Menakar Realitas Lewat Setan-Setan Imajinasi

(Sumber gambar: goodreads.com)

Ketika berbicara tentang sastra dan jurnalisme, mereka sering dilihat sebagai dua kutub yang berseberangan. Jurnalisme menuntut fakta yang rigid, sementara sastra memberi ruang bagi fiksi untuk bergerak bebas. Namun, melalui buku Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May: Cerpen Terbaik Tempo, sekat-sekat tersebut runtuh. Buku yang merangkum 15 cerpen pilihan kurator Tempo ini menjadi bukti bagaimana imajinasi mampu bekerja sama dengan pengetahuan untuk memotret realitas kehidupan dengan cara yang lebih magis, tajam, dan berani.

Setan Imajinasi dan Keberanian Berpura-pura

Penulis fiksi dalam buku ini seperti mengajak pembaca untuk melakukan sebuah kesepakatan tak tertulis:

"Percaya pada sesuatu yang tidak ada, tahu bahwa itu tidak ada, tetapi memilih untuk berpura-pura bahwa hal itu nyata."

Kenakalan imajinasi inilah yang melahirkan spektrum cerita yang sangat luas. Di satu sisi, pembaca disuguhkan pada narasi-narasi surealis yang melompat keluar dari logika sehari-hari. Kita melihatnya dalam cerpen karya Aan Mansyur, “Saya yang Membakar Kota M Sekali Lagi”, yang dengan indahnya mengimajinasikan sebuah tempat layaknya perpustakaan, tapi bukan buku yang dipinjamkan, melainkan waktu. Begitu pula dengan sosok “Ayoveva” karya Triyanto Triwikromo, makhluk yang mengembara mencari keindahan Tuhan karena tidak puas dengan surga tempat tinggalnya. Cerita-cerita seperti ini melepaskan kita dari belenggu dunia nyata dan membawa kita terbang ke ruang refleksi yang abstrak.

Sensitivitas Sosial di Balik Jubah Jurnalisme

Sebagai media yang memiliki reputasi besar dalam liputan politik dan sosial, Tempo tetap mempertahankan identitasnya dalam buku ini. Benang merah yang menyatukan kelimabelas cerpen ini (yang sempat menjadi teka-teki saat peluncurannya di Tempo Media Week) akhirnya terkuak setelah lembar demi lembar dibaca: kepekaan terhadap aspek sosial dan karakter yang kuat.

Di balik kisah-kisah fiktif ini, denyut nadi sejarah dan kritik sosial terasa sangat kencang. Tengok saja cerpen “Setan Becak” karya Seno Gumira Ajidarma, yang membawa kita kembali ke masa-masa kelam pembersihan simpatisan PKI; era di mana manusia bisa hilang begitu saja bagai asap. Atau “Salam Perkenalan Spesial” yang memotret latar cengkeraman fasisme Nazi. Melalui fiksi, para penulis ini justru berhasil menyampaikan kebenaran emosional dari tragedi sejarah yang mungkin terlalu ngilu jika hanya ditulis dalam bentuk berita yang lurus.

Sinergi Lintas Generasi

Antologi ini menjadi panggung yang adil. Nama-nama besar yang sudah menjadi pilar sastra Indonesia seperti Seno Gumira Ajidarma, AS Laksana, dan Aan Mansyur, bersanding apik dengan talenta-talenta baru yang tak kalah memukau. Kehadiran Ernita Dietjeria dengan “Chicago May” atau Ardy Kresna Crenata dengan “Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko” membuktikan bahwa regenerasi penulis cerpen di Indonesia memiliki masa depan yang cerah dan variatif.

***

Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May: Cerpen Terbaik Tempo adalah sebuah perayaan atas keliaran berpikir. Tempo berhasil membuktikan bahwa untuk memahami manusia dan karut-marut dunianya, kita tidak hanya membutuhkan data dan fakta, tetapi juga "setan-setan nakal" bernama imajinasi yang menuntun kita melihat realitas dari sudut pandang yang paling jujur.


_________________
Buku Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May: Cerpen Terbaik Tempo bisa dibeli di sini:

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.