Tirani Mayoritas dan Kesepian dalam Menyuarakan Kebenaran

(Sumber gambar: perjamuanbuku.com)

Demokrasi biasanya diagungkan melalui jargon klasik: "Vox populi, vox dei" yang berarti "Suara rakyat adalah suara Tuhan". Namun, apa yang terjadi ketika suara rakyat yang masif tersebut lahir dari ketidaktahuan yang dipelihara, manipulasi informasi, dan ketergantungan ekonomi? Melalui naskah drama Subversif!, sebuah adaptasi dari mahakarya Henrik Ibsen An Enemy of the People, Faiza Mardzoeki melontarkan gugatan terhadap moralitas suara mayoritas. Naskah ini pun bagaikan cermin retak yang merekam realitas sosial-politik kontemporer kita hari ini.

Kisah ini berpusat pada konflik horizontal dan vertikal di Kota Kencana. Dokter Torangga, seorang ilmuwan dan dokter yang idealis, menemukan fakta medis yang mengerikan: limbah dari PT Harapan Tambang Gemilang sudah mencemari seluruh sistem perairan kota dan perlahan membunuh warganya. Berniat baik untuk menyelamatkan kota, Torangga justru membentur tembok tebal kekuasaan yang dimotori oleh kakak kandungnya sendiri, Walikota Jokarna. Di sinilah ironi terbesar dimulai. Alih-alih disambut sebagai juru selamat, Dokter Torangga justru dikucilkan, dicap gila, dan akhirnya dinobatkan sebagai "musuh rakyat" atau seorang subversif.

Aliansi Elektoral dan Konstruksi Kemakmuran Palsu

Konflik antara Torangga dan Jokarna melampaui perselisihan keluarga; ini sudah termasuk benturan epistemologis antara kebenaran ilmiah berbasis etika kemanusiaan melawan pragmatisme politik berbasis pencitraan. Bagi Walikota Jokarna, yang terpenting bukanlah keselamatan jangka panjang warga, tetapi stabilitas ekonomi semu dan terjaganya citra politik di mata publik.

Faiza Mardzoeki dengan jeli menggambarkan bagaimana penguasa tidak bekerja sendirian. Terjadilah sebuah konspirasi sistemik yang melibatkan seluruh elemen masyarakat:

1. Penguasa dan Pengusaha: Menjaga narasi bahwa investasi korporasi adalah urat nadi kehidupan kota.

2. Media Massa dan Wartawan: Menjadi alat sensor dan corong propaganda untuk membungkam temuan Torangga demi kepentingan bisnis.

3. Kaum Intelektual dan Politisi: Memutarbalikkan fakta demi mengamankan posisi aman mereka.

4. Massa (Buruh, Ibu Rumah Tangga, Rakyat): Diadudomba dengan embusan isu bahwa jika tambang ditutup, mereka akan kehilangan mata pencaharian.

Rakyat Kota Kencana akhirnya memilih untuk dibuai "kemakmuran palsu". Ketakutan akan kemiskinan instan mengalahkan rasionalitas mereka tentang bahaya ekologis yang mengancam nyawa anak cucu mereka. Di bawah manipulasi ini, massa dipersenjatai dengan legitimasi jumlah; mereka menjadi mayoritas yang merasa paling benar.

Tirani Kebenaran Mayoritas

Kalimat pembuka yang provokatif dalam naskah ini, "Mayoritas selalu benar adalah tirani kebenaran! Mayoritas selalu benar adalah kebohongan sosial!", menjadi tesis utama dari esai ini. Ketika kuantitas suara digunakan untuk menentukan validitas sebuah kebenaran ilmiah, maka sains dan kemanusiaan telah kalah oleh populisme korup.

Dokter Torangga mengalami apa yang disebut sebagai "kesepian dalam kebenaran". Ia harus memilih dilema eksistensial yang sangat berat: mengamankan kesejahteraan pribadi dan keluarganya dengan cara ikut menutup mata, atau terus bersuara dengan risiko kehilangan segalanya. Ketika Torangga memilih untuk tetap merdeka dan berakal sehat, ia secara otomatis menjadi musuh dari sistem. Ia menjadi "subversif" hanya karena ia menolak untuk ikut menelan kebohongan kolektif.

Relevansi Kontekstual Indonesia Hari Ini

Meskipun naskah aslinya berakar dari Norwegia abad ke-19, proses "peng-Indonesiaan" yang dilakukan Faiza Mardzoeki membuat naskah ini terasa sangat lokal dan kontemporer. Di Indonesia, kita kerap menyaksikan pola yang persis sama: konflik agraria, pencemaran lingkungan akibat industri ekstraktif, korporasi yang kebal hukum karena berhubungan dengan penguasa lokal, hingga masyarakat lingkar tambang yang dilematis antara mempertahankan ruang hidup atau kebutuhan isi perut.

Subversif! mengingatkan kita bahwa jurnalisme yang mandul, intelektual yang menggadaikan idealismenya, serta masyarakat yang mudah disulut emosinya oleh isu ekonomi jangka pendek adalah bahan bakar utama lestarinya sebuah dinasti kekuasaan yang korup.

***

Naskah drama Subversif! adalah sebuah bacaan bagi siapa saja yang peduli pada arah masa depan masyarakat. Buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas, tajam, tetapi mudah dimengerti, menjadikannya kritik sosial yang sangat membumi.

Melalui akhir kisah Dokter Torangga, Faiza Mardzoeki memberikan kita sebuah peringatan keras. Kebenaran tidak boleh disembunyikan hanya karena ia tidak populer atau berada di pihak minoritas. Pada akhirnya, Subversif! menantang kita yang membaca atau menontonnya: ketika kota kita sendiri sedang diracuni secara perlahan oleh oligarki dan kemakmuran semu, di manakah posisi kita? Apakah kita akan menjadi bagian dari mayoritas yang bungkam, atau berani menjadi "subversif" demi tegaknya kemanusiaan?

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.