Anarki dalam Keseharian

(Sumber gambar: theanarchistlibrary.org)

Ketika mendengar kata "anarkisme", sebagian besar orang langsung membayangkan kekacauan, kerusuhan, atau ketiadaan aturan yang berujung pada hukum rimba. Namun, dalam bukunya, Anarchy in Action (pertama kali diterbitkan pada 1973), Colin Ward memberikan sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Bagi Ward, anarkisme adalah teori tentang organisasi sosial, bukan sebuah strategi revolusi berdarah atau spekulasi utopis tentang masa depan.

Ward berargumen bahwa masyarakat anarkis (sebuah masyarakat yang mengorganisasi dirinya sendiri tanpa otoritas) sebenarnya "sudah dan selalu ada", tetapi sebagian tersembunyi dan terkubur di bawah beban berat negara, birokrasi, dan kapitalisme. Buku ini menjadi semacam catatan kaki kontemporer yang memperluas konsep Mutual Aid (Saling Bantu) milik Peter Kropotkin, dengan menjembatani realitas sehari-hari dan aspirasi anarkisme.

Dua Akar Ideologis dan Konsep Negara

Menurut Colin Ward, anarkisme sebagai ideologi politik dan sosial memiliki dua asal-usul sejarah yang berbeda:

1. Turunan pamungkas dari liberalisme (menekankan kebebasan individu).
2. Tujuan akhir dari sosialisme (menekankan kesetaraan dan kepemilikan bersama).

Ward sendiri cenderung berdiri pada pendekatan "liberal", yang lebih berfokus pada perjuangan sosial berkelanjutan oleh orang-orang biasa demi pengorganisasian mandiri (self-organisation).

Dalam mengkritik negara, Ward tidak melihat negara sebagai sebuah benda yang bisa dihancurkan begitu saja dengan revolusi fisik dalam satu malam. Ia mengutip pemikir Gustave Landauer:

"Negara bukanlah sesuatu yang bisa dihancurkan oleh revolusi, melainkan sebuah hubungan tertentu antarmanusia... kita menghancurkannya dengan membangun hubungan lain, dengan berperilaku secara berbeda."

Oleh karena itu, alih-alih membangun struktur hierarkis berbentuk piramida (seperti yang dilakukan Marxisme lewat sentralisasi atau partai politik), Ward mendesak kita untuk membangun jaringan (networks) alih-alih piramida (pyramids). Struktur masyarakat ideal dikonseptualisasikan sebagai jaringan cair dari kelompok-kelompok otonom yang saling berfederasi secara sukarela.

Ketertiban Spontan (Spontaneous Order) dan Kompleksitas

Salah satu tesis menarik dalam Anarchy in Action adalah teori tentang "ketertiban spontan". Ward menunjukkan berbagai contoh sejarah ketika kendali negara runtuh atau hilang untuk sementara waktu; seperti Revolusi Spanyol 1936 (khususnya di desa Membrilla di mana kolektivitas berjalan sukses), Revolusi Hungaria 1956, hingga Musim Semi Praha 1968. Saat otoritas absen, yang muncul bukanlah kekacauan, melainkan inisiatif warga untuk saling membantu dan mengelola kebutuhan material komunitas secara adil.

Ward membantah anggapan bahwa anarkisme hanya bisa bekerja di komunitas kecil yang primitif dan sederhana. Sebaliknya, ia menegaskan:

"Anarki adalah fungsi dari kompleksitas dan multiplisitas organisasi sosial suatu masyarakat, bukan karena kesederhanaannya."

Organisasi anarkis yang efektif justru bersandar pada tiga prinsip utama:
1. Kelompok tanpa pemimpin (leaderless groups): yang bergerak berdasarkan konsensus.
2. Keberagaman alih-alih keseragaman (diversity rather than unity).
3. Organisasi federalis tanpa adanya otoritas pusat.

Kritik Kontekstual: Antara Dekade 1970-an dan Realitas Modern

Meskipun Anarchy in Action diakui sebagai alat propaganda libertarian yang luar biasa karena bahasanya yang jernih dan membumi, buku ini tetap merupakan produk dari masanya (Inggris era 1970-an). Ketika membaca ulang buku ini dengan kacamata hari ini, ada beberapa poin yang terasa usang atau kontradiktif:

1. Isu Perumahan (Housing) dan Kesejahteraan (Welfare)

Dalam bab perumahan, Ward sangat memuji gerakan squatting (pendudukan lahan/bangunan kosong) dan koperasi perumahan. Namun, ia dikritik karena terlalu antusias terhadap kepemilikan rumah pribadi (owner-occupier) dan cenderung meremehkan perumahan publik (council housing). Di tengah krisis properti modern, pandangan ini terasa kurang relevan. Begitu pula dalam bab kesejahteraan, optimisme Ward terhadap claimants unions (serikat penerima bantuan) sulit ditemui saat ini karena masyarakat modern cenderung semakin terfragmentasi dan terdemoralisasi oleh sistem birokrasi kesejahteraan negara.

2. Dunia Kerja yang Telah Berubah

Pada era 1970-an, Ward menulis dalam konteks produksi massal terpusat (Fordisme). Hari ini, dunia kerja telah mengalami restrukturisasi global yang masif akibat otomatisasi dan teknologi informasi. "Kemandirian kerja" yang dulu diagungkan kini sering dipaksakan oleh negara dan kapitalisme dalam bentuk gig economy demi memangkas biaya korporasi. Selain itu, visi desentralisasi industri ala Kropotkin yang sempat Ward contohkan terjadi di Cina pada masa itu, justru kini berbalik menjadi simbol kapitalisme global dan industrialisasi super-padat.

***

Meskipun struktur ekonomi global telah berubah drastis sejak buku ini ditulis, pesan inti Colin Ward tetap tidak tergoyahkan. Kehidupan di dunia kapitalis saat ini sebenarnya hanya bisa tertoleransi karena adanya elemen-elemen non-kapitalis dan non-negara yang dihidupkan oleh manusia setiap hari: gotong royong, solidaritas tetangga, komunitas hobi, hingga aksi saling bantu tanpa pamrih.

Anarchy in Action berhasil membuktikan bahwa anarkisme adalah realitas praktis yang sudah kita jalani sehari-hari, setiap kali kita memilih untuk bekerja sama tanpa melibatkan polisi, bos, atau birokrat. Buku ini tetap menjadi pemantik diskusi bagi siapa saja yang mendambakan kebebasan dan kemandirian di tengah dunia yang kian terkontrol.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.