Bermain PES untuk Membuat Semesta Baru

  • January 02, 2020
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: Konami.com

Ketika saya masih kuliah dan menjadi anak kos, saya sering mengajak beberapa teman untuk main ke kamar kos saya. Ukurannya tidak besar memang, hanya sekitar 4x4 meter. Di sana, kami suka mengobrol, bercanda, menonton film, atau bermain gim Pro Evolution Soccer (selanjutnya disingkat PES) di laptop saya. Dan, bermain PES itulah yang ternyata menjadi jadwal rutin kami untuk mengusir segala kejenuhan selepas belajar di kelas.

Setiap bermain gim tersebut, kami sering mengadakan kompetisi supaya bisa adil dalam memainkannya. Jadi, misalnya ada enam orang yang ikut serta, berarti bisa ditentukan dengan pertandingan satu lawan satu dan akan ketahuan siapa yang berhasil bertahan supaya masuk ke babak final. Cukup seru dan mengobarkan emosi ketika pemain di klub atau negara yang kami pilih mencetak gol dan akhirnya memenangkan kompetisi tersebut.

Dengan bermain simulasi sepak bola seperti itu, saya seakan-akan menjadi pemain sekaligus pelatih yang memilih strategi di dalam permainan. Saya juga merasa bahwa PES membuat kami bisa menggantikan permainan sepak bola asli yang saat itu sulit untuk dilaksanakan setiap Senin sampai Jumat. Alasannya karena terbatasnya waktu yang kami miliki dan susah juga untuk mengumpulkan orang yang ingin berpartisipasi. Dengan demikian, PES adalah cara kami menyalurkan hasrat bermain sepak bola. Biarkan permainan sebelas orang itu digantikan dengan sepuluh jari kami menggunakan joystick untuk mengendalikan kesebelasan yang kami pilih.

***

Dalam kumpulan esai yang ditulis Zen RS tentang sepak bola di bukunya yang berjudul Simulakra Sepakbola, ia berpendapat bahwa:

“Ketika tayangan sepakbola menggantikan sepak bola per se yang dimainkan di stadion, ini sama seperti (mengutip Baudrillad kembali) ketika pornografi menjadi lebih sensual ketimbang seks itu sendiri. Itu semua terjadi, bagi Baudrillard, karena berlangsungnya praktik simulasi: proses yang membuat representasi (gambaran) atas tanda-tanda realitas justru menggantikan realitasnya itu sendiri: pornografi bisa sangat menggoda untuk dinikmati ketimbang seks itu sendiri, tayangan sepak bola lebih menggairahkan ketimbang bermain sepakbola langsung di lapangan.”

Jika di esai tersebut membahas tentang tayangan sepak bola, tak ada salahnya jika diganti dengan gim sepak bola yang dibuat oleh para kreator secara detail sehingga bisa membuat orang-orang merasakan visual dan sensasi yang lebih mendalam daripada bermain sepak bola itu sendiri. Selain itu, melalui gim PES, saya bisa membuat semesta atau realitas baru dari klub sepak bola atau timnas dari dunia nyata untuk saya kendalikan sesuai dengan keinginan saya. Bisa saja Derby County yang saat ini berlaga di Divisi Championship bisa melawan Real Madrid di ajang Champions League. Atau, Timnas Indonesia bisa bertanding melawan Timnas Brasil di PES, lalu Indonesia memenangkan pertandingan tersebut karena saya memilih level amatir untuk melawan Brasil. Padahal jika melihat keadaan nyata, boro-boro melawan Brasil, melawan Vietnam saja Indonesia masih sering kalah. Dari kenyataan itulah, saya berpendapat bahwa gim sepak bola lebih seru daripada memainkan sepak bola secara langsung.

***

Sejak 2003, saya mendukung Manchester United sebagai klub sepak bola kebanggaan. Beragam kompetisi sudah mereka menangkan, mulai dari Premier League, FA Cup, English League Cup, sampai Champions League. Tapi sayangnya, setelah Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United menjadi tersendat-sendat untuk bersaing dengan klub-klub papan atas. Bahkan, sejak musim 2013/2014 sampai sekarang, Manchester United belum pernah memenangkan Premier League lagi. Cukup sedih melihat kenyataan tersebut. Lalu, untuk mengobatinya, saya melampiaskannya dengan bermain PES. Ya, saya kasihan melihat klub kebanggaan saya sulit meraih kejayaannya kembali di level domestik, jadi saya membuat semesta baru sesuai dengan keinginan saya sendiri.

Dengan memilih mode Master League di PES, saya bisa mengatur sendiri keadaan klub sepak bola yang saya pilih. Mulai dari masalah finansial, penjualan pemain, pembelian pemain, dan kerjasama dengan sponsor, karena saya berperan sebagai manajer klub.

Jika di musim 2019/2020 ini, Manchester United dari dunia nyata hanya sedikit membeli pemain berbakat, saya pun dengan keputusan sendiri di Master League bisa membeli Paulo Dybala dari Juventus sebagai penyerang dan James Maddison dari Leicester City untuk mengisi posisi tengah. Tanpa harus menunggu birokrasi yang berbelit-belit, tinggal membaca ketentuan untuk transfer atau menjual pemain, lalu menekan tombol di joystick, kesepakatan antarpemain pun bisa dilaksanakan di PES.

Untuk memainkan gim di Master League, saya memilih lawan dengan level superstar supaya bisa lebih menantang ketika bertanding. Kalah dan menang adalah hal biasa ketika saya sudah berusaha secara maksimal, tapi selama saya bisa menentukan kondisi klub seperti yang saya inginkan di semesta yang dibuat sendiri, saya pun merasa senang.

***

Sekarang saya dan teman-teman kuliah—yang dulu suka berkumpul—sudah lulus, sehingga kami sangat jarang bertemu. Saya pun juga bukan anak kos lagi. Meskipun demikian, PES masih tetap saya mainkan di kamar pribadi saya. Ya, sejak 2012 sampai sekarang, saya masih belum bosan memainkan gim tersebut. Karena selain saya menyukai tayangan sepak bola, saya bisa melampiaskan ketidakpuasan terhadap klub yang saya dukung dengan membalasnya di PES.

Untuk mode Master League, saya sudah berulang-ulang memainkannya lebih dari sepuluh kali sampai saat ini. Karena ketika klub yang saya pilih sudah meraih piala di semua kompetisi dan sudah merasa puas, saya akan mengulang lagi dari awal. Bahkan, ketika saya bosan memilih Manchester United karena sering menang di Master League, saya pernah beralih ke Derby County atau klub "kecil" lainnya dari Inggris sebagai pilihan selanjutnya. Alasannya, supaya saya mendapatkan tantangan baru untuk membuat klub divisi Championship tersebut bisa berkompetisi di Premier League. Begitu terus, sampai saya bosan lagi dan akhirnya memilih klub lain lagi (kecuali klub-klub dari rival Manchester United di Premier League) atau tetap menggunakan Manchester United.

You Might Also Like

0 comments