Manchester United 3-2 Nottingham Forest.
(Sumber gambar: x.com/ManUtd)
Laga kandang terakhir Manchester United musim ini di Old Trafford menjadi panggung dari berbagai momen yang akan lama dikenang; mulai dari pencapaian bersejarah sang kapten, keputusan wasit yang menuai perdebatan, sampai perpisahan emosional seorang legenda. Selain itu, MU yang berhasil menang 3–2 atas Nottingham Forest merupakan penutup babak yang penuh warna dari sebuah musim yang penuh lika-liku.
Bruno Fernandes dan Rekor yang Diciptakannya
Bruno Fernandes menjadi salah satu pemain yang memberikan assist terbanyak dalam satu musim di Liga Primer Inggris.
(Sumber gambar: x.com/premierleague)
Momen paling ikonik malam itu datang di menit ke-76. Bruno Fernandes memberikan umpan terukur kepada Bryan Mbeumo yang berhasil diselesaikan dengan mulus. Bagi kebanyakan penonton, itu hanyalah gol biasa. Namun bagi pencinta statistik dan sejarah sepak bola Inggris, momen itu adalah sesuatu yang luar biasa; assist ke-20 Fernandes di musim ini sekaligus menyamai rekor Thierry Henry (2002/03) dan Kevin De Bruyne (2019/20) dalam satu musim Liga Primer sepanjang masa.
Opta, lembaga statistik yang mencatat data Liga Primer sejak Agustus 1992, menerapkan definisi assist yang sangat ketat dan konsisten. Artinya, pencapaian Fernandes benar-benar setara dengan apa yang dilakukan Henry lebih dari dua dekade lalu. Tidak heran jika para pemain MU berlarian mengerubungi Fernandes setelah ia berhasil memberikan umpan.
Michael Carrick pun memuji cara Fernandes menyikapi tekanan terhadap rekor itu. "Ia selalu mendahulukan tim," ujar Carrick. "Dan cara ia melakukannya adalah momen yang indah bagi semua orang." Kini pertanyaannya: bisakah Fernandes mencetak assist ke-21 di laga terakhir musim ini melawan Brighton?
Gol Kontroversial
Bola yang sempat menyentuh tangan Mbeumo, sebelum akhirnya dieksekusi Cunha menjadi gol.
(Sumber gambar: x.com/utdreport)
Sebelum rekor itu tercipta, laga ini sempat diwarnai kontroversi, terutama dari kubu Forest. Sebab, gol kedua MU yang dicetak Matheus Cunha di menit ke-55 sempat mengenai tangan Mbeumo.
Wasit Michael Salisbury awalnya mengesahkan gol tersebut, tapi tak lama kemudian ia dipanggil untuk memeriksanya lewat monitor VAR. Setelah meninjau rekaman, ia tetap pada keputusannya: sentuhan tangan itu merupakan momen yang tidak disengaja (accidental). Keputusan ini pun langsung memantik reaksi. Gary Neville di Sky Sports menyebutnya sebagai kasus handball yang sudah jelas, sementara pelatih Forest, Vitor Pereira, menyebut keputusan itu sebagai penentu jalannya pertandingan.
Sayangnya, hukum handball pada sepak bola memang membuka ruang interpretasi yang luas. Di satu sisi, lengan Mbeumo bergerak ke belakang karena berusaha menghindari bola. Di sisi lain, posisi lengannya yang menjauh dari tubuh bisa dianggap membuat tubuhnya secara "tidak wajar" menyentuh pergerakan bola, sehingga dianggap sebagai salah satu kriteria pelanggaran handball. Kedua argumen sama-sama valid secara hukum, dan inilah yang membuat keputusan Salisbury bisa dibenarkan sekaligus dikritik.
Pereira dengan tepat menyinggung kebingungan yang dirasakan banyak manajer: "Penting untuk mengadakan pertemuan dan mencoba memahami aturan serta keputusan. Semua manajer memiliki keraguan." Sebab, regulasi handball perlu diperjelas supaya tidak terus menjadi sumber kontroversi.
Perpisahan Casemiro
Casemiro memberikan ucapan perpisahan di hadapan para suporter setelah pertandingan berakhir.
(Sumber gambar: x.com/ManUtd)
Di balik euforia dan kontroversi, ada kisah yang lebih mengharukan: perpisahan Casemiro dengan Old Trafford. Gelandang bertahan Brasil berusia 34 tahun itu disambut dengan bendera raksasa di Stretford End dan nyanyian "One more year" dari para suporter. Namun, semua itu tidak akan mengubah kenyataan; Casemiro akan meninggalkan MU di akhir musim ini.
Musim terakhirnya terbilang impresif. Ia bermain secara gigih di lini tengah, bersama Kobbie Mainoo, dan menunjukkan bahwa kemampuannya membaca permainan serta duel udaranya masih berada di level tinggi. Dalam 45 menit pertama melawan Forest, ia menyentuh bola sebanyak 45 kali; angka yang menunjukkan betapa penting perannya dalam skema permainan MU.
Namun, gaji besar dan mobilitas yang mulai menurun menjadi pertimbangan klub dalam proses pembaruan skuad. Mencari penggantinya pun akan menjadi tugas penting MU di bursa transfer musim panas ini. Nama Elliot Anderson yang malam itu membantu Forest mendapatkan dua gol karena dua assist, menjadi sorotan suporter MU dan pengamat sepak bola. Di sisi lain, yang patut diperhatikan adalah kemampuan defensif dan duel udara Casemiro bukanlah sesuatu yang mudah diikuti.
Ia ditarik keluar di menit ke-81 dan disambut tepuk tangan meriah dari para suporter MU. Menandakan akhir yang layak bagi seorang gelandang bertahan terbaik di generasinya.
Luke Shaw dan Golnya
Gol yang diciptakan Luke Shaw.
(Sumber gambar: x.com/ManUtd)
Di antara semua cerita besar malam itu, ada kisah kecil yang tak kalah berarti: Luke Shaw, bek kiri yang telah 12 tahun mengabdi di MU, akhirnya mencetak gol pertamanya musim ini di menit kelima.
Shaw adalah pemain yang paling lama mengabdi di skuad ini. Ia telah menyaksikan lima manajer permanen dan empat pelatih sementara, serta pasang surut yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang benar-benar mencintai klub ini. Musim ini pun menjadi salah satu yang terbaik dalam kariernya dengan menuntaskan seluruh 37 laga Liga Primer sebagai starter.
Gol yang diciptakannya terlihat sederhana tetapi efektif: ia menjadi pemain yang cepat menyambut bola rebound dari umpan Fernandes, menyentuhnya sekali dengan kaki kiri, lalu menendangnya ke arah gawang kiper Matz Sels.
Dengan kompetisi Piala Dunia yang berlangsung di Amerika Utara bulan depan, Shaw pun berpeluang masuk dalam skuad Inggris asuhan Thomas Tuchel. Pengalamannya menjadi nilai lebih yang tidak bisa begitu saja diabaikan meski Nico O'Reilly dari Manchester City mulai mencuri perhatian.
Musim yang Belum Usai, Masa Depan yang Terlihat Cerah
Dengan hasil positif melawan Nottingham Forest, ini adalah bukti bahwa Manchester United sedang menemukan kembali identitasnya di bawah arahan Carrick (yang beberapa hari lalu telah mencapai kesepakatan untuk menjadi manajer permanen).
Ada banyak pekerjaan rumah di musim panas nanti, yaitu mencari gelandang bertahan sekaliber Casemiro, menemukan penyerang cadangan untuk Šeško, dan mungkin mempertahankan Shaw sebagai opsi pemain berpengalaman di sisi kiri.
Tapi malam itu, Old Trafford merupakan tempat untuk merayakan: rekor yang telah lama tersimpan akhirnya mampu disamai (bahkan bisa dilampaui di pertandingan terakhir nanti), seorang legenda berpisah dengan hormat, dan seorang pejuang lama akhirnya mendapat momennya.
Itulah sepak bola; dan itulah Manchester United.





