Novel Breasts and Eggs (berjudul asli Natsu Monogatari), karya Mieko Kawakami yang dikembangkan dari novela peraih Penghargaan Akutagawa 2008, merupakan renungan filosofis yang membedah pengalaman menjadi perempuan hingga ke akar-akarnya. Melalui kisah yang terbagi dalam dua babak kehidupan, Kawakami menelanjangi ilusi tentang cinta tanpa syarat, mempertanyakan egoisme di balik keputusan memiliki anak, dan mengkritik tajam bagaimana kapitalisme serta politik mendikte tubuh perempuan.
Babak Pertama: Alienasi Tubuh dan Standar Kecantikan
Pada bagian pertama, kita dihadapkan pada realitas ketubuhan yang problematis melalui dua generasi: Makiko dan putrinya, Midoriko. Kunjungan mereka ke apartemen Natsuko di Tokyo membuka gerbang pada obsesi dan pemberontakan. Makiko (seorang ibu tunggal kelas pekerja dari Osaka) terobsesi untuk melakukan operasi pembesaran payudara. Di sisi lain, Midoriko yang sedang memasuki masa pubertas merespons obsesi ibunya (dan perubahan tubuhnya sendiri akibat menstruasi) dengan aksi mogok bicara.
Midoriko berkomunikasi melalui tulisan sebagai bentuk protes bisu terhadap absurditas menjadi seorang perempuan. Bagi Midoriko, terlahir dengan seperangkat organ reproduksi rasanya seperti memikul beban yang merepotkan. Ketegangan antara Makiko yang ingin memodifikasi tubuhnya demi mengejar standar estetika, dan Midoriko yang merasa terasing dari tubuhnya sendiri, menyoroti betapa peliknya perempuan dalam menghadapi identitas fisik mereka di tengah tekanan sosial dan kemiskinan struktural.
Babak Kedua: Kekosongan, Aseksualitas, dan Labirin Reproduksi
Melompat satu dekade kemudian, bagian kedua menggeser fokus sepenuhnya pada Natsuko. Ia kini telah meraih kesuksesan secara finansial dan kariernya sebagai penulis, jauh dari kemiskinan yang pernah mencekiknya di masa lalu. Namun, kesuksesan material itu diiringi oleh kekosongan batin yang membawanya pada satu keinginan tak terduga: ia ingin melahirkan seorang anak.
Di sinilah Kawakami menghadirkan kompleksitas dalam cerita. Natsuko adalah perempuan aseksual; ia tidak memiliki ketertarikan pada hubungan romantis apalagi gairah seksual, tetapi insting maternalnya menuntut untuk dipenuhi. Pencariannya akan Inseminasi Buatan oleh Donor (AID - Artificial Insemination by Donor) membawanya pada persimpangan dilema etis yang rumit. Perjalanannya membuktikan bahwa narasi tentang pengalaman perempuan tidaklah monolitik. Ada yang menginginkan anak, ada yang tidak, dan ada yang mendambakan peran ibu tanpa harus tunduk pada institusi pernikahan atau norma heteroseksual.
Metafora Hutan Gelap: Apakah Melahirkan adalah Keegoisan?
Salah satu pukulan emosional (dan filosofis) paling keras dalam novel ini datang dari karakter Yuriko, seseorang yang lahir dari donor sperma anonim. Ia mengekspresikan sebuah metafora:
"Bayangkan sebuah pondok di tengah hutan yang gelap. Di dalamnya, ada sepuluh anak yang sedang tertidur lelap. Jika kau membangunkan mereka, sembilan anak akan hidup dengan penuh sukacita, namun satu anak akan menanggung penderitaan tanpa akhir; dan kau mengetahui risiko ini sejak awal, tanpa tahu siapa yang akan menderita."
Bagi Yuriko, membawa kehidupan baru ke dunia ini persis seperti membangunkan anak-anak tersebut. Metafora ini memaksa kita menghadapi pertanyaan yang menggangu pikiran: Apakah keputusan memiliki anak pada dasarnya adalah murni keegoisan orang tua? Mengapa kita berasumsi bahwa mengambil risiko dengan menghadirkan makhluk baru di kehidupan itu selalu dapat dibenarkan? Sering kali, alasannya sekadar karena bukan kita (sebagai orang tua) yang akan menanggung risiko penderitaan eksistensial tersebut, melainkan sang anak.
Realitas Kelas Pekerja dan Absennya Narasi Patriarki
Kawakami piawai merajut kisah-kisah personal ini dengan kritik sosial yang lebih luas. Berlatar belakang Osaka dan Tokyo, novel ini secara implisit memotret kesenjangan pendapatan dan kemiskinan struktural di Jepang; sebuah negara yang sering dicitrakan makmur tanpa kekurangan. Makiko yang berjuang dengan pekerjaan pas-pasan, hingga Natsuko yang harus bekerja sejak kecil sampai ia akhirnya sukses menjadi seorang penulis, menunjukkan betapa kelas ekonomi membentuk realitas dan pilihan seseorang.
Menariknya, karakter laki-laki dalam novel ini ditampilkan secara minimal dan sering kali dalam keadaan yang tidak menguntungkan; entah sebagai pelaku kekerasan, manipulator, atau sosok yang merendahkan. Pilihan naratif ini sangat disengaja. Dengan menyingkirkan laki-laki dari pusat cerita, Kawakami memberikan otonomi penuh pada suara perempuan. Mereka merdeka dari belenggu narasi yang male-centric, sehingga menjadikan setiap konflik, pencarian jati diri, dan resolusi murni milik mereka sendiri.
***
Dapat disimpulkan, Breasts and Eggs adalah karya yang membedah bagaimana politik, ekonomi, dan kapitalisme mencoba mengontrol tubuh dan hak reproduksi perempuan, terutama di era ketika negara dan teknologi semakin jauh mencampuri ranah domestik. Natsuko, Makiko, Midoriko, dan Yuriko mewakili spektrum pandangan tentang cinta, seks, moralitas, dan keluarga.
Meski kita mungkin penasaran dengan kelanjutan nasib Midoriko di usia 20-an setelah segala gejolak batinnya di masa remaja, esensi dari novel ini pada dasarnya adalah "Cerita Natsu". Melalui sudut pandang Natsuko yang penuh empati, pembaca tidak hanya disuguhi kisah fiksi, melainkan didorong untuk mempertanyakan kewajiban tak kasat mata kita terhadap orang-orang terkasih, serta merenungkan kembali dari mana keputusan-keputusan "paling personal" kita sebenarnya berasal.
_________________
Novel Breasts and Eggs karya Mieko Kawakami bisa dibeli di sini:
- Buku fisik (versi bahasa Indonesia): Shopee
- Buku digital (versi bahasa Inggris): Amazon

