Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football

(Sumber gambar: goodreads.com)

Buku Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football karya David Winner sekilas tampak seperti buku sejarah olahraga yang merangkum perjalanan sepak bola Belanda dari tahun 1950-an hingga 2000. Namun, di balik sampulnya, buku ini memberikan sesuatu yang jauh lebih dalam karena mengeksplorasi mengapa orang Belanda bermain sepak bola dengan cara yang begitu khas secara filosofis, sosiologis, dan psikologis. Melalui filosofi Total Football dan sosok legendaris Johan Cruyff, Winner menunjukkan bahwa gaya bermain Tim Nasional Belanda sesungguhnya adalah cerminan dari karakter identitas bangsa mereka sendiri.

Tata kota Amsterdam dillihat dari atas.
(Sumber gambar: openculture.com)

Salah satu argumen paling menarik yang diajukan oleh Winner adalah bagaimana geografi dan tata kota memengaruhi sepak bola Belanda. Sebagai negara kecil yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut, rakyat Belanda memiliki obsesi historis dalam menciptakan, mengelola, dan memanfaatkan "ruang". Winner mengaitkan seni, arsitektur, dan tata kota Belanda dengan cara para pemain mereka mengeksploitasi lapangan hijau. Permainan mereka ibarat sedang membangun sebuah gedung yang sangat rapi, teratur, dan sistematis. Filosofi kesederhanaan dan sistem yang efisien ini menciptakan apa yang disebut sebagai Clockwork Oranje; sebuah mesin sepak bola yang bermain taktis, cepat, dan memukau, di mana menemukan solusi paling sederhana di tengah kerumitan adalah tujuan utamanya.

Namun, kejeniusan spasial ini beriringan dengan sisi neurotik atau kecemasan dari psikologi bangsa tersebut. Winner menelusuri bagaimana sejarah—khususnya trauma pengkhianatan di era Perang Dunia II yang melahirkan rivalitas penuh kebencian dengan Jerman—turut membentuk mentalitas mereka. Selain itu, Winner juga membongkar mitos bahwa masyarakat Belanda sepenuhnya terbuka dan toleran. Mengutip sosiolog Paul Schnabel, citra ramah dan terbuka tersebut sering kali hanyalah narasi kelas menengah atas dari era 1960-an dan 1970-an, yang menutupi realitas sifat keras orang Belanda pada umumnya.

Johan Cruyff pada final Piala Dunia 1974.
(Sumber gambar: artphotolimited.com)

Di lapangan hijau, paradoks psikologis ini termanifestasi pada obsesi mereka terhadap "kemenangan moral". Bagi masyarakat Belanda, kalah dengan permainan yang indah jauh lebih mulia daripada menang dengan cara yang membosankan dan pragmatis. Hal ini terlihat jelas ketika Timnas Belanda disambut bak pahlawan walau kalah di Final Piala Dunia 1974 dan 1978 karena mereka menampilkan sepak bola yang indah. Sebaliknya, saat klub Ajax memenangkan Piala Eropa 1973 dengan gaya bermain konservatif, mereka justru dicemooh karena dianggap membosankan dan "mengkhianati jiwa Belanda".

Obsesi pada kesempurnaan estetika dan moral ini sering berujung pada sabotase diri (self-destruction). Winner mencatat kecenderungan Timnas Belanda untuk hancur pada momen-momen krusial. Mereka sering terlalu fokus melihat jauh ke depan, sehingga tersandung oleh rintangan pertama yang ada di depan mata. Klaim atas kemenangan moral ini juga menjadi semacam tameng psikologis, terlihat dari keengganan mereka menghadapi adu penalti (di mana mereka memiliki rekor yang buruk).

Tendangan Nigel de Jong mengenai dada Xabi Alonso pada final Piala Dunia 2010.
(Sumber gambar: en.as.com)

Menariknya, pada edisi cetakan tahun 2012, Winner menambahkan analisis mengenai pergeseran paradigma yang terjadi pada Final Piala Dunia 2010 antara Belanda dan Spanyol. Di momen tersebut, Belanda secara mengejutkan meninggalkan keindahan Total Football dan beralih memainkan sepak bola yang kasar dan kotor. Ironisnya, generasi baru di Belanda tampaknya lebih bisa menerima taktik kotor tersebut demi sebuah kemenangan nyata, berbeda dengan generasi tua yang merasa ngeri dan kecewa melihat timnya bermain seperti itu. Puncak dari ironi ini tergambar dari komentar pedas Johan Cruyff seusai kekalahan 1-0 dari Spanyol. Cruyff menyebut bahwa malam itu, Spanyol justru bermain lebih "Belanda" daripada Belanda sendiri. Seperti yang diibaratkan oleh Winner, itu adalah momen ketika "Bapak Sepak Bola Belanda tidak lagi mengakui anak kandungnya."

***

Brilliant Orange adalah sebuah potret menakjubkan tentang bagaimana olahraga bisa menjadi lensa untuk membedah jiwa sebuah bangsa. Sepak bola bagi Belanda bukan sekadar permainan tentang mencetak gol, tetapi perpanjangan dari cara mereka memandang ruang, sejarah, seni, dan identitas moral. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami fenomena kompleks di balik keindahan dan ironi dari sepak bola Belanda.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.