mosquera beruntung tidak diganjar kartu kuning kedua yang berarti kartu merah. Penyelamatan gemilang David Raya mencegah PSG unggul, tetapi di menit akhir waktu normal, tembakan Vitinha hanya melambung tipis di atas mistar. Kontroversi kembali muncul di menit ke-101 saat Noni Madueke tampak dijatuhkan Nuno Mendes di kotak penalti. Wasit menilai bukan pelanggaran, dan VAR tidak mengubah keputusan tersebut. Perpanjangan waktu berakhir tanpa gol, sehingga pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti; pertama kalinya final Liga Champions berakhir demikian sejak musim 2015/16.

Adu penalti berlangsung penuh ketegangan. Dua penendang pertama PSG sukses mengeksekusi penalti. Arsenal kemudian kehilangan momentum ketika tendangan Eberechi Eze melebar. David Raya berhasil menyelamatkan tendangan Nuno Mendes, dan Declan Rice menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Achraf Hakimi dan Gabriel Martinelli sukses, sehingga adu penalti memasuki tendangan kelima. Lucas Beraldo (yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-105) tetap tenang dan mencetak gol penalti kelima PSG ke sudut bawah. Tekanan kini berada di pundak Gabriel. Setelah bola harus diulang penempatannya oleh wasit, Gabriel melepaskan tembakan yang melambung jauh di atas mistar. PSG pun menang 4-3.

Kemenangan ini sangat berarti bagi PSG. Setelah menunggu lama untuk meraih gelar Liga Champions pertama mereka musim lalu dengan kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan, kini mereka berhasil mempertahankannya. Luis Enrique pun menjadi pelatih kelima yang meraih tiga gelar Liga Champions; setelah Bob Paisley, Carlo Ancelotti, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola. Enrique menyatakan, “Kami pantas menang. Sepanjang musim kami layak berada di final. Ini momen terbaik musim ini.” Ia juga menekankan pentingnya keberuntungan di adu penalti, tetapi menegaskan kualitas timnya sepanjang musim.

Bagi Arsenal, kekalahan ini terasa sangat pahit. Setelah kompetisi Liga Champions yang panjang dan tak terkalahkan, ternyata mereka gagal di final karena adu penalti. Sebab, dengan begitu, hasil ini adalah kekalahan ketiga Arsenal di final Eropa melalui penalti setelah tahun 1980 dan 2001. Meski demikian, performa mereka layak diacungi jempol. Arsenal tetap meraih gelar Liga Primer Inggris musim ini dan akan merayakannya pada Minggu ini di Islington. Arteta yakin timnya telah belajar dari kegagalan sebelumnya dan akan siap bersaing lebih baik di Eropa musim depan.

Di sisi lain, beberapa keputusan wasit menjadi sorotan. Pakar wasit Graham Scott menilai bahwa insiden Madueke-Mendes memang ambigu; beberapa sudut menunjukkan pelanggaran, sementara yang lain tidak. Selain itu, handball Trossard dan Saka juga tidak dianggap pelanggaran. Kemudian, Mosquera pun beruntung karena tidak diusir wasit setelah pelanggaran yang berujung penalti.

PSG mencatatkan rekor sempurna di adu penalti di bawah Enrique (6 kali menang dari 6 kesempatan). Strategi kick-off mereka yang langsung membuang bola ke pinggir lapangan juga menunjukkan pendekatan pragmatis: mengutamakan pertahanan dan merebut wilayah lawan. Arsenal pun melakukan hal serupa, menunjukkan bahwa kedua tim lebih nyaman tanpa bola daripada tertekan di area sendiri.

Secara keseluruhan, final ini menjadi perpaduan sempurna antara drama, kontroversi, dan kualitas sepak bola. PSG membuktikan bahwa mereka bukan hanya tim yang sering juara di kandang sendiri (Ligue 1), melainkan juga raksasa Eropa yang kini mampu mempertahankan gelar Liga Champions. Arsenal, meski kalah, menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang sedang naik daun dan siap kembali lebih kuat.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.