Alkimia, Sains, dan Batas Pengetahuan Manusia

Manga Fullmetal Alchemist.
(Sumber gambar: uk.pinterest.com)

Manga sering dihubungkan sebagai bacaan eksklusif anak-anak dan remaja. Namun, sejak pertengahan dekade 1990-an, format hiburan asal Jepang ini merambah jauh melampaui batas demografis maupun geografisnya. Pembaca dewasa di berbagai penjuru dunia mulai menemukannya; dan bersamaan dengan itu, genre serta tema yang diangkat pun semakin beragam, kompleks, dan ambisius.

Fullmetal Alchemist (selanjutnya FMA) karya Hiromu Arakawa adalah salah satu puncak dari evolusi tersebut. Alih-alih menampilkan estetika Jepang yang lazim, Arakawa memilih pendekatan yang tidak biasa: ia membangun dunia fiksinya di atas fondasi sejarah Eropa abad pertengahan dan Renaisans, meramu referensi intelektual Barat dengan kecakapan bercerita khas manga.

Pertukaran Setara: Metafora Ilmu Pengetahuan

Dari kiri ke kanan: Winry Rockbell, Edward Elric, dan Alphonse Elric.
(Sumber gambar: uk.pinterest.com)

Di semesta FMA, ada disiplin ilmu bernama Alkimia, yaitu gabungan kimia dan biologi yang memungkinkan penggunanya merekayasa struktur suatu benda: menghancurkannya, lalu membentuknya kembali menjadi sesuatu yang baru. Prinsip utamanya dikenal sebagai Hukum Pertukaran Setara (The Law of Equivalent Exchange): untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus mengorbankan sesuatu yang bernilai setara.

Prinsip ini adalah analogi tajam untuk menggambarkan semangat ilmiah Eropa modern; keyakinan bahwa dunia ini mampu dipahami, diukur, dan dikendalikan secara akurat melalui metode yang tepat. Sebuah optimisme yang sekaligus menyimpan bahaya laten.

Transmutasi manusia yang dilakukan Edward dan Alphonse Elric, untuk menghidupkan ibu mereka kembali.
(Sumber gambar: reddit.com)

Edward dan Alphonse Elric, dua bersaudara ahli alkimia yang menjadi tokoh utama manga ini, menemukan bahaya tersebut dengan cara yang menyakitkan. Didorong rasa rindu mendalam kepada mendiang ibu mereka, mereka pun melakukan satu-satunya tabu alkimia yang tak boleh dilanggar: transmutasi manusia. Percobaan itu gagal. Edward kehilangan lengan kanan dan kaki kirinya, sedangkan Alphonse kehilangan seluruh tubuhnya. Pencarian keduanya untuk memulihkan apa yang hilang (melalui benda misterius bernama Philosopher's Stone) menjadi kisah utama FMA.

Saintisme dan Batas Etika

Sosok Shou Tucker beserta makhluk percobaannya.
(Sumber gambar: mangainsider.com)

Namun, FMA bukan hanya tentang petualangan dua bersaudara. Manga ini adalah perenungan panjang tentang apa yang terjadi ketika ilmu pengetahuan diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran. Fenomena ini dikenal sebagai saintisme; keyakinan bahwa metode ilmiah, khususnya ilmu alam, mampu menjawab seluruh pertanyaan manusia, termasuk yang berada di luar jangkauannya.

Arakawa menghadirkan konsekuensi saintisme ini melalui berbagai subplot. Kisah Shou Tucker, sang "Alkemis Manusia" yang melakukan eksperimen chimera terhadap putri kandungnya sendiri demi mempertahankan lisensi resmi dari negara, merupakan contoh bioetika yang gelap dan mengerikan. Bolehkah batas moral dilanggar demi kemajuan ilmu pengetahuan? Di tangan siapa kekuasaan ilmu pengetahuan harus berada?

Pertanyaan itu bergema lebih keras lagi dalam flashback perang Amestris melawan Ishval; sebuah genosida yang difasilitasi oleh para alkemis negara. Kisah ini mengangkat dilema klasik tentang independensi ilmuwan vis-à-vis kekuasaan: Apakah ilmu pengetahuan benar-benar bebas nilai, ataukah ia selalu berisiko menjadi alat legitimasi kekerasan?

Agama, Komunitas, dan Ruang yang Tersisa

Pendeta Cornello si pemuka agama yang menipu jemaatnya dengan kemampuan alkimianya.
(Sumber gambar: reddit.com)

FMA juga menyentuh dimensi yang lebih personal: peran agama dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi cepat. Melalui karakter seperti Scar (yang membenarkan balas dendam atas nama agama) dan Pendeta Cornello yang memanipulasi keyakinan jemaatnya, Arakawa menampilkan wajah agama yang rentan disalahgunakan. Namun, ia tidak mereduksinya menjadi antagonis sederhana. Pertanyaan yang lebih mendasar tetap menggantung: Di mana ruang yang tersisa bagi kepercayaan spiritual di dunia yang semakin didominasi nalar empiris?

Di sisi lain, yang membuat FMA bertahan sebagai karya legendaris adalah keberhasilan Arakawa menyeimbangkannya dengan jalan cerita yang mengalir. Humor pun sering muncul di saat yang tepat. Karakter-karakternya juga terasa hidup melalui kekurangan fisik yang mereka miliki, kompleksitas persaudaraan dan persahabatan, serta ideologi yang mereka anut. Contohnya saja seperti ketika Alphonse memungut anak kucing liar dan memasukkannya ke dalam armor kosongnya atau Edward yang emosinya akan meledak setiap kali orang menyinggung tubuh pendeknya

Relevansi di Era Kecerdasan Buatan

Hari ini, ketika kecerdasan buatan, biologi molekuler, dan rekayasa genetika mendominasi perbincangan ilmiah global, FMA terasa semakin relevan. Kita kembali berada di persimpangan yang sama dengan yang dihadapi tokoh-tokoh dalam manga ini: Sejauh mana ilmu pengetahuan boleh melangkah? Siapa yang berhak menetapkan batasnya? Dan apa yang kita korbankan ketika kita memilih untuk tidak kritis terhadap kemajuan teknologi tersebut?

Saya pun bersyukur bisa menyelesaikan manga FMA di tahun ini. Sebab, saya jadi bisa berpikir lebih jernih tentang hubungan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab; sebuah pertukaran setara yang, seperti ditunjukkan Edward Elric, tidak pernah bisa diabaikan.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.