Beberapa di antara kita pasti pernah merasa bahwa hidup ini seperti lautan yang tak pernah tenang; ombak datang silih berganti, kadang kecil, kadang menghantam keras sampai membuat kita kehilangan arah. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang memberikan jangkar kecil, sederhana, tapi kuat, untuk membantu kita tetap berada di tempat yang benar. Begitulah rasanya ketika pertama kali membuka Consider This: Reflections for Finding Peace karya Nedra Glover Tawwab.
Buku ini lebih mirip catatan harian yang berisi kata-kata bijak dan potongan-potongan pemikiran yang ringkas serta menyentuh. Nedra seolah berbicara langsung kepada kita, seperti sahabat yang duduk di sebelah sambil minum secangkir teh hangat, mengingatkan hal-hal yang sering kita lupakan di tengah hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari.
Apa yang membuat buku ini berbeda adalah caranya menyajikan refleksi harian. Setiap tulisannya mudah dicerna dan meninggalkan kesan mendalam. Topiknya pun beragam, mulai dari cara menetapkan batasan (boundaries), meninggalkan drama kehidupan yang tak perlu, sampai belajar mengekspresikan diri dengan jujur dan utuh. Nedra juga mengajak kita melihat pola-pola kecil pada kehidupan sehari-hari yang selama ini membuat kita lelah, resah, atau bahkan kehilangan rasa damai.
Selain itu, salah satu hal yang paling saya suka pada buku ini adalah bagaimana ia menekankan bahwa kedamaian bukanlah sesuatu yang datang dari luar (bukan karena orang lain berubah, situasi membaik, atau dunia tiba-tiba jadi sempurna). Kedamaian dimulai dari dalam, dari keputusan sadar untuk memilih apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri. Misalnya, ketika ia membahas soal batasan, itu merupakan cara menghormati diri agar hubungan dengan orang lain justru bisa lebih sehat dan tulus. Atau saat ia mengingatkan supaya kita tidak terjerumus pada drama kehidupan yang tak perlu: seringkali kita terjebak dalam pertengkaran kecil karena ingin membuktikan bahwa pendapat kita benar, padahal yang kita butuhkan hanyalah ketenangan hati.
Gaya penulisannya pun terasa sangat manusiawi. Tak ada istilah-istilah rumit atau teori panjang lebar. Nedra menggunakan contoh-contoh dari kehidupan nyata yang membuat kita mengangguk pelan lalu berkata "Iya, ini gue banget!" Ia juga tak ragu mengakui bahwa perubahan itu sulit; ada hari-hari ketika kita gagal, ketika kita kembali mengiyakan sesuatu yang seharusnya ditolak, atau ketika emosi tiba-tiba mengambil alih diri. Tapi justru di situlah kekuatannya: buku ini tidak menuntut kita menjadi sempurna, melainkan didorong untuk konsisten dalam melakukan kemajuan kecil.
Pada akhirnya, Consider This: Reflections for Finding Peace mengajak kita untuk terus bertumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh. Bukan dengan paksaan besar-besaran, tapi melalui pengingat sederhana setiap hari: bernapaslah, renungkanlah, dan pilih perdamaian sebisa mungkin. Di dunia yang dinamis dan sering bising ini, buku seperti ini terasa seperti embusan angin sejuk, juga menjadi pengingat bahwa kita boleh berhenti sejenak, boleh memprioritaskan diri sendiri, dan boleh mencari kedamaian tanpa merasa bersalah.

