(Sumber gambar: goodreads.com)
Mengapa sejarah berjalan seperti yang kita ketahui hari ini? Mengapa peradaban bangsa Eropa yang menjelajah dan menaklukkan benua Amerika, dan bukan suku Inca atau Aztec yang melintasi Samudra Atlantik untuk menguasai Eropa?
Pertanyaan ini sering dijawab dengan narasi yang tidak berdasar (atau bahkan pandangan rasis terselubung) seolah-olah ada kelompok masyarakat tertentu yang secara biologis lebih cerdas dan berbudaya dibandingkan yang lain. Namun, lewat buku berjudul Guns, Germs, and Steel, Jared Diamond mematahkan mitos tersebut. Ia menunjukkan bahwa ketimpangan dunia disebabkan oleh faktor lingkungan dan geografis, bukan perbedaan kemampuan otak.
Pertanyaan Dasar: Mengapa Kamu dan Bukan Kami?
Analisis Diamond berawal dari sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan Yali, seorang politisi dari Papua Nugini. Yali bertanya:
“Why is it that you white people developed so much cargo and brought it to New Guinea, but we black people had little cargo of our own?”
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mundur 13.000 tahun ke belakang, ke masa ketika seluruh populasi manusia di bumi masih hidup dengan cara yang sama: sebagai masyarakat pemburu dan pengumpul (hunter-gatherers). Ketika manusia menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia (menuju Benua Eropa, Asia, Australia, bahkan Amerika), semua berada di garis start yang relatif sama. Lantas, mengapa garis finish-nya jadi sangat berbeda?
Tiga Perbedaan: Makanan, Hewan, dan Mikroba
Jared Diamond membedah faktor keberhasilan suatu peradaban ke dalam tiga elemen utama:
1. Pertanian dan Surplus Makanan
Pola hidup manusia sebagai pemburu-pengumpul adalah cara hidup yang melelahkan dan membatasi pergerakan. Ketika sistem pertanian secara tidak sengaja ditemukan, ini menjadi titik balik terbesar dalam sejarah manusia.
Dengan bercocok tanam, manusia mulai hidup menetap (sedentary). Produksi pangan yang melimpah pun menghasilkan surplus makanan, artinya tidak semua orang harus menjadi petani. Dari surplus inilah lahir spesialisasi pekerjaan: seniman, teknisi, tentara, hingga politisi. Struktur masyarakat yang kompleks ini memungkinkan lahirnya teknologi pertahanan, senjata, dan sistem pemerintahan.
2. "Lotre" Domestikasi Hewan
Pertanian saja tidak cukup tanpa keberadaan hewan ternak. Namun, tidak semua hewan liar bisa dijinakkan. Hewan yang bisa didomestikasi harus memenuhi syarat tertentu: mudah ditempatkan di mana saja, bisa dikawinkan dalam penangkaran, dan memiliki struktur sosial hierarkis.
Kawasan Eurasia memenangkan "lotre" geografis ini karena adanya kuda, sapi, dan babi. Hewan-hewan ini dapat membantu membajak tanah, menyediakan pupuk alami, menjadi alat transportasi, dan memberikan asupan protein yang melimpah.
3. Senjata Biologis (Germs)
Efek samping dari hidup berdampingan dengan hewan ternak adalah timbulnya penyakit menular. Penyakit seperti cacar (smallpox) berawal dari mikroba hewan yang bermutasi ke manusia.
Selama berabad-abad, masyarakat Eurasia yang terpapar penyakit ini mengalami seleksi alam dan membangun imunitas kelompok. Tanpa disadari, tubuh mereka menyimpan senjata biologis paling mematikan bagi masyarakat luar yang belum pernah terpapar.
Konflik di Cajamarca
Perpaduan ketiga faktor ini terlihat jelas dalam konflik bersejarah antara penjelajah Spanyol, Francisco Pizarro, dan Kaisar Inca terakhir, Atahualpa. Meskipun pasukan Inca unggul dalam jumlah, segelintir pasukan Spanyol yang malah berhasil menjajah mereka.
Keunggulan Spanyol meliputi:
1. Senjata dan Baja: Mereka mampu mengembangkan alat-alat perang canggih akibat revolusi pertanian yang memungkinkan setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing.
2. Tulisan: Akses informasi dan literasi yang mampu dimanfaatkan sebagai strategi perang atau bahan evaluasi dari ekspedisi-ekspedisi sebelumnya.
3. Kuman: Sebagian besar masyarakat Inca meninggal akibat wabah cacar, bahkan sebelum pertempuran dengan Spanyol dimulai. Sebab, masyarakat Inca tak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari luar populasi mereka.
Letak Benua dan Perpecahan Politik
Mengapa teknologi dan budaya berkembang lebih cepat di Eurasia dibandingkan benua lain? Diamond menjelaskan hal ini lewat dua konsep geografi:
1. Orientasi Benua
Benua Eurasia terhampar dari timur ke barat. Artinya, sebagian besar wilayahnya berada di garis lintang dan zona iklim yang sama. Tanaman yang bisa dikonsumsi, hewan ternak, dan teknologi pun mampu menyebar secara cepat dari satu ujung ke ujung lainnya tanpa harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem.
Sebaliknya, Benua Amerika dan Afrika memiliki bentang utara ke selatan. Perubahan iklim yang drastis dari tropis ke sedang menghambat penyebaran pertanian dan teknologi.
2. Struktur Politik
Letak geografis juga menentukan struktur politik. Tiongkok, dengan daratan luas yang relatif menyatu, dengan mudah terintegrasi di bawah satu kekaisaran terpusat. Dengan begitu, ketika penguasa Tiongkok melarang masyarakatnya untuk melakukan penjelajahan dengan kapal laut, seluruh wilayah pun harus mematuhinya.
Sebaliknya, wilayah-wilayah di Eropa dipisahkan oleh pegunungan dan semenanjung, sehingga menciptakan kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing (Spanyol, Prancis, Portugal, dan Italia). Ketika Christopher Columbus ditolak oleh penguasa Italia, Prancis, dan Portugal, ia masih memiliki opsi untuk mengajukan idenya kepada Raja dan Ratu Spanyol. Persaingan antarkerajaan dan penguasa di Eropa justru memicu inovasi dan ekspansi global.
***
Itulah sedikit pembahasan yang diuraikan dari Guns, Germs, and Steel, yang mampu mengubah cara kita memandang sejarah. Sebab, negara-negara yang dianggap maju di dunia modern ternyata bukan hasil dari perbedaan tingkat kecerdasan atau perilaku moral, melainkan konsekuensi dari kondisi dan letak geografis di mana peradaban tersebut tumbuh.
Dengan memahami bahwa "garis start" setiap negara berbeda-beda akibat faktor geografis, kita pun dapat melihat dinamika kekuatan global dan ketimpangan sosial-ekonomi saat ini secara lebih objektif, ilmiah, dan empati.

