When We Were Orphans


Pada 2017 lalu, ketika peraih Nobel Sastra diumumkan, muncullah nama Kazuo Ishiguro. Nama tersebut—di saat itu—baru pertama saya dengar. Saya mengira, ia adalah orang Jepang, tapi ternyata dari umur lima tahun ia sudah berada di Inggris dan memiliki kewarganegaraan sana. Lantas, karena saya mendapatkan referensi penulis baru, saya pun ingin membaca karya-karyanya.

Dan, baru pada 2021 saya membaca novelnya yang—dari sekian banyak yang sudah terbit—berjudul When We Were Orphans. Buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Linda Boentaram dan diterbitkan oleh Elex Media pada 2012 ini mengisahkan tentang Christopher Banks dalam mengusut kedua orang tuanya yang hilang semasa ia kecil.

Christopher Banks lahir di Shanghai pada awal abad kedua puluh. Karena pada saat itu sedang ramai masuknya opium ke dataran China, maka kedua orang tuanya sebagai aktivis yang menolak pengedaran opium secara bebas, mulai memprotes tentang aktivitas tersebut kepada pemerintah dan para pengusaha. Oleh karena itu, banyak pihak yang tidak senang kepada mereka.

Yang pertama hilang adalah ayahnya, kemudian ibunya. Lantas, ketika ia sudah menjadi yatim-piatu pada umur sembilan tahun, ia dibawa ke Inggris untuk diasuh oleh bibinya. Di sana, ia bersekolah di asrama dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru; betapa ia masih merindukan kedua orang tuanya, suasana Shanghai, dan sahabatnya—Akira.

Beberapa tahun kemudian setelah beranjak dewasa, ia menjadi seorang detektif ternama di daerahnya. Karena masih ingat dengan misteri hilangnya kedua orang tuanya, maka secara perlahan ia mengumpulkan bukti dan sumber-sumber tentang hilangnya mereka untuk digali lebih mendalam. Dengan begitu, ia bisa kembali ke Shanghai dan menemui orang-orang yang pernah dekat dengan kedua orang tuanya.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.