Novel Don Quijote dari La Mancha (jilid pertama) karya Miguel de Cervantes Saavedra, yang diterbitkan pertama kali pada 1605, sering disebut sebagai novel modern pertama dalam sejarah sastra Barat. Melalui terjemahan berbahasa Indonesia yang diterbitkan Pustaka Obor pada 2019 (hasil kerja sama dengan Kedutaan Besar Spanyol dan diterjemahkan oleh Apsanti Djokosujatno), pembaca Indonesia akhirnya bisa menikmati karya klasik ini secara lengkap. Dengan tebal lebih dari seribu halaman yang dibagi menjadi dua jilid, novel ini merupakan satire tentang pengaruh bacaan terhadap realitas, batas antara imajinasi dan kewarasan, serta sifat manusia yang penuh kontradiksi.
Cerita berpusat pada Alonso Quijano, seorang pria paruh baya dari desa kecil di La Mancha, Spanyol. Ia adalah pembaca fanatik novel-novel ksatria abad pertengahan. Setelah membaca berlembar-lembar kisah kepahlawanan, Quijano pun kehilangan kemampuan membedakan dunia nyata dengan dunia rekaan. Ia mengubah namanya menjadi Don Quijote de la Mancha, mempersenjatai diri dengan baju zirah usang, menamai kudanya "Rocinante", dan memilih seorang petani sederhana bernama Sancho Panza sebagai squire (pelayan setia). Dengan tekad menjadi ksatria pengembara, Don Quijote dan Sancho memulai perjalanan yang penuh kegilaan sekaligus kelucuan.
Salah satu adegan paling ikonik adalah pertarungan melawan “raksasa” di jilid pertama. Don Quijote melihat sekumpulan kincir angin sebagai monster mengerikan yang harus dibasmi. Meski Sancho sudah berulang kali memperingatkan bahwa itu hanya kincir angin biasa, sang ksatria tetap nekat menyerbu dengan tombak teracung. Hasilnya adalah kekalahan memalukan dan tubuh yang babak belur. Adegan ini menjadi lambang sempurna dari tema utama novel: konflik antara ilusi dan realitas. Sebab, Don secara sadar memilih untuk hidup di dunia fantasi karena dunia nyata terasa terlalu biasa dan tidak heroik.
Sepanjang petualangan mereka, Don Quijote terus “membaca” dunia dengan kacamata novel ksatria. Setiap orang yang ditemui dianggap sebagai musuh, penyihir jahat, atau putri yang perlu diselamatkan. Akibatnya, banyak orang tak bersalah menjadi korban serangannya; dari para musafir biasa hingga pendeta dan pedagang. Namun, Cervantes tidak menjadikan Don Quijote sebagai tokoh yang hanya konyol. Di balik kegilaannya, ia memiliki idealisme: ingin memperbaiki dunia, melindungi yang lemah, dan menegakkan keadilan. Sementara itu, Sancho Panza mewakili sisi pragmatis dan realistis. Ia sering mengingatkan tuannya dengan logika sederhana (“Ini hanya kincir angin, tuan!”), tetapi tetap setia karena harapan mendapatkan “pulau” sebagai imbalan. Dinamika dua karakter ini—idealisme versus realisme—menjadi salah satu kekuatan terbesar novel dan sumber humor yang tak habis-habis.
Selain itu, Cervantes menggunakan teknik metafiksi yang sangat modern untuk zamannya. Di tengah cerita utama, tokoh-tokoh lain membacakan atau menceritakan novel-novel lain yang mereka temukan. Pembaca seolah diajak membaca “novel di dalam novel”. Teknik ini bukan sekadar trik naratif, melainkan kritik halus Cervantes terhadap genre novel ksatria yang sedang populer saat itu—genre yang dianggapnya terlalu berlebihan, penuh khayalan, dan berbahaya jika dibaca tanpa pikiran kritis.
Secara keseluruhan, Don Quijote (Jilid Satu) adalah perpaduan sempurna antara komedi, tragedi, dan refleksi filosofis. Di balik tawa atas kegilaan sang ksatria, Cervantes mengajak kita bertanya: Sejauh mana buku-buku yang kita baca membentuk cara kita melihat dunia? Apakah kita, seperti Don Quijote, kadang terjebak pada ilusi yang kita ciptakan sendiri? Pertanyaan ini sangat relevan sampai hari ini, di era media sosial dan konten digital yang semakin mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan.
Bagi saya pribadi, membaca novel ini setelah menantikannya selama bertahun-tahun adalah pengalaman yang berkesan. Meski tebal dan penuh detail, setiap halamannya penuh kejutan dan memantik pikiran untuk memaknainya. Don Quijote mengajarkan bahwa menjadi “gila” karena mimpi terkadang lebih mulia daripada hidup tanpa mimpi sama sekali. Namun, Sancho Panza mengingatkan kita untuk tetap berpijak di bumi. Dua sisi ini, yang saling melengkapi, membuat novel ini terasa abadi.
Don Quijote dari La Mancha (Jilid Satu) bukan hanya cerita tentang seorang ksatria yang salah paham dengan kincir angin. Ia adalah cermin bagi setiap pembaca yang pernah terbawa imajinasi, terpesona oleh buku, dan berusaha menjadikan dunia lebih indah—meski dunia itu sendiri sering jauh dari kenyataan. Jilid pertama ini baru permulaan dari perjalanan panjang yang akan terus menggelitik, menghibur, dan membuat kita merenung sampai halaman terakhir jilid kedua.
_________________
Novel Don Quijote dari La Mancha (Jilid Satu) karya Miguel de Cervantes Saavedra bisa dibeli di sini:

