Mendekonstruksi Figur Ayah, Ibu, dan Iman

(Sumber gambar: goodreads.com)

Sebagian dari kita pasti berpikir bahwa sastra kontemporer Indonesia biasanya menempatkan institusi keluarga dan narasi religius di atas altar yang suci, steril, dan tak tersentuh. Ayah adalah pelindung, ibu adalah muara kasih sayang, dan iman adalah kompas moral yang absolut. Namun, di tangan A.S. Laksana melalui kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara, altar tersebut dihancurkan berkeping-keping. Lewat gaya bercerita yang liar, surealis, dan penuh dengan komedi gelap, ia mengajak pembaca bertualang ke dunia di mana batas antara yang sakral dan profan, yang tragis dan menggelikan, menjadi abu-abu.

Secara garis besar, Bidadari yang Mengembara adalah kisah-kisah yang memiliki tema psikologis dan teologis sambil merayakan kekacauan. A.S. Laksana menolak menjadi "anak manis" dalam lanskap sastra konvensional. Ia memilih menjadi anak bebal yang dengan sengaja menumpahkan tinta di atas kanvas norma sosial.

Eksorsisme Figur Ayah

Salah satu benang merah dalam kumpulan cerpen ini adalah obsesi sekaligus kebencian mendalam terhadap figur ayah. Hubungan ayah-anak dalam dunia A.S. Laksana tidak pernah selesai; ia adalah ruang trauma yang terus-menerus digali dan dieksplorasi secara brutal.

Pada cerpen pembuka, "Menggambar Ayah", A.S. Laksana secara ekstrem mendefinisikan absennya sang ayah dengan menggambar sebatang penis di dinding kamarnya. Sosok ayah direduksi menjadi alat reproduksi, sebuah entitas yang membuang sperma lalu menghilang ke dalam kegelapan. Relasi traumatis ini mencapai puncak kegilaannya dalam "Peristiwa Pagi Hari", ketika tokoh Alit melakukan onani bukan demi kepuasan seksual yang biasanya dilakukan anak remaja, melainkan sambil mengimajinasikan kematian segera datang menjemput ayahnya. Seksualitas berkolaborasi dengan dendam eksistensial.

Kebencian ini tidak muncul dari ruang hampa. Melalui "Rumah Unggas", kita melihat kontradiksi psikologis yang dialami tokoh-tokohnya: ada memori masa kecil yang manis tentang ayah, tapi ingatan itu segera tenggelam oleh kenyataan bahwa sang ayah adalah penindas. Balas dendam terbaik (atau barangkali paling sadis) digambarkan ketika tokoh Seto mencekoki ayahnya dengan air dari ceruk kakus. Melalui narasi-narasi ini, A.S. Laksana seperti sedang melakukan ritual "eksorsisme" terhadap otoritas patriarki. Ayah harus dihancurkan, dihina, dan dimatikan di dalam teks agar sang anak bisa mendefinisikan dirinya sendiri.

Ibu: Antara Lorong yang Tercemar dan Kamar Domestik

Jika figur ayah adalah musuh yang harus dilawan, figur ibu di tangan A.S. Laksana tampil lebih ambivalen; berada di antara objek sakralisasi yang dirindukan dan subjek visualisasi yang mengerikan.

A.S. Laksana menjungkirbalikkan mitos kesucian rahim ibu dalam cerpen "Seorang Ibu yang Menunggu". Pertanyaan biologis yang lugu berubah menjadi adegan surealis yang memualkan ketika seorang anak menyingkap kain ibunya dan meneliti organ intim tersebut menggunakan kaca pembesar. Ibu bukan lagi sekadar lambang kehangatan, tetapi sebuah misteri anatomi dan eksistensial yang membingungkan. Lebih jauh lagi, dalam "Cerita Tentang Ibu Yang Dikerat", A.S. Laksana membawa kita masuk ke dalam labirin psikosis, di mana kematian tragis seorang ibu disikapi dengan kepasrahan yang ganjil dan dingin.

Menariknya, A.S. Laksana menyisakan ruang kecil bagi kewarasan domestik dalam "Telepon dari Ibu". Cerpen ini berdiri seperti anomali di dalam buku; sebuah cerita yang "santun" dan manis tentang kerinduan ibu dan anak perempuannya yang hamil tanpa restu. Namun, kehadiran cerpen yang konvensional ini justru mempertegas fungsi cerpen-cerpen lainnya: bahwa kedamaian domestik itu hanyalah jeda singkat dari kenyataan hidup yang sebetulnya absurd dan penuh kekerasan, seperti yang digambarkan dalam "Buldoser", ketika takdir manusia hancur digilas kuasa tanpa ada intervensi dari Tuhan.

Menghujat yang Suci, Menggoreng yang Ilahi

Keberanian terbesar A.S. Laksana dalam buku ini terletak pada kelincahannya mengacak-acak teks-teks suci dan referensi budaya. Ia mengutip kitab suci, kisah pembelahan Laut Merah, Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, hingga Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, bukan untuk membangun khotbah moral, melainkan untuk menjadikannya bahan bakar bagi cerita-ceritanya yang profan.

Dalam "Seekor Ular dalam Kepala", narasi kejatuhan manusia akibat godaan iblis di taman eden direplikasi ke dalam urusan domestik: perselingkuhan seorang perempuan urban yang diawali oleh ular kecil yang menyelinap ke telinganya. A.S. Laksana mendenaturalisasi mukjizat dan mitos. Baginya, teks suci dan sejarah tidak berada di ruang hampa yang steril; mereka bisa ditarik ke bumi, "digoreng", dan disandingkan dengan realitas anak jalanan yang mengisap lem dalam "Burung di Langit dan Sekaleng Lem".

Dunia A.S. Laksana adalah dunia pascamodern yang kolaseistik. Ia tidak peduli apakah pembaca akan merasa tersinggung atau mual. Melalui cerpen monumental "Bidadari Yang Mengembara", ia secara sadar menyajikan struktur naratif yang melingkar, melompat seenaknya, dan tidak linier. Seperti ucapan tokoh bangau dalam cerpen tersebut, A.S. Laksana tidak peduli apakah kita paham atau tidak pada pembacaan pertama; ia melempar teksnya ke dunia dan membiarkan pembaca membuat tafsirnya sendiri di tengah pusingnya menaiki roller coaster narasinya.

***

A.S. Laksana berhasil menciptakan sebuah "estetika ketidaknyamanan" dalam buku Bidadari yang Mengembara. Sebab, Ini bukanlah buku yang ditulis sebagai penenang jiwa yang gundah atau memberikan petuah moral di hari Jumat. Ia menggunakan bahasa yang lugas, kadang kasar dan vulgar, tetapi dijahit dengan keindahan metafora yang presisi dan magis, seperti dalam "Seto Menjadi Kupu-Kupu" yang memadukan keindahan transformasi dengan kebrutalan acak (adegan memenggal kepala orong-orong).

Melalui kumpulan cerpen ini, A.S. Laksana membuktikan bahwa sastra tidak harus selalu berfungsi sebagai cermin yang mempercantik realitas. Sastra bisa menjadi cermin retak yang menunjukkan wajah kita yang paling bopeng, trauma kita yang paling dalam terhadap orang tua, dan skeptisisme kita terhadap langit. Selain itu, buku ini adalah sebuah dunia ajaib di mana kita dipaksa untuk muntah, bersedih, lalu tertawa terbahak-bahak pada saat bersamaan.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.