Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen karya Leila S. Chudori pertama kali terbit pada 1989 dan diterbitkan ulang pada 2009. Meski ditulis di akhir era 1980-an (tepat sebelum Leila menjadi wartawan Tempo) kumpulan cerpen ini tetap terasa sangat relevan sampai sekarang. Selain sebagai kumpulan cerita pendek, buku tipis ini merupakan ruang pulang bagi seorang penulis perempuan yang ingin jujur di tengah keterbatasan. Leila menantang dirinya sendiri untuk merangkai kisah yang ringkas, padat, tetapi penuh makna. Hampir di setiap cerpennya, ia menyisipkan jejak tokoh-tokoh dari buku-buku yang pernah dibacanya, seolah menghidupkan kembali percakapan lintas zaman dan lintas imajinasi. Membaca Malam Terakhir seperti menelan obat pahit: getir, menohok, tetapi sekaligus memberi kesadaran mendalam. Leila mengingatkan kita bahwa luka-luka sosial dan kemanusiaan tidak boleh dilupakan, bahwa kebebasan pribadi dan suara kritis harus terus diperjuangkan.
Salah satu kekuatan utama Leila adalah kemampuannya menciptakan ruang dan waktu yang khas. Narasinya melompat-lompat, penuh imajinasi, paradoks, dan metafora yang tajam tanpa berlebihan. Ia tidak menulis untuk “dibaca ala kadarnya”; pembaca diajak mencerna perlahan, bahkan berulang-ulang, untuk memahami maksud yang tersembunyi di balik bahasa yang puitis. Gaya ini berbeda dengan novel-novelnya yang lebih kemudian seperti Pulang, yang lebih “apa adanya” dan ringan. Di Malam Terakhir, metafora menjadi senjata utama: tikus yang menggerogoti alat vital tahanan perempuan, burung gagak yang menemani dialog dengan John Keats, atau ulat kecil yang menyuburkan bumi dengan “udara kebenaran”. Semua itu bukan hiasan semata, melainkan cara Leila menyampaikan kritik yang menusuk.
Buku ini terdiri dari sembilan cerpen yang saling melengkapi, membentuk mozaik tema feminisme, kebebasan, patriarki, hipokrasi, pernikahan, kasih sayang keluarga, serta kritik sosial-politik Orde Baru. “Paris, Juni 1988” membuka dengan pertanyaan tentang makna kebebasan sejati. Marc, sang pelukis, sadar bahwa Janou tidak bisa menguasai hatinya yang paling dalam. “Ada sesuatu dalam hati, satu sekat ruang yang tak bisa dimiliki siapa-siapa barang seusapan pun?” Pertanyaan ini menggambarkan kebebasan yang tak bisa direnggut oleh siapa pun, bahkan oleh cinta atau khayalan.
“Adila” adalah potret paling menyayat tentang penindasan orang tua atas nama cinta. Adila merasa terpenjara oleh ibu otoriter yang menginginkan kesempurnaan. Ia menciptakan teman khayalan dari tokoh-tokoh sastra: Ursula dari The Rainbow karya D.H. Lawrence, Bapak Neill dari Summerhill, dan Stephen Dedalus. Melalui mereka, Adila belajar arti kebebasan yang sesungguhnya. Cerpen ini menunjukkan bagaimana anak perempuan sering kali harus “melarikan diri” ke dunia imajinasi demi bertahan dari tekanan masyarakat.
“Air Suci Sita” menjadi salah satu cerpen paling kuat dalam membongkar standar ganda patriarki. Kutipannya masih relevan hingga hari ini:
“Engkau begitu tegap, mandiri, dan mempertahankan kesucianmu seperti yang diwajibkan oleh masyarakat; sedangkan aku adalah lelaki lemah, payah, manja, tak bisa menahan diri. Kami, para lelaki, dimanjakan dengan apa yang dianggap sebagai kodrat, kami diberi permisi seluas-luasnya. Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa…”
Leila dengan tajam mengkritik bagaimana masyarakat memaafkan pengkhianatan laki-laki sebagai “kodrat”, sementara perempuan yang sama harus menanggung stigma nista. Ini merupakan suara perempuan yang jujur, yang berani menyatakan ketidakadilan tanpa perlu berteriak.
“Sehelai Pakaian Hitam” (atau Sehelai Kain Hitam) mengupas hipokrasi dunia kepenulisan dan citra kesucian yang dipaksakan masyarakat. Tokoh utama merasa harus selalu mengenakan “baju putih” di mata publik, padahal ia tahu ada noda di dalamnya. “Mereka menolak melihat bahwa di antara warna putih, ada noda, ada titik-titik kotor… Mereka tak ingin melihat aku sebagai manusia biasa.” Cerpen ini juga menyentuh tema religius: bagaimana citra “suci” sering kali menjadi beban yang menghancurkan.
“Untuk Bapak” adalah cerpen paling emosional. Leila menyisipkan referensi Mahabharata dengan indah: ayah digambarkan seperti Bhisma yang setia pada sumpahnya, ditusuk panah-panah Srikandi. “Anakku, panah-panah Bhisma itu sudah menjadi urat nadi Bapak. Tapi kamu tetap menjadi jantungku.” Cerpen ini membuktikan bahwa di tengah kritik sosial yang tajam, Leila tetap hangat ketika menulis tentang kasih sayang keluarga.
“Keats” menghadirkan suasana suram dan penuh metafora. Tami, yang keluarganya menolak pilihan hidupnya dan memaksakan perjodohan, menuangkan isi hatinya kepada John Keats; penyair favorit Leila yang selalu muncul pada karyanya melalui sajak tentang kematian. “Ilona” menggambarkan ketidakpercayaan pada institusi pernikahan setelah melihat kegagalan orang tua. “Rasa sepi itu selalu menyerang setiap orang yang menikah maupun yang tidak menikah.” Ilona menjadi tokoh perempuan favorit banyak pembaca: kuat, tahu apa yang diinginkannya, meski bertentangan dengan moral dan agama masyarakat.
“Sepasang Mata Menatap Rain” adalah kritik sosial yang diceritakan secara eksplisit. Anak kecil bernama Rain (yang kebetulan sama dengan nama anak Leila) melihat kelaparan dan peperangan di Burundi melalui majalah ibunya, lalu menyaksikan pengamen miskin di depan mata ketika mereka sedang berada di dalam mobil pribadi. Cerpen ini menegur orang tua supaya jujur kepada anak-anaknya tentang penderitaan di luar rumah.
Penutup buku, “Malam Terakhir”, bisa dikatakan paling menohok. Seorang gadis menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan ayahnya sendiri; seorang pejabat yang berkuasa di masa Orde Baru. “Ulat-ulat kecil… akan hancur diinjak sepatu bergerigi itu. Tapi, ulat kecil itu akrab berdekapan dengan tanah. Dan mereka akan menyuburkan bumi ini dengan udara kebenaran.” Metafora ini menjadi lambang harapan: suara kecil yang ditekan tetap akan menyuburkan kebenaran di masa depan.
***
Melalui kesembilan cerpen ini, Leila menulis tentang perempuan dan kemanusiaan secara keseluruhan. Ia menjadi representasi penulis perempuan yang berani mengangkat tema-tema yang jarang disentuh penulis laki-laki pada zamannya: patriarki, standar ganda, hipokrasi publik, dan represi politik. Tokoh-tokohnya (Marc yang “gila” tapi bebas, Adila yang melarikan diri ke imajinasi, Ilona yang memilih kebahagiaan versi sendiri) menjadi cermin bagi pembaca untuk merefleksikan posisi diri di tengah masyarakat Indonesia yang masih bergulat dengan isu-isu yang sama sampai sekarang.
Malam Terakhir bukan buku yang mudah dicerna. Metafora yang padat dan lompatan cerita menuntut konsentrasi tinggi. Namun justru di situlah keistimewaannya. Buku ini mengajak kita “bermain aman” untuk berkenalan dengan Leila sebelum terjun ke novel-novelnya yang lebih berat. Setelah membacanya, kita sadar bahwa Leila S. Chudori adalah seorang penulis cerita sekaligus saksi sejarah yang memberi ruang bagi suara perempuan untuk pulang ke diri sendiri: jujur, tanpa kompromi, dan penuh keberanian.
Leila mengingatkan kita: kebenaran mungkin relatif, tapi kebohongan yang dipaksakan masyarakat akan selalu menciptakan luka. Dan luka-luka itu, seperti ulat kecil di “Malam Terakhir”, tetap akan menyuburkan bumi dengan udara kebenaran. Buku ini, meski lahir lebih dari tiga dekade lalu, tetap menjadi obat pahit yang sangat dibutuhkan hari ini.
_________________
Buku Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen karya Leila S. Chudori bisa dibeli di sini:

