Wabah, Sains, dan Politik

Sumber gambar: antinomi.org

Pada masa ketika kabar Covid-19 mulai tersebar ke luar Tiongkok pada awal 2020, termasuk Indonesia, para pejabat kita seakan tak peduli dan, bahkan, menyatakan bahwa virus tersebut tidak akan masuk ke Indonesia karena masyarakat kita suka makan nasi kucing-lah, suka minum jamu-lah, dan pernyataan konyol lainnya. Para pejabat tersebut seakan tak mendengar para ilmuwan yang sudah mewanti-wanti hal buruk yang akan terjadi jika mereka menyepelekan Covid-19. Selain itu, tak kalah lucunya beberapa selebritas yang memiliki banyak pengikut di media sosial ada yang menyatakan bahwa virus yang sedang melanda ini adalah hasil konspirasi elite global. Melihat kenyataan yang terjadi, memang cukup membuat saya pesimistis terhadap kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah serta masyarakat yang masih menyepelekan pandemi yang sedang kita rasakan bersama.

Sejalan dengan itu, buku berjudul Wabah, Sains, dan Politik (yang bisa diunduh secara legal dan gratis di Antinomi.org) ini membahas tentang fenomena dan dampak yang terjadi dari wabah Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh dunia. Dan ternyata, kekonyolan yang saya katakan di awal, bukan hanya dilakukan oleh pejabat dalam negeri, melainkan juga di Amerika Serikat yang—kemungkinan besar—dianggap sebagai negara maju dan "melek" sains pun masih menyepelekan nasihat dari ilmuwan serta kurang siap juga menyiapkan peralatan medis yang cukup dan layak bagi para dokter yang menangani pasien yang tertular.

Dengan demikian, wabah Covid-19 memang membuat kita sebagai umat manusia harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi selagi para ahli di bidang medis sedang membuat vaksin.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.