The Kite Runner


Di novel ini, tokoh utama yang bernama Amir mengalami masa kecil yang kurang mendapatkan perhatian dari ayahnya, sedangkan ibunya sudah meninggal setelah melahirkannya. Sebenarnya, ayahnya ingin ia menjadi lelaki yang kuat dengan bergabung di tim sepak bola atau olahraga lainnya yang mengandalkan fisik; tetapi karena Amir bukan tipe anak seperti itu, ia lebih suka bermain layangan dan menulis cerita. Karena sikap ayahnya yang cuek itu, ia mencoba untuk mendapatkan perhatiannya, salah satunya dengan memenangkan lomba adu layangan di daerah tempat tinggalnya.

Di sisi lain, Amir memiliki sahabat bernama Hassan—sekaligus menjadi pembantu di rumahnya—yang setia terhadapnya. Meskipun beberapa kali Amir merendahkan atau menjahili Hassan, Hassan tetap tak marah dan selalu bersikap baik kepadanya. Dengan perilaku Hassan yang demikian, ayah Amir pun menyukainya dan bahkan memberikan perhatian lebih kepadanya, sampai Amir cemburu.

Akan tetapi, suatu hari ketika Hassan sedang berlari untuk mengejar layangan, ia berhadapan dengan Assef dan dua temannya. Assef adalah salah satu penduduk di sana yang suka merundung orang lain. Akhirnya, karena Assef mengetahui bahwa Hassan adalah keturunan Hazara yang patut ditindas, ia pun melakukan hal tak senonoh kepadanya. Amir yang sedang mencari Hassan dan kemudian melihat hal tersebut di balik bangunan, malah tak berbuat apa-apa karena takut. Dari kejadian itu, Amir merasa bersalah sampai ia beranjak dewasa.

***

Membaca novel ini, saya jadi ikut merasakan perjalanan hidup Amir dan bagaimana ia mencoba menebus dosa masa lalunya kepada Hassan. Kemudian, karena ia dan ayahnya harus berimigrasi ke Amerika Serikat akibat perang terjadi di Afghanistan, mereka harus rela meninggalkan kemewahan yang sudah dibangun oleh ayahnya di sana. Selain itu, saya juga jadi mengetahui kondisi di Afghanistan sebelum dan sesudah peperangan. Sebab, ketika perang melanda dan setelah diduduki Taliban, Afghanistan menjadi negara yang carut-marut dan seakan tak memiliki masa depan. Masyarakat yang dulu bisa hidup tentram dan damai, sekarang harus hidup dipenuhi ketakutan dari ancaman bom atau perlakuan semena-mena Taliban.

You Might Also Like

0 comments