(Sumber gambar: goodreads.com)
Ada jenis buku yang membuat kita kepikiran setelah membacanya, dan justru di situlah letak kekuatannya. Kuda Terbang Maria Pinto, kumpulan 12 cerpen karya Linda Christanty yang terbit pertama kali pada 2004, adalah salah satu buku semacam itu. Ia tidak memberikan penutup yang rapi atau dengan pesan moral. Yang ditinggalkannya justru semacam hal-hal yang enggan pergi lama dari otak setelah halaman terakhir ditutup. Dan barangkali memang begitu cara kerja sastra yang serius: ia tidak selalu berniat menenangkan pembacanya.
Realisme Magis
Hal pertama yang menarik perhatian dari kumpulan ini adalah keberanian Linda menghadirkan unsur-unsur yang sepenuhnya berada di luar nalar keseharian. Dalam cerpen pembuka yang menjadi judul buku, serta dalam "Qirzar", kita bertemu kuda yang bisa terbang, tubuh telanjang yang transparan hingga jantung dan paru-parunya terlihat, madu bunga yang mampu menghapus ingatan, dan manusia bersayap. Tidak ada satu pun dari hal-hal itu yang bisa kita temui di dunia nyata, dan justru karena itu pembaca dipaksa bekerja lebih keras untuk membayangkannya. Saya sendiri harus mengulang beberapa kalimat agar tidak kehilangan jejak dari citra-citra yang digambarkan itu.
Namun keanehan ini bukan hanya hiasan atau permainan imajinasi belaka. Ia adalah kendaraan. Realisme magis dalam sastra, sebagaimana sering kita jumpai dalam tradisi Amerika Latin, biasanya muncul justru ketika kenyataan historis terlalu berat, terlalu traumatis, atau terlalu berbahaya untuk diceritakan secara eksplisit. Metafora menjadi tempat berlindung sekaligus tempat menyampaikan sesuatu yang tak bisa disampaikan secara langsung. Linda tampaknya sangat memahami logika ini, dan itulah sebabnya buku ini terasa lebih dari sekadar cerita dongeng: di baliknya ada tema sejarah yang berat, yang justru membutuhkan fantasi agar bisa diekspresikan.
Sejarah yang Disamarkan
Di balik unsur-unsur ajaib itu, Linda menyelipkan peristiwa-peristiwa konkret: pembasmian orang-orang komunis pasca-1965 dan insiden Timor Timur. Dalam "Makan Malam", misalnya, ada tokoh ayah yang disebut "tengah melawat ke luar negeri menjelang keributan besar". Baru belakangan pembaca bisa menafsirkan bahwa "luar negeri" itu adalah Moskwa dan "keributan besar" adalah kudeta 1965. Dengan menghubungkan titik-titik yang sengaja disebarkan itu, kita paham: sang ayah adalah korban dari pembasmian orang-orang yang dituduh komunis pada awal Orde Baru.
Cara bercerita semacam ini (menyembunyikan informasi penting di balik eufemisme dan detail yang tampak remeh) bukanlah kelemahan naratif, melainkan strategi. Dalam "Pesta Terakhir", ada tokoh juru catat yang hidup mewah dari uang rezim setelah mengkhianati sahabat-sahabatnya sendiri, salah satunya bernama Mursid. Kita menduga Mursid adalah korban penumpasan PKI dari kalimat bahwa ia "tak punya mata pencaharian tetap selama puluhan tahun" setelah keluar dari sel. Baru di akhir cerita kita sadar, "tak punya" di sana sebenarnya berarti "tak akan mungkin bisa"; sebuah vonis sosial permanen yang dijatuhkan tanpa pengadilan.
Sementara itu, "Kuda Terbang Maria Pinto" dan "Joao" membawa kita ke Timor Leste, mengisahkan gerakan diam-diam melawan militer. Pada "Danau" menggemakan hal serupa lewat sosok-sosok pemuda yang melawan seseorang yang mengenakan "seragam" dan "lars sepatu"; simbol-simbol kekuasaan militer yang tak perlu dijelaskan lebih jauh karena setiap pembaca Indonesia yang hidup atau tumbuh dalam bayang-bayang Orde Baru akan segera mengenalinya.
Cara Linda menulis dengan begitu samar dan kadang tidak rasional bukan tanpa alasan. Ia lahir dari kebiasaan panjang para pengarang Indonesia yang harus menghindari sensor. Perlu diingat, cerpen-cerpen dalam buku ini sebagian besar ditulis sekitar tahun 2001–2004, tidak lama setelah runtuhnya Orde Baru; kecuali "Rumput Liar" (dimuat di Media Indonesia, 1993) dan "Perang" (1994), yang justru ditulis pada masa rezim itu masih berkuasa. Mengetahui konteks kelahiran cerpen-cerpen ini membuat pilihan gaya bercerita secara samar itu terasa lebih masuk akal.
Sastra sebagai Media untuk Bersuara
Yang penting untuk ditegaskan, dan ini yang membuat Kuda Terbang Maria Pinto tidak dianggap sebagai propaganda dalam bentuk lain: Linda tidak memosisikan diri sebagai juru bicara kelompok tertentu, dan jelas bukan pula juru bicara negara. Sastra di sini berfungsi untuk memperlihatkan realitas secara implisit, bukan untuk membuktikan atau menuliskan ulang sejarah. Cerpen-cerpen yang ditulis Linda pun menampilkan dunia dari sudut pandangnya sendiri sebagai pengarang dan tidak merepresentasikan suatu golongan.
Sebagaimana kita tidak membaca Budi Darma karena alasan nasionalisme Indonesia, imajinasi Linda (meski bersumber dari materi-materi nasional seperti sejarah 1965 dan Timor Timur) tidak menjadikan nasionalisme sebagai unsur utamanya. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mengolah kegelisahan personal menjadi bentuk fiksi yang jujur, termasuk ketika ia menulis kegelisahan seorang waria dalam "Balada Hari Hujan".
Para penulis seperti Linda, atau Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata, memang tidak dituntut menjadi juru bicara orang-orang tertindas dan terkucil. Namun dalam masyarakat sipil yang lemah seperti Indonesia di masa Orde Baru, peran semacam itu (sadar atau tidak) menjadi penting justru karena ketiadaan saluran lain untuk berbicara. Fiksi menjadi salah satu ruang tersisa untuk menyampaikan apa yang tidak bisa disampaikan secara terbuka: insiden Timor Timur, pembantaian orang-orang yang dianggap komunis, dan berbagai kekejaman yang dibungkam atas nama stabilitas dan pembangunan negara.
***
Kuda Terbang Maria Pinto, pada akhirnya, adalah cara Linda Christanty menunaikan satu tanggung jawab yang barangkali dirasakannya sebagai penulis: tidak mendiamkan kekejaman apa pun atas nama apa pun. Dan ia pun memilih bicara lewat kuda yang terbang, tubuh yang transparan, dan madu yang menghapus ingatan; simbol-simbol yang, alih-alih menjauhkan kita dari kenyataan, justru mendekatkan kita pada kenyataan yang selama ini disembunyikan.
_________________
Buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty bisa dibeli di sini:

