Manchester United Mempermalukan Arsenal di Emirates Stadium

Manchester United berhasil mengalahkan Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 2-3.
(Sumber gambar: x.com/premierleague)

Pertandingan di Emirates Stadium pada akhir pekan lalu (25/1/2026) benar-benar menyajikan drama yang berkesan. Manchester United berhasil membungkam tuan rumah Arsenal dengan skor 3-2 melalui gol spektakuler menjelang pertandingan berakhir, meski sempat tertinggal lebih dulu. Kekalahan ini membuat posisi Arsenal di puncak klasemen Liga Primer Inggris terancam, karena keunggulan mereka atas Manchester City kini hanya tinggal empat poin setelah City menang atas Wolves.

Mbeumo memanfaatkan kesalahan umpan Zubimendi untuk mencetak gol.
(Sumber gambar: x.com/premierleague)

Gol pembuka datang dari kesalahan Lisandro Martinez yang tak sengaja mencetak gol bunuh diri, setelah umpan silang dari sisi kiri MU berhasil dimanfaatkan Arsenal. Namun, MU tak butuh waktu lama untuk menyamakan kedudukan. Bryan Mbeumo memanfaatkan blunder Martin Zubimendi yang memberikan umpan pendek ceroboh. Dengan sentuhan tenang, Mbeumo melewati kiper David Raya dan menyelesaikan peluang dengan cemerlang. Momen itu menjadi gol ke-50 Mbeumo di Liga Primer, dan khususnya bagi MU, ia terbukti menjadi pemain yang bisa diandalkan ketika menghadapi tim besar (seperti saat melawan Manchester City).

Babak kedua baru dimulai lima menit ketika Patrick Dorgu mencetak gol luar biasa. Bola pantul di luar kotak penalti berhasil ia tendang dengan keras hingga membentur mistar gawang dan masuk. Gol itu membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk MU. Dorgu, yang semula bermain sebagai wing-back di era Ruben Amorim, kini ditempatkan lebih maju sebagai gelandang sayap kiri oleh Michael Carrick. Keputusan itu terbukti tepat. Selain menjadikan sisi pertahanan lebih baik, Dorgu juga menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang.

Gol Cunha dari luar kotak penalti Arsenal, memastikan kemenangan Manchester United di Emirates Stadium.
(Sumber gambar: x.com/premierleague)

Arsenal sempat bangkit lewat gol Mikel Merino yang memanfaatkan situasi bola mati di menit-menit akhir, sehingga skor menjadi 2-2. Stadion tim tuan rumah pun kembali bergemuruh, dan harapan untuk juara kembali menyala. Namun, dalam hitungan menit saja, mimpi itu pupus. Matheus Cunha, yang masuk sebagai pengganti, melepaskan tembakan melengkung dari jarak jauh ke sudut bawah kiri gawang Arsenal. Gol yang sangat indah dan langsung mematikan semangat tuan rumah.

Di bawah asuhan pelatih sementara Michael Carrick, MU tampil sangat meyakinkan. Dua laga beruntun melawan tim papan atas (Manchester City dan Arsenal) berakhir dengan kemenangan. Carrick menerapkan perubahan sederhana yang ternyata efektif: mengembalikan Kobbie Mainoo ke lini tengah untuk mengatasi masalah penguasaan bola di area sempit, menjaga sisi pertahanan secara kompak, tapi tetap membiarkan serangan mengalir secara fleksibel. Pendekatan ini pun membawa angin segar bagi para pemain yang sebelumnya terlihat kehilangan arah di tangan Amorim.

Bagi Arsenal, kekalahan ini menyakitkan. Mereka mendominasi di awal, tapi tidak menampilkan serangan yang efektif. Umpan buta, sentuhan yang kurang akurat, dan kesalahan individu mereka membuat MU memanfaatkan momen-momen tersebut. Ini menjadi kekalahan kandang pertama mereka musim ini di liga, serta menambah catatan buruk: tiga laga tanpa kemenangan beruntun di Liga Primer. Di musim sebelumnya, tren serupa pernah memupuskan mereka untuk juara. Kini, dengan 15 pertandingan tersisa, tekanan semakin besar, terutama jelang laga tandang ke Leeds yang sedang on fire.

Sementara itu, Carrick enggan terbawa euforia. Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan baik secara bertahap, tanpa memandang terlalu jauh ke depan. Namun, sulit untuk tak terkesan. Sebab, dalam waktu singkat, ia membuat MU kembali terasa seperti tim yang haus kemenangan, penuh kepercayaan diri, dan mampu menampilkan gol-gol indah. Dorgu dan Cunha menjadi bukti nyata bahwa keputusan taktisnya berhasil.

Laga ini mengingatkan kita bahwa sepak bola selalu penuh kejutan. Arsenal yang tampak mendominasi di musim ini tiba-tiba terlihat lemah, sementara Manchester United yang beberapa musim belakangan sering menunjukkan inkonsistensi justru menemukan kembali jati dirinya. Apakah ini awal kebangkitan MU di bawah asuhan Carrick, atau sekadar performa bagus sementara? Yang pasti, hasil ini membuat persaingan gelar semakin sengit, dan Emirates Stadium takkan melupakannya dalam waktu dekat ini.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.